“I was raised up believing I was somehow unique. Like a snowflake distinct among snowflakes. Unique in each way you can see. And now after some thinking, I’d say I’d rather be: A functioning cog in some great machinery; serving something beyond me.”

– Helplessness Blues, Fleet Foxes

Dalam salah satu esai pada buku Lokasi Tidak Ditemukan, Taufiq Rahman mendedahkan betapa para popstar dunia sedang terkena wabah narsistik. Esai itu dibuka dengan sebuah penelitian dari University of Kentucky yang menunjukkan bahwa lagu-lagu populer selama 3 dekade terakhir ini lebih banyak menggunakan kata I atau me dan penggunaan kata we atau us yang semakin menurun. Penelitian ini menekankan bahwa: lagu-lagu itu kebanyakan hanya bercerita mengenai satu manusia istimewa, yaitu penyanyi itu sendiri.

Taufiq menyebutkan manusia-manusia istimewa itu, mulai dari Justin Timberlake, BlackEyed Peas, Beyonce hingga Lady Gaga. Namun ia membuat semacam anti-tesis untuk menolak self-empowerment yang sering diagung-agungkan penyanyi tersebut. Anti-tesis itu adalah Fleet Foxes lewat salah satu lagunya, Helplessness Blues. Jika Taufiq sudah terlebih dahulu membahas lagu ini dengan tafsiran personalnya, maka saya pun hendak nimbrung menafsir Helplessness Blues.

Robin Pecknold boleh dikata nyinyir dalam lagu ini, seakan menampar wajah-wajah mereka yang terlanjut terjangkit wabah narsistik, dengan pesimisme-nya. Bayangkan, jika Lady Gaga, dalam lagu Born This Way, menganggap setiap orang terlahir menjadi superstar, maka Robin, setelah beberapa kali berpikir, menyimpulkan bahwa kita adalah: a functioning cog in some great machinery! Kita hanyalah gerigi dari mesin-mesin raksasa, yang hanya difungsikan untuk melayani sesuatu yang melampaui diri kita.

Renungan Robin tampak menyangkut isu kelas pekerja (terutama kelas menengah dan ke bawah). Seseorang dalam lagu ini merasa dirinya adalah gerigi dalam mesin-mesin raksasa, bak seorang buruh yang menghamba pada kapitalisme. Gerigi yang kecil itu, yang tak terlihat dan nampak tak berkilau nyatanya adalah penggerak mesin-mesin produksi. Tanpa mereka, mesin produksi tak akan berjalan, dan akan rubuh jika gerigi itu melepaskan diri. Tapi apa daya, sesuatu telah mengencangkan gerigi itu pada mesin, menjadikannya tak berdaya. Kita melayani mereka, menjual jiwa dan tenaga, demi sejumlah uang dan sejumlah rasa lelah yang tak ada habisanya. Dunia tengah dikuasai uang, Tuhan masih berusaha merebut gilirannya.

Menarik, dalam kondisi seperti ini ia tidak menggunakan kata “we” sebagai wujud kesamaan nasib dengan orang lain, melainkan “I”. Pesimisme itu ternyata hanya untuk dirinya sendiri.

Lirik-lirik berikutnya menjadi kian menyedihkan.
//What’s my name, what’s my station/ oh just tell me what I should do// 

Ketidakberdayaan itu membuatnya tak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, terkungkum dalam kepura-puraan semu dan hanya bisa melakukan apa yang orang lain perintahkan, patuh pada orang-orang yang mencoba menentukan jalan hidupnya.

Tapi setelah tersangkut pada benang-benang kebingungan yang membuatnya putus asa, ia pun mencoba menentukan hidupnya sendiri. Ia akan kembali pada dirinya kelak, entah kapan, saya tak tahu.
//I’ll come back to you someday soon, myself//, begitu katanya.

Bagi saya lagu ini adalah sebuah proses merenung, ia mencerna lalu memikirkannya, mendapatkan jalan keluar, mempertanyakan lagi dengan argumen di sana-sini hingga muncul pengharapan yang khas. Ketika kelas pekerja sudah muak bekerja di bawah sistem raksasa, akhirnya muncul sebuah pengharapan tentang hidup yang nyaman, tentang keinginan bekerja untuk dirinya sendiri.

//If I had an orchard, I’d work ’till I’m sore / and you would wait table and soon run the store//

Mungkin inilah yang ia anggap sebagai kembali pada dirinya sendiri. Jika saja ia memiliki kebun buah, ia akan mengolahnya, merawatnya hingga lelah dan buah itu akan dijual di toko yang ‘kau’ kelola. Kau yang entah siapa, mungkin temannya, mungkin pasangannya, entah. Ia membayangkan ketika dirinya dan orang lain dapat saling gotong-royong membangun pekerjaan mereka sendiri.

Sembil tertawa, ia pun menyudahi perenungan itu dengan sebuah sindiran bagi mereka yang terus menipu dirinya di layar kaca: Someday I’ll be like the man on the screen. Atau, jangan-jangan sindirian untuk dirinya sendiri?