Televisi dapat menjadi penanda waktu kapan bulan puasa dan lebaran akan tiba. Jika datangnya bulan puasa ditandai dengan semakin mendominasinya iklan sirup di layar televisi, maka lebaran pun punya ciri khas tersendiri. Yaitu penayangan kembalinya serial Warkop DKI. Trio Dono Kasino Indro seolah jadi santapan wajib lebaran selain ketupat dan sungkeman.

Tapi kali ini kita hanya membahas seorang paling multi talenta dari trio kebanggan DKI Jakarta ini. Dialah  Drs. Wahjoe Sarjono alias Dono, manusia serba bisa. Selain menjadi komedian, Dono adalah seorang fotografer, sosiolog, dosen di almamaternya, Universitas Indonesia, dan sekaligus asisten Selo Sumardjan, sutradara, dan karikaturis serta sering terlibat dalam aktivisme politik. Satu lagi yang mungkin tidak banyak diketahui, Dono juga seorang penulis.

Riwayat kepenulisannya termaktub dalam lima buku yang ditulis pada rentang tahun 1987 – 2001. Buku pertama yang ditulis Dono adalah sebuah kumpulan cerita humor berjudul Balada Paijo (1987).  Buku kedua adalah Cemara-Cemara Kampus (1988) yang merupakan novel pertama yang ia buat. Dalam buku ini terselip banyak kritik-kritik politik dan juga candaan khas Dono. Selanjutnya, Bila Satpam Bercinta (1991) masih dengan kisah aktivisme mahasiswa yang terjalin erat bersama dengan konflik kepentingan golongan, bisnis, dan keluarga. Dua Batang Ilalang (1999) barangkali adalah titik puncak kegeraman Dono terhadap politik Orde Baru. Dalam buku ini kritik yang ia lancarkan pada pemerintah kian kencang saat politk kala itu juga tengah mengalami masa puncak kegelapan. Setelah rezim Orde Baru bergulir Dono tak lagi menuliskan kisah aktivisme politik, mungkin suasananya sudah tidak sepanas dulu. Setelahnya, Dono memilih kembali ke jalan humor. Ia pun berencana menerbitkan seri novelet yang isinya tak lepas dari cerita-cerita humor, meski masih bisa ditemukan beberapa sentilan-sentilan politik di dalamnya. Tapi belum sempat novel itu terbit Dono sudah lebih dahulu menghembuskan nafas terakhir. Seri pertama, dan terakhir, dari novelet tersebut berjudul  Senggol Kiri Senggol Kanan (2009) yang diterbitkan delapan tahun setelah kematiannya.

Hal yang menjadi ciri utama karya-karya Dono adalah sisipan satir politik dan aktivisme mahasiswa. Itu karena begitu dekatnya ia dengan hal tersebut. Pada tahun 1998, ketika ia tengah menjadi dosen UI,  ia turut aktif dalam demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Ia tidak menjadi penggerak demonstran di jalanan melainkan menjadi sosok yang mengedarkan tulisan propaganda dan krtitik terhadap pemerintahan Orde Baru ditambah dengan gambar-gambar satir yang ia buat sendiri lewat koran mahasiswa. Selain itu, ia juga sering diminta mengisi kolom opini surat kabar di Solo, tempat kelahirannya.

Itu bukan kali pertama keterlibatannya pada aktivisme politik mahasiswa. Sebelumnya, bersama dengan anggota Warkop lainnya ia juga turut serta dalam aksi 1974. Peristiwa tersebut dikenal dengan Malapetaka 17 Januari atau Malari.

Pada tahun 1998 Dono pun ikut mendorong dan mengamankan mahasiswa yang tengah melakukan aksi dalam penggulingan kekuasaan itu. Budiarto Shambazy, seorang wartawan senior, bercerita bahwa Dono lah yang “menyiapkan TOR (term of references) untuk seminar-seminar, membuat jargon-jargon untuk spanduk-spanduk mengelu-elukan Reformasi, mengatur kunjungan ke DPR RI, mencarikan makanan untuk mahasiswa yang menduduki kompleks MPR, menyiasati demo-demo mahasiswa, dan lain sebagainya. Suatu kali ia bahkan memasang pengeras suara di mobilnya untuk sebuah demonstrasi.”

Kisah Dono mengingatkan saya pada aktivisme yang dilakukan Soe Hok-Gie, simbol pergerakan mahasiswa tahun 60an yang tak pernah lekang waktu itu. Jika Gie melawan dengan tulisan khas sosok intelektual, maka Dono memilih jalur lain. Lewat humor, Dono justru lebih banyak menggaet orang untuk memikirkan politik negeri sendiri, dan tidak hanya menyasar kelompok spesifik. Setuju? Jangan bohong, nanti saya laporkan ke Polisi lho!