Bagi seorang selebriti kehidupan di balik panggung bisa jadi jauh berbeda. Syuting yang panjang dan acara-acara yang tiada habisnya membuat seorang selebriti kadang harus menelan obat penenang agar bisa cepat tidur dan tampil prima setelahnya. Setidaknya begitulah alasan yang jamak dilontarkan selebriti saat terbukti positif mengonsumsi narkoba.

Baru-baru ini, Tora Sudiro dan istrinya diberitakan telah mengonsumsi dumolid yang dikenal sebagai anti depresan dan bisa mengatasi insomnia. Dumolid bukanlah jenis narkotika, namun ia digolongkan ke dalam jenis obat-obatan berbahaya. Sehingga dumolid tentu saja termasuk narkoba yang penggunaannya dilarang negara.

Namun apakah benar tuntutan pekerjaan yang membuat selebriti mengonsumsi narkoba?

Sebelum kasus Tora, Pretty Asmara dan beberapa rekannya diberitakan tetangkap saat mengadakan private party di sebuah ruang karaoke. Polisi menemukan narkoba jenis ganja, ekstasi, dan happy five. Dari keterangan rekannya, sebagai event organizer Pretty memang kerap kali mengundang temannya dari kalangan selebriti untuk pesta. Tak jarang pesta tersebut diadakan di klub malam. Daripada tuntutan pekerjaan, kasus Pretty lebih menggambarkan gaya hidup selebritis yang membuat mereka rentan terhadap narkoba.

Lalu bagaimana dengan kasus Tora?

Media online seperti Kumparan dan Tribunnews memuat keterangan tetangga Tora yang mengiyakan bahwa di rumah Tora sering diadakan pesta yang mengundang orang-orang dari luar kompleks perumahan. Walau belum ada bukti bahwa narkoba disuguhkan dalam pesta-pesta di rumah Tora, konsumsi dumolid bisa jadi karena konsumsi narkoba jenis lain yang menyebabkan insomnia, seperti shabu-shabu, ekstasi, dan heroin. Selain itu, perihal pesta di rumah Tora mengingatkan kita pada kasus Raffi Ahmad beberapa tahun lalu.

Pada 2013, tetangga Raffi yang merasa terganggu dengan pesta-pesta di rumahnya melapor pada polisi. Raffi yang tengah berpesta di rumahnya bersama belasan selebritis lainnya dan politisi Wanda Hamidah kemudian ditangkap oleh polisi.  Polisi menemukan ganja dan MDMA atau kapsul berisi sejenis ekstasi yang telah dihancurkan. Dari hasil tes urine, Raffi dan beberapa orang yang mengikuti pesta tersebut positif mengonsumi narkoba.

Narkoba yang sering ditemukan dalam pesta-pesta para selebritis menjelaskan bahwa godaan narkoba bagi selebriti banyak berasal dari lingkungan atau gaya hidupnya sendiri. Tuntutan pekerjaan bukan satu-satunya faktor, bahkan dalam kasus tertentu bisa jadi hanya alasan yang dibuat-dibuat. Karena pada kenyataannya banyak pekerjaan yang juga punya jam kerja panjang dan menuntut seseorang tampil prima, namun jarang membuat orang-orang dengan profesi tersebut mengonsumsi narkoba.

Dr. Drew Pinsky, yang terkenal sebagai dokter para selebritis di Amerika dengan rekam jejak terpercaya dalam menangani masalah selebriti atas narkoba, menjelaskan bahwa penggunaan narkoba oleh para selebritis bahkan bisa disebabkan oleh dorongan pribadi. Motivasi seseorang menjadi selebriti kadang karena kesukaannya merasakan sensasi bergairah saat di bawah lampu sorot atau tampil di depan layar. Menurut Pinsky, konsumsi narkoba bisa karena motivasi yang sama, yaitu merasakan sensasi bergairah dan bersemangat, mengingat banyak jenis narkoba memang mampu mengubah suasana hati dengan cepat.

Jika Pinsky meninjau dari aspek psikologis, Bagong Suyanto meninjau dari aspek sosial. Bagong, Dosen Sosiologi Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa tekanan sosial dapat menyebabkan selebriti mengonsumsi narkoba. Selebriti dalam kehidupannya seringkali teralienasi atau terasing dari lingkungan sosial. Tuntutan untuk menjadi populer, terlihat menonjol dan berbeda di tengah masyarakat, kadang membuat seorang selebriti merasa tertekan, baik ketika ia sedang di puncak popularitas atau ketika popularitasnya memudar. Bagong menyebutkan bahwa mengonsumsi narkoba dapat merupakan usaha selebriti untuk keluar dari tekanan sosial.

Namun entah karena tekanan sosial atau lainnya, adanya suplai dan kemudahan akses mendapatkan narkoba juga memiliki andil besar. Suplai dan kemudahan akses, seperti pada kasus Pretty yang ternyata kenal dekat dengan pengedar narkoba, menjadi faktor penarik yang terjalin berkelindan dengan faktor-faktor pendorong yang berbeda dan khas pada tiap individu selebriti. Kemampuan finansial yang lebih baik dari masyarakat biasa tentu membuat narkoba semakin setia menanti di balik panggung selebriti.