Ada poin baik dari berita yang memuat persidangan Ahok dan kampanye Pilgub DKI yang beberapa waktu lalu dijalankan tiga pasangan. Sebelum sampai pada poin tersebut, tentunya kita harus menyadari bahwa setiap hari di antara kita sudah terbiasa saling silang pendapat, melemparkan argumen-argumen untuk membalas tebasan dari pihak lawan. Dan hasilnya mudah saja ditebak, wajah-wajahorang merah sekaligus parasnya curiga penuh.

Pemerintah mengambil sikap, situasi ini tidak boleh berjalan terlalu lama di tengah masyarakat. Muasal perkara adalah berita hoax. Apalagi berita tersebut dapat tersebar secepat kilat ke seluruh penjuru yang dapat dijangkau kuat sinyal internet. Dari satu orang, kemudian berita tersebut menjadi bahan bincang dengan orang lain.

Saya sendiri merasa agak sinis, karena meletakkan berita atau informasi hoax menajdi penyebabnya merupakan suatu perkara yang rumit untuk mendapat penyelesaian. Bagaimana kita dapat membedakan mana informasi atau fakta yang benar?

Kalaupun ada yang dapat menjabarkan penjelasannya dengan rinci, orang tersebut sudah semestinya diberikan penghargaan akademis. Sebabnya, program-program yang berupaya mengenyahkan hoax sudah menjadi perdebatan panjang dari zaman dahulu kala.

Tetapi, dari fenomena absurd informasi ini, masyarakat menerima suatu pelajaran berharga bahwa ternyata tidak semua informasi itu benar. Ketika seorang wartawan, misalnya, melihat tubuh dari belakang saja, ada media yang menggambarkan pada bagian depan. Ada dari samping, bawah, bahkan dari balik lubang pohon dan sebagainya. Tubuhnya tetap diam, hanya saja deskripsinya berbeda tergantung dari sudut mana dia digambarkan.

Tergantung orangnya juga sih. Karena ternyata ada beberapa orang yang hanya memegang kepada satu sumber yang itu-itu saja. Orang-orang seperti ini sulit diterka, antara harus berbeda pendapat dengan orang lain atau memang malas saja mendengar dan melihat yang lainnya.

Terlepas dari itu semua, satu pelajaran berharga telah didapat: Jadilah orang yang skeptis, orang yang ragu-ragu terhadap kebenaran. Inilah poin baiknya. Dalam sejarah filsafat, pengetahuan dimulai dari sikap keragu-raguan seseorang. Rene Descartes menyebutnya dengan kesangsian metodis. Jangan percaya dengan mudah dengan semua informasi. Semakin banyak meragukan semakin baik, tapi dapat menyiksa diri juga jika terlalu lama meragukannya.

Dalam ilmu bahasa atau linguistik, informasi tersebut dapat menjadi maksud, siapa yang mengatakannya. Verhaar pernah mengatakan dalam teorinya. Tentu ada maksud dan tujuan mengapa informasi itu disebarkan.

Misalnya, kamu dan teman-temanmu sedang makan di restoran sambil bersenda gurau, obrolin film dan lagu. Lagi asyik-asyiknya, ada teman yang memotong pembicaraan, “Aku tadi datang naik angkot loh kemari.”

Pernyataan tersebut merupakan informasi karena dia benar-benar datang ke restoran dengan angkot. Ini fakta. Tapi kamu dan yang lainnya bingung. Mengapa dia mengatakan itu? Mau dibilang pengalihan isu, padahal tidak ada isu atau desas-desus yang serius selama makan.

Mungkin kamu berpikir bahwa dia sedang memberi kode (baca: maksud) supaya kamu atau yang lainnya mau membayar makanannya. Tapi itu kan pendapat kamu yang masih sepihak. Supaya tidak berlarut-larut dalam banyak kemungkinan, kamu dapat bertanya langsung kepada orangnya. Biarpun begitu, apa yang dijawabnya nanti kamu harus meragukannya.

Dia tidak membawa duit banyak? Periksa isi dompetnya. Yak betul, dia hanya membawa uang sepuluh ribu. Oke sampai disini dia uangnya memang tipis. Bahkan kamu tidak tega dengan perjalanan pulangnya nanti. Yakin begitu? Kamu masih ragu-ragu. Apa benar hanya sepuluh ribu? Coba geledah kantong celananya. Apa yang terjadi? Yak betul, teman kamu menangis, kok tidak percayanya sampai segitu banget.

Nah, dalam kasus persidangan Ahok, tentu kamu dapat menemukan dalam setiap argumen yang disampaikan pihak terlapor dan pelapor. Keduanya menyampaikan kebenaran masing-masing. Sama-sama informasi, tapi tetap selidiki karena ada maksudnya. Mengapa dia mengatakan itu?

Kamu pasti memiliki dugaan-dugaan, terus berupaya mendapatkannya dari orang itu langsung tanpa perantara. Setelah bertemu dengan orang tersebut, kamu ternyata masih menyimpan keraguan. Begitu seterusnya hingga akhirnya kamu menyerah. Yak, ternyata yang didapatkan bukan kebenaran tetapi kebencian yang semakin banyak anak-piranaknya.

Jadi yakinlah bahwa kebenaran yang hakiki itu ternyata memang hanya ada di atas langit. Jangan berantem lagi ya. Please, damai!