Seorang anak setelah pulang sekolah menemui ibunya untuk memberitahukan penghargaan yang didapatkan di sekolah. Setelah selesai bercerita, alih-alih mengaguminya, ibunya justru menceritakan kebanggaan yang baru saja dia dapatkan. Sebuah perhiasan hasil belanjanya, sepatu baru, dan lain-lain.

Keesokan harinya, di pagi hari, anak ini masih berusaha memberitahukan ibunya tentang prestasi yang di dapatnya. Respon yang sama dilakukan lagi oleh ibunya. Berulang kali ia mencoba, berulang kali pula ibunya bertindak serupa.

***

Dalam ilustrasi di atas, anak yang merasa kurang dihargai, bahkan oleh keluarganya sendiri, akan beranjak dewasa dengan bayang-bayang sikap keluarganya tersebut. Bayang-bayang ini memicu perasaan untuk ingin dipuji orang lain. Dibarengi juga dengan cinta yang lebih terhadap dirinya sendiri, dikarenakan anak ini merasa tidak ada yang mencintai (re: menghargai) dirinya. Hal inilah yang melatar belakangi timbulnya gejala kepribadian narsistik.

Sebut saja “narsis,” kata yang lebih nyaman dibandingkan jika kita memakai istilah “narsistik”. Istilah narsis sudah terkenal di masyarakat, terutama remaja. Apalagi, zaman sekarang, dimana telah disediakan media-media yang berguna sebagai jaringan sosial antar-individu. Tidak asing pula, jejaring sosial ini seringkali dijadikan media narsis bagi para penggunanya.

Orang-orang ini memiliki pandangan yang berlebih mengenai keunikan dan kemampuan mereka, mereka fokus dengan berbagai fantasi keberhasilan yang besar (Davison, Neale & Kring, 2012). Dalam kamus lengkap psikologi (Chaplin, 1993), narsisitik dicirikan secara khas sebagai individu yang memiliki perhatian yang ekstrim pada diri sendiri dan kurang atau tidak ada perhatian kepada orang lain. Self-centered merupakan istilah mudah untuk menggambarkan seseorang dengan kepribadian ini.

Selain kebanggaan terhadap diri sendiri yang tinggi. Orang-orang narsis juga kurang memiliki empati. Bisa jadi karena dia terlalu berfokus pada dirinya sendiri, sampai-sampai lupa memperhatikan orang lain. Dia akan selalu disibukan dengan cara-cara mendapat perhatian. Baginya, tidak ada waktu untuk memerhatikan orang lain. Ini bentuk kurangnya empati. Dalam kehidupan sehari-hari, orang ini cenderung menganggap teman sebagai seseorang yang bisa diambil manfaatnya (memanfaatkan teman). Sehingga sulit untuk menjalin hubungan yang intim.

Seorang narsis merasa sangat dibutuhkan di kalangan lain. Dia menganggap dirinya pantas mendapatkan sebuah posisi/jabatan di setiap organisasi/kelompok. Yang selalu ditunjukkannya seolah-olah mengatakan bahwa tanpa dirinnya, organisasi/kelompok tersebut bukanlah apa-apa.

Dibalik itu semua, ada sesuatu yang sebenarnya bertolak belakang dengan gangguan kepribadian ini. Seorang narsis yang selalu melakukan pengagungan terhadap dirinya, memiliki kelemahan dasar yang ditutupinya. Pengagungan itu yang menjadi alat untuk menutupi kelemahannya, meskipun seringkali orang tersebut tidak menyadari kelemahan yang dimilikinya.

Sesuatu yang ringkih ini, adalah akibat yang timbul dari pengalaman masa lalunya. Contohnya, seperti ilustrasi di atas. Bentuknya adalah perasaan tidak dihargai, muncul ke permukaan, membeku, dan seiring pertumbuhannya tenggelam ke dalam ketidaksadarannya. Makanya, seringkali orang-orang narsis tidak mau mengakui kelemahannya, dia selalu menutupi kelemahannya dengan kebanggaan dirinya. Sampai-sampai, orang seperti ini berani berbohong demi menyatakan bahwa dirinya pantas dipuji.
Negara Narsis Republik Indonesia

Zaman sekarang, narsis biasanya digunakan untuk menamai tingkah laku seseorang yang sering memotret dirinya sendiri. Terutama remaja, seringkali mereka berfoto, sambil menunjukkan barang kebanggaannya, apa yang sedang dilakukannya, atau sekedar apa yang dimakannya, merupakan perilaku-perilaku yang seringkali kita sebut narsis. Meskipun, untuk menilai seseorang mengalami gejala kepribadian ini harus melewati diagnosa yang terstruktur, bisa barangkali kami katakan hal tersebut sebagai bagian terkecil darinya.

Tidak hanya itu, mungkin pernah dialami oleh para mahasiswa, dimana terdapat perbincangan dalam sebuah kelompok yang setiap orangnya justru menceritakan kisahnya masing-masing.

“Cuk! Kemarin aku ketabrak motor, masuk bengkel sekarang motorku,” ujar salah satu mahasiswa dalam gerombolan itu. Temannya menanggapi, “loh, iya ta? Dimana koen nabrak?kok iso loh?”.Lah iku, orang aku mau belok kiri di perempatan situ,” jawabnya. “lah, aku dulu malah sampe kaki kiriku ini tulangnya patah gara-gara ketabrak di perempatan situ,” Ungkap temannya itu sambil menunjukkan kakinya yang pernah terluka.

Seorang lagi berbicara, seolah tidak mau kalah, dia berkata “lah, aku lebih parah, kalau aku di perempatan deket pom bensin sana, mau nyebrang jalan, tapi ada angkot ngebut nyerempet sepeda motorku. Padahal, kondisinya jalanan lagi rame. Untung aja, aku waktu itu pas jatuh bisa langsung bangun, kalau enggak gak tau lagi dah tu kelanjutannya” ujarnya cukup panjang.

Ya, dialog macam ini mungkin cukup sering kita dengarkan, atau bahkan tidak menutup kemungkinan untuk kita terlibat di dalamnya. Di permukaan, perbincangan model seperti ini terlihat lumrah dan biasa. Tapi, apakah disadari jika dalam perbincangan model ini tidak ada dialog diantaranya. Sesamanya bukan saling menanggapi, justru asik sendiri dengan ceritanya dengan menganggapnya lebih hebat.

Lihat saja penggunaan kalimat “aku lebih parah,” bukankah kalimat itu menunjukkan seseorang menganggap bahwa ceritanya memiliki nilai lebih dibandingkan cerita orang lain? Ya, mungkin ketika dia mengalami kecelakaan yang lebih parah, dia menganggap dirinya lebih hebat karena pernah melewati musibah itu.

Bentuk peilaku narsis lain yang ada di Indonesia bisa juga kita lihat di dunia politik Indonesia. Menjelang pemilihan umum tingkat negara maupun desa sekalipun, terpajang foto-foto para calon dengan berbagai macam prestasi yang disertakannya. Gelar, prestasi organisasi, ataupun yang sifatnya akademis, selalu berdampingan dengan foto para calon itu.

“Politik narsis,” demikianlah biasanya para ahli menyebut perilaku para calon pemimpin ini. Padahal, kalau boleh dinilai, hasil dari kinerja yang dilakukan oleh para pejabat narsis ini belumlah dirasa maksimal. Memang, di politik narsis ini para pejabat disibukkan dengan pencitraan, mempertontonkan kesibukkan, padahal sebenarnya tidak produktif. Anis Matta, di sebuah media elektronik, pernah mengatakan “Kita selalu bangga dengan prestasi-prestasi kecil, kemudian cepat puas dan merasa pantas dihargai lebih,” ujarnya di tahun 2010 silam.

Dua contoh di atas hanyalah bagian kecil dari contoh-contoh budaya narsis yang melanda negara ini. Masih banyak contoh lain yang sebenarnya bisa menggambarkan perilaku manusia dan budaya  narsis, misalnya perbincangan ibu-ibu yang masing-masing membanggakan barang-barang mewahnya, “update status” yang sudah menjadi makanan sehari-hari remaja juga menjadi ajang mencari perhatian teman-teman mayanya, atau bahkan bisa jadi dalam menolong seseorang agar dianggap orang yang baik.

Narsistik memang merupakan kajian abnormalitas dalam psikologi. Namun, banyak yang menganggapnya sebagai hal-hal yang bersifat normal, sebuah hal yang wajar dan biasa terjadi di masyarakat. Jika demikian, apakah benar di Indonesia, narsistik ini masih merupakan sebuah abnormalitas?

Abnormalitas yang Membudaya

Memang narsis merupakan kajian abnormal, namun dengan fenomena yang ada di Indonesia ini, narsis telah masuk ke dalam kajian budaya. Pertanyaan yang muncul adalah “faktor apa yang menjadikan narsis ini sebagai budaya Indonesia?” Tidak ada dari kami yang mampu menjawabnya dengan tepat.

Namun, kembali ke paragraf paling atas. Paragraf tersebut menjelaskan salah satu alasan munculnya perilaku narsis. “Masa kecilnya merasa kurang dihargai,” singkatnya demikian. Kemudian, apakah benar masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat yang saat kecilnya merasa kurang dihargai?

Jika benar demikian, wajarlah jika narsis telah menjadi kepribadian kolektif masyarakat Indonesia. Tapi, bukan akhirnya dipertahankan kepribadian seperti ini. Budaya narsis ini menjadikan masyarakat Indonesia selalu cenderung mengejar status dan atribut. Namun yang menjadi garis bawah, orang-orang yang memiliki kepribadian narsis ini adalah orang yang memiliki pribadi yang rapuh.

Nabi Musa saat bertemu dengan Tuhannya, segera beliau mengajukan pertanyaan, “siapa Kamu?”. Menjawabnya, Tuhan hanya berkata “Aku adalah Aku”. Saat itu, Tuhan tidak menyebutkan atributnya, dia hanya mengartikan dirinya sebagai “Aku” tanpa atribut Tuhan. Padahal, jelas dia adalah Yang Mahakuasa. Sedangkan, manusia sekarang tidaklah demikian. Ketika ada pertanyaan “siapa kamu?” seringkali jawaban yang terdengar adalah atribut-atribut yang dimilikinya. Ini sudah menjadi tanda bahwa masyarakat Indonesia telah memiliki orientasi ‘status’.

Jika menilik hirarki kebutuhannya Maslow, dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia masih terjebak dalam kebutuhan ke-empat, yaitu self esteem. Dengan demikian, masyarakat Indonesia masih sulit untuk mencapai aktualisasi diri jika masih sibuk mencari ‘atribut’ dan ‘status’ untuknya. Apalagi jika Maslow mengatakan bahwa orang normal adalah orang yang mampu  mencapai aktualisasi, apakah masyarakat Indonesia ini masyarakat abnormal? Jika iya, benarlah kita sebut negara ini sebagai Negara Narsis Repubilk Indonesia.