Ondel-ondel awal mulanya dibuat untuk menolak bala. Boneka setinggi sekitar 2,5 meter itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan hingga kini menjadi simbol yang tak terpisahkan dari masyarakat Jakarta, khususnya Betawi. Atas alasan-alasan itulah pertunjukkan ondel-ondel biasa ditampilkan pada upacara-upacara seperti pernikahan, peresmian, dan sebagainya.

Namun bagi Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, ondel-ondel justru berujung malapetaka yang bisa menjatuhkan popularitasnya. Karena dalam dummy Kartu Jakarta Pintar Plus (KJP+) yang dirilis timnya beberapa waktu lalu, didapati bahwa gambar ondel-ondelnya dicomot tanpa izin pembuatnya.

Adit Galih adalah orang yang membuat gambar itu lalu mengunggah gambarnya di devianart. Dari tampilan di web itu, diketahui bahwa Adit mengunggahnya pada 25 Juni 2012. Hingga beberapa hari belakangan dia menyadari bahwa gambarnya telah dimuat di dummy KJP+ dimana dia merasa belum memberikan izin.

Prahara terus bergulir di Jakarta. Pemilihan Gubernur putaran kedua yang hanya menyisakan hitungan hari memunculkan pertempuran-pertempuran sengit. Adalah malapetaka yang secara bergantian menaungi masing-masing pasangan calon. Hanya kali ini, putarannya tertuju pada pasangan calon nomor tiga.

Bahkan ondel-ondel yang diciptakan untuk mengusir bala justru berujung malapetaka. Sungguh, kehidupan politik modern telah menjadikan daya magis pasangan barongan itu tak berdaya. Ironi yang juga dialami dedemit-dedemit lain di jagat kearifan lokal.

Pada zaman dahulu kala, ketika politik masih berkisar pada mempersetankan penjajah. Membuat ondel-ondel bukan hal yang sembarangan. Berhubung fungsinya yang sangat sentral, diperlukan ritual-ritual khusus untuk membuatnya. Seorang pengrajin ondel-ondel juga bukan orang yang sembarangan.

Sebelum ondel-ondel dibuat diperlukan berbagai macam sesaji. Bubur, bunga tujuh rupa, dan kemenyan adalah yang paling umum. Semuanya disajikan si pembuat sembari berharap prosesnya dapat berlangsung lancar. Demikian pula proses itu diulangi lagi ketika ondel-ondel telah selesai sebagai ungkapan rasa syukur.

Ritual-ritual itu dilakukan sejalan dengan kepercayaan bahwa di dalam ondel-ondel terdapat roh halus. Kepada roh halus itulah sesaji-sesaji tadi dihidangkan. Agar nantinya roh itu dapat menghindarkan masyarakat dari berbagai petaka-petaka yang mungkin timbul.

Sementara di kehidupan yang kini kian mdern, siapa sempat melakukan ritual-ritual macam itu demi sebuah boneka? Ketimbang membeli kembang tujuh rupa, masyarakat lebih banyak membeli sekuntum mawar merah untuk calon-calon kekasih yang tak kunjung dimiliki. Apalagi membuat bubur untuk roh halus ketika membeli nasi bungkus untuk makan siang saja susah.

Dan karena itulah menurut kabar-kabar yang beredar, sejak tahun 1980-an pembuatan ondel-ondel tak lagi menggunakan aneka ritual. Ondel-ondel hanya ada sebagai simbol saja dalam perayaan. Bukan bagian dari kepercayaan.

Namun barangkali mereka berdua, sepasang ondel-ondel itu, mulai geram pada kita yang tak tahu diri. Jika setiap kejadian memiliki pesan moral, itulah pesan moral dari malapetaka yang menimpa Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Jika ratusan tahun yang lalu saja, demi menolak bala, pembuatan ondel-ondel sudah menggunakan sesaji. Sekarang pun harusnya demikian. Hanya saja, sesajinya bukan kepada roh halus, tapi pembuat gambarnyanya. Bentuk sesajinya juga bukan bunga dan bubur, tapi yang ada di rekening.