Bergerak membangun bangsa harus diapresiasi tinggi keberadaannya. Kali ini dari siswa-siswi di Lumajang, Jawa Timur mendeklarasikan diri yang tergabung dalam Gerakan Siswa Nasional Indonesia. Pada tanggal 5 Maret 2017, deklarasi dengan tema “Menggugah Jiwa Nasionalisme Pemuda Untuk Mewujudkan Persatuan Indonesia” mendatangkan pemateri Henariza Febriadmaja S.Sos dan Asyadul Haq, ST. Henariza Febriadmaja yang biasa di sapa Bung Febri memaparkan materi sejarah tokoh pendiri bangsa tentang Tri Sakti. Bung Febri menjelaskan Tri Sakti adalah buah pemikiran dari tokoh pendiri bangsa yang tertuang di dalamnya : 1. Berdaulat dalam politik, 2. Berdikari di bidang ekonomi, 3. Berkepribadian dalam kebudayaan.

Bung Febri yang merupakan lulusan Universitas Brawijaya ini memaparkan materi dengan jelas dan membuat perhatian para peserta seminar terlihat antusias saat materi disampaikan. Selanjutnya, pemateri dari Asyadul Haq menyampaikan materi bermuatan nasionalisme. Beliau menjelaskan bahwa kondisi Indonesia hari ini nasionalisme mulai terkikis karna masuknya pengaruh-pengaruh modern yang ternyata tidak disaring oleh para pemuda-pemudi saat ini. Ada pesan yang tersirat dari isi materi yang disampaikan oleh Asyadul Haq. Pemuda-pemudi generasi sekarang harus lebih peka akan kondisi bangsa hari ini.

Bangsa Indonesia yang berdiri atas kebhinekaan hendaknya tidak lupa akan nilai-nilai persatuan, gotong royong, kebhinekaan, dan mampu menjadi generasi penerus bangsa yang melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa. Acara yang digelar di Balai Desa Kutorenon, Lumajang, Jawa Timur turut mengundang Kartini Sri Wahyuningtyas. Beliau membacakan puisi yang berjudul “Sajak Kepada Generasi Muda”. Acara ini pun memperoleh banyak dukungan dari beberapa kalangan yang antara lain : Desa Kutorenon, Alumni GMNI, Formula, Armada Kuliner, Gen.Pelangi, Kawruh Jawa, Visit Lumajang, d-One News, dan Lumajang Satu.

Terdapat harapan besar dari acara ini agar generasi muda sudah saatnya tidak menutup mata, hati, dan telinga untuk tetap membangun bangsa dengan nafas nasionalisme, semangat persatuan, kebhinekaan, gotong royong, dan saling menghargai. Jika melihat dari beberapa waktu yang lalu, bangsa kita diterjang pengaruh-pengaruh inteloransi. Pengaruh ini muncul diakibatkan dari maraknya pilkada di sejumlah daerah yang mampu memecah belah bangsa ini jika tidak segera ditanggulangi. Walaupun belum terjadi perpecahan, gesekan antar masyarakat Indonesia saat pilkada serentak yang lalu masih terasa walau tidak sekencang sebelum pilkada serentak dilaksanakan.

Adanya acara-acara kebangsaan seperti yang dilakukan oleh siswa-siswi Lumajang dapat menjadi “rangsangan” di berbagai daerah agar kegiatan positif seperti ini dapat dilakukan. Apa yang dilakukan oleh siswa-siswi Lumajang merupakan langkah konkret yang dapat mempererat persatuan di kalangan generasi muda agar bangsa Indonesia tetap berdiri kokoh. Indonesia hadir dari keberagamaan, maka dari itu layaknya menjadi warga bangsa untuk tetap melestarikan nilai-nilai kebangsaan di setiap warga negara Indonesia.

“Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”

– Ir. Soekarno –