Akhir-akhir ini di Indonesia terjadi fenomena yang membuat kita meragukan keluhuran budi dan toleransi yang selama ini kita bangga-banggakan di hadapan negeri-negeri lain. Tren untuk merendahkan dan menghujat orang yang tidak sepemahaman atau berbeda keyakinan sekarang sedang cukup populer, terutama di media sosial. Sayangnya, hujatan dan hinaan yang dilontarkan kebanyakan sama sekali tidak disertai dengan argumen-argumen yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Emosi dan egolah yang tampak di mana-mana.

Orang-orang yang memiliki sifat demikian biasanya hanya menyampaikan pendapatnya berdasarkan apa yang baru mereka lihat atau baca secara sepintas saja, terlihat dari kualitas argumen yang mereka miliki. Makin terlihat emosinya, makin patut dipertanyakan kedalaman ilmunya. Jelas, karena orang yang benar-benar dalam ilmunya tidak akan terang-terangan memamerkan argumennya ke mana-mana dan memaksakannya. Mereka akan lebih mampu menahan diri dan menghargai perbedaan pendapat. Bahkan Socrates sendiri berkata, bahwa yang satu-satunya yang ia ketahui, adalah bahwa ia tidak tahu apa-apa.

Di sinilah patut disadari bahwa kebijaksanaan itu begitu penting. Dalam hal ini, penting untuk memiliki kebijaksanaan dalam menyampaikan dan mencerna pendapat. Harus diketahui bahwa percuma memaksakan pemikiran kita kepada orang lain, karena otak kita memang tidak diciptakan untuk selalu berpikiran sama. Sebagaimana komentar tajam Voltaire mengenai perbedaan pendapat, bahwa seseorang yang berlaku kejam kepada orang lain, yang bahkan saudaranya sendiri karena berbeda pendapat dengannya, adalah monster.

Karena itu, cara untuk berpikir bijaksana sangat penting untuk diajarkan sejak dini. Salah satu caranya adalah dengan mengajarkan dasar-dasar ilmu filsafat kepada anak. Kita tidak sedang berbicara tentang filsafat eksistensialis Sartre ataupun hukum moral Immanuel Kant. Namun, kita sedang berbicara tentang filsafat sebagai sebuah ilmu dasar, yang dapat menuntun kita kepada kedalaman berpikir dan kebijaksanaan, sesuai dengan terminologinya sendiri: philein (cinta) dan sophos (kebijaksanaan). Filsafat tidak selalu sulit untuk dipahami, karena filsafat bukan melulu tentang teori-teori  dan para pemikiran para tokoh yang rumit, tapi inti dari pelajaran filsafat adalah bagaimana cara berpikir secara filosofis. Pelajaran-pelajaran ini bisa dikemas dengan cara yang dapat dipahami dan dicerna oleh anak-anak. Misalnya, diawali tentang mengajak anak-anak berpikir bersama tentang dari mana asal mula dunia ini.

Filsafat pun perlu dipertimbangkan untuk ditambah ke dalam kurikulum sekolah agar anak-anak sejak dini terlatih untuk berpikir kritis dan peka terhadap suatu fenomena. Pelajaran tentang kehidupan dan moral yang hanya disampaikan lewat pendidikan agama yang lebih banyak bersifat dogmatis dan pendidikan kewarganegaraan yang hanya terbatas pada wawasan kenegaraan saja, sesungguhnya kurang memadai untuk melatih kebijaksanaan anak, karena kemampuan berpikir kritis dan menerima perbedaan sama sekali tidak cukup diasah dari situ saja. Anak-anak akan sulit untuk menjadi bijaksana, justru malah bisa jadi sempit dan tumpul cara berpikirnya, apabila hanya selalu diiming-imingi surga dan ditakut-takuti oleh neraka, lalu kemudian disuruh menghapal isi Pancasila dan UUD 1945 saja. Anak-anak juga tidak akan memahami pentingnya sifat gotong royong, saling menghargai, dan jiwa besar, apabila hanya menghapalkannya dari buku teks, dan tidak memahami substansi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Filsafat justru mengembalikan anak-anak kepada sifat sejati mereka yang selalu punya banyak pertanyaan, karena sebagaimana kita tahu, filsafat bermula dari pertanyaan-pertanyaan. Anak-anak perlu diajarkan untuk selalu berpikir, mempertanyakan, dan menantang nalar mereka sendiri, sehingga apabila ia kelak menjumpai sebuah pemahaman yang berbeda dengan yang dipahaminya selama ini, ia tidak akan merasa perlu menentangnya habis-habisan, apalagi sampai menakutinya. Ia akan bisa menerima dan menanggapinya dengan cara yang bijaksana dan luhur, layaknya seseorang yang dalam ilmu dan terpelajar.

Sungguh, Kemendikbud harus mulai mempertimbangkan filsafat untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah, dengan kemasan yang secocok mungkin di tiap jenjang pendidikan. Orang tua pun harus memahami hal ini dengan tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah, namun juga membiasakan diri untuk mengajak anak berdiskusi di rumah, membicarakan banyak hal dan mengajarkan anak cara memahami dan menerima berbagai persoalan di dunia ini secara bijaksana.

Pramoedya Ananta Toer juga sudah jelas mengatakannya, yakni seorang  yang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Sikap adil inilah salah satu pencapaian moral tertinggi yang diharapkan dari seseorang yang berilmu, yang dapat dicapai dengan cara berfilsafat sejak dini.