Sejatinya super hero adalah tentang maskulinitas. Segala kekuatan, ketampanan, dan keperkasaan itu dianggap sebagai derajat tertinggi para lelaki. Diantaranya membuat banyak pria keluar masuk gym untuk memberbesar dada, lengan, atau mengkotak-kotakkan perut. Jadilah dalam banyak kasus, super hero menjadi ladang percontohan tentang bagaimana menjadi seorang pria (minimal secara fisik).

Banyak ditonton oleh para bocah dan remaja, super hero ternyata punya daya magisnya tersendiri bagi para gadis kecil. Apalagi jika super hero tersebut berjenis kelamin perempuan. Meskipun bagi para gadis itu, hal yang perlu ditiru dari para super hero perempuan tidak semata tentang seberapa besar beban massa otot.

Entah hany Amy Jo, mantan pemeran Power Rangers merah muda yang terlalu percaya diri atau memang begitu adanya. Tapi dia menjelaskan dalam tulisannya sebagai kolomnis tamu di Variety, bahwa setelah 23 tahun silam ia memerankan  Mighty Morphin Power Rangers, ribuan gadis terinspirasi oleh perannnya. Setidaknya peran itu mendorong kesadaran bahwa para gadis juga bisa tumbuh menjadi seorang badass. Berkebalikan dengan pendapat banyak orang yang menganggap sifat itu hanya untuk para pria.

Jika ruang kelas Anda sewaktu SD masih berhiaskan foto Presiden Soeharto, berarti Anda pernah menonton Mighty Morphin Power Rangers. Juga Kimberly si Ranger Pink yang diperankan Amy Jo. Selain Kimberly, personel Ranger perempuan lainnya adalah Trini Kwan alias Ranger kuning yang diperankan Thuy Trang.

Dalam serial itu, jelaas sudah seberapa tomboi tokoh Kimberly. Tapi cukupkah dengan tokoh tomboi saja di suatu film dapat meembujuk para gadis menjadi bad ass? Tidak, perlu lebih dari itu. Dan perempuan tomboi yang menjadi tokoh protagonis sekaligus tidak melulu bersembunyi di ketiak para pria adalah jawaban yang sempurna. Dan Kimberly mewakili itu semua.

Bagaimanapun Mighty Morphin Power Rangers, serial ini menjadi pengalaman yang tak terpisahkan dalam membentuk pola pikir penontonnya yang mayoritas anak hingga remaja. Dan seperti kata Bandura, sebagian besar pengalaman yang mempengaruhi hidup tidaklah diperoleh secara langsung, melainkan pengalaman tidak langsung. Tayangan televisi, buku-buku, atau curhatan itu adalah pengalaman tidak langsung.

Sebagai pengalaman tidak langsung, Mighty Morphin Power Rangers menunjukkan kepada penontonnya konsekuensi-konsekuensi logis yang muncul dari tindakan. Maksudnya begini, secara sosial seorang bocah diajari bahwa menjadi perempuan haruslah feminis, rajin memasak, tidak boleh banyak keluyuran, pandai berdandan, dan sebagainya.

Tapi begitu melihat Kimberly, bocah tadi akan memperoleh pembelajaran yang lain dibanding yang diajarkan orang tua. Dengan menjadi tomboi, doyan keluyuran, tidak pernah memasak (karena tidak ada adegan memasak disitu), bergaul dengan banyak pria, Kimberly justru menjadi menjadi pujaan. Dia menjadi pahlawan, menyelamatkan banyak orang, lalu diingat banyak orang.

Bukankah dengan dielukan bak pahlawan dan diingat banyak orang bisa membuat hati bangga? Dan setiap bocah ingin memperoleh kebanggaan yang sama. Disitulah Kimberly menjadi apa yang disebut role model. Sosol yang tingkahnya diikuti banyak orang, yang kehidupannnya diimpikan.

Ketika pemodelan ulang perilaku Kimberly itu muncul di benak para gadis cilik tanpa diimbangi penilaian dari orang tua yang sibuk bekerja atau guru yang sibuk sertifikasi, jadilah peniruan para bocah terserap tuntas kedalam karakternya. Maka jika Amy Jo bilang ada ribuan anak yang meniru karakter Kimberly yang diperankannya, rasanya itu bukan hanya ungkapan besar kepala.

Jadi buat para pria yang kini sedang mencari pendamping hidup, terlebih dahulu ketahuilah tontonan apa yang dinikmati pasangan Anda di masa kecil. Jika tontonan mereka Power Rangers, berarti malam pertama Anda akan luar biasa.