Kedatangan Raja Salman ke Indonesia memberi angin sejuk. Barangkali tidak hanya kita, orang Indonesia, yang merasakannya, mungkin juga raja sendiri merasa sejuk-sejuk selama tinggal di Indonesia.

Mungkin juga kita tidak menyadari bahwa sambutan kehormatan dari presiden dan anstusias masyarakat, yang bagi orang Indonesia merupakan hal biasa, ternyata mempunyai kesan luar biasa bagi raja.

Memang orang Indonesia, yang dikatakan ramah dan murah tersenyum, terus kebanjiran apresiasi. Kita seharusnya menyadarinya ketimbang berusaha mencari hal-hal berbeda yang sebenarnya tidak biasa bagi kita. Toh, sikap hormat kita terhadap, Raja Salman dan jajaran rombongannya dibalas dengan memberikan investasi besar dalam 11 nota kesepahaman kerjasama (MoU) senilai total 93 Triliun rupiah seperti dilansir dari detik.com (4/3).

Serumit apapun matematika ekonomi dipahami, tapi penjelasannya dapat disamakan dengan kebiasaan sehari-hari. Misalnya, kamu mau memberikan modal kepada temanmu yang ingin membuka usaha warung internet. Kenapa? Ya karena itu teman kamu, sudah dekat sejak dalam pikiran. Kalau yang butuh bantuan itu orang lain, dipikir-pikir dulu. Sederhananya begitu.

Tulisan ini sebenarnya tidak membahas peluang ekonomi dan dampak investasi dalam waktu ke depan. Saya ingin bergeser pada sebuah narasi ‘persaudaraan’ melalui kunjungan Raja Salman ke Indonesia.

Sebabanya, belakangan ini, kita telah kehilangan kepercayaan pada beberapa negara internasional. Apalagi kalau negara itu adalah Amerika Serikat dan Tiongkok yang selama ini menjadi lawan ketimbang kawan. Malahan kita khawatir, jangan-jangan ada agenda besar yang diam-diam beroperasi. Ada sentimen mengenai penanaman ideologi secara simbolik terhadap rakyat Indonesia.

Dalam jangka waktu yang panjang, ketergantungan kita terhadap globalisasi tanpa disadari telah mengubah pemahaman, yang menjauhkan makna hakiki dari ‘persaudaraan.’ Kontradiksi tersebut ialah, salah satunya, apabila kita menyebut saudara sebangsa dan setanah air di antara ketimpangan yang masih tetap ada.

Ketidakpuasan dan kontradiksi tadi, pada akhirnya, mendorong masyarakat dunia, tidak hanya Indonesia, untuk mencari jati diri yang berbeda dengan aliran utama globalisasi. Namun, jawaban lain diberikan oleh Raja Salman, bahwa arus utama globalisasi tidaklah harus dilawan dengan ideologi dan politik radikal dan berbeda sama sekali.

“Para hadirin sekalian, sesungguhnya tantangan yang kita hadapi, khsusunya bagi umat Islam dan dunia secara umum, seperti fenomena terorisme, benturan peradaban (the clash civilization), dan tidak adanya penghormatan terhadap kedaulatan negara […] mengharuskan kita untuk menyatukan barisan dalam menghadapi tantangan ini […],” ucapnya dalam pidato di Gedung DPR , dilansir dari kompas.com (2/3).

Ketika negara lain menyebut kita adalah mitra, ada seorang raja yang menyebut kita sebagai sahabat. Saya sendiri memilih sebutan saudara mengingat akar sejarah negara kita yang disebut sebagai Ibu Pertiwi. Secara puitis, kita adalah saudara seibu serahim dari sebuah cita-cita yang sama.

Kehadiran tokoh lintas agama dalam menyambut Raja Salman, semoga saja, akan meredam ‘keras kepala’ kita yang memang senang dalam membeda-bedakan orang. Jika saja disadari, perilaku ini menjadi alasan, mengapa perlawanan terhadap globalisasi selama ini justru dianggap sama kontradiksinya.

Terlebih lagi, di hadapan masyarakat luas, gerak-gerik perlawanan kendur dengan identifikasi Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme, dan Separatisme (RETS) yang dinamakan terhadapnya.

Mungkin terlalu berlebihan, namun kita sebenarnya telah menyepakti bahwa segala ketidakadilan dan ketimpangan harus dihapuskan. Dalam kesadaran seperti ini, artinya bahwa kedua hal terakhir harus dihapuskan, maka memungkinkan sekali terjadi makna persaudaraan di antara orang Indonesia.

Pidato Raja Salman mengangkat beberapa poin, yang secara garis besar, mempunyai semangat yang juga tengah diperjuangkan orang Indonesia. Perspektifnya harus dibalik, bukan kita yang ingin seperti Orang Arab, justru Raja Salman yang ternyata seperti orang Indonesia.

Lalu, ketika itu semua dimulai, saudara, apa jadinya apabila kita nanti justru dianggap menjadi RETS?

Ah, kamu ternyata masih globalisasi. Eh maksudnya dipolitisir.