Jika kita mendengar tentang ‘wisata sejarah di Yogyakarta’, mungkin secuil rasa kebosanan akan muncul di dalam diri, mengingat Yogya merupakan wilayah yang sudah terlalu kaya akan cerita, baik suka maupun duka, manis maupun pahit. Demikian pula dengan sejarahnya. Akan tetapi, biarkan saja, saya akan tetap melanjutkan.

Kali ini saya akan berbagi sedikit mengenai salah satu wisata sejarah di Yogyakarta, yang tidak sepopuler tetangganya, Candi Prambanan, atau tetangga jauhnya yang memiliki popularitas internasional, Candi Borobudur. Ratu Boko terletak di bagian timur laut Yogyakarta. Ratu Boko (ratu = raja) pernah disebutkan dalam legenda Roro Jonggrang. Meski banyak yang menyebutnya candi, bagi saya Ratu Boko tidak menyerupai candi, tapi lebih mirip reruntuhan bangunan kerajaan. Ratu Boko memang bukan makam atau tempat menyimpan abu raja yang kemudian menjadi tempat pemujaan secara rutin.

Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul bangunan Ratu Boko ini. Sebagaimana dilansir Wikipedia bahasa Inggris, pada awal abad ke 20, seorang peneliti bernama FDK Bosch, mempelajari situs Ratu Boko ini dan membuat laporan yang berjudul “Keraton van Ratoe Boko”, yang mana dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Ratu Boko merupakan bekas keraton. Sebuah prasasti juga menyebutkan bahwa dulunya Ratu Boko merupakan sebuah bangunan vihara, yakni Abhyagiri Wihara, yang berarti ‘sebuah vihara di puncak bukit yang bebas dari bahaya’. Lebih lanjut lagi, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa bangunan itu, yang awalnya merupakan sebuah vihara, diubah menjadi bangunan benteng yang digunakan semasa berkuasanya Kerajaan Mataram.

Namun demikian, struktur bangunannya lebih menyerupai bangunan yang ditinggali oleh keluarga keraton, di mana terdapat bagian-bagian bangunan keraton seperti pendopo, kaputren, dan bekas kolam. Walau demikian, ada pula bagian-bagian dengan unsur religius seperti beberapa candi, reruntuhan stupa. Adanya unsur Buddha sekaligus unsur Hindu dalam satu bangunan ini juga salah satu yang menjadikannya cukup unik.

Benar saja, karena untuk mencapai bangunan Ratu Boko, pengunjung harus menaiki tangga, tidak hanya beberapa anak tangga, tapi berpuluh-puluh anak tangga, mungkin malah mencapai ratusan. Tidak ada opsi menaiki lift atau eskalator. Ratu Boko ini terletak di puncak bukit, sehingga untuk menggapainya, kita harus mendaki hingga ke puncak bukit.

Saya cukup heran, mengapa destinasi ini belum sepopuler Candi Prambanan, yang berhasil masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage, dan Candi Borobudur, salah satu keajaiban dunia. Bagi saya, Ratu Boko tidak seperti destinasi wisata sejarah biasa. Ia menyisakan misteri. Reruntuhan bangunan itu menggali tempat tersendiri di sudut otak saya yang penuh imajinasi.

Ketika menaiki tangga-tangga dan menyusuri bangunan Ratu Boko, muncul berbagai pertanyaan dan bayangan di benak saya. Misalnya, jika memang dulu bangunan ini adalah keraton, bagaimana para anggota keluarga kerajaan, para pejabat, para pelayan, dan tamu kerajaan menuruni dan menaiki bukit ini? Apakah anggota keluarga dan tamu kerajaan menaiki tandu dari bawah sampai ke atas? Apakah setiap hari para pelayan harus menaiki dan menuruni bukit untuk menyuplai makanan serta kebutuhan istana lainnya, atau adakah orang yang naik turun bukit untuk mengantarkannya setiap hari? Lalu bagaimana suasana pemukiman rakyat di sekitar kerajaan? Apakah istana Ratu Boko seperti tempat megah di puncak bukit yang tak terjangkau dan meninggalkan banyak pertanyaan serta buah-buah bibir bagi para rakyat jelata? Sedikit demi sedikit, muncul gambar-gambar di benak saya mengenai suasana di dalam keraton, kehidupan masyarakat di sana, interaksi di kalangan rakyat jelata, para pedagang, bangsawan, pejabat dan keluarga kerajaan di secuil wilayah Indonesia, bahkan jauh sebelum adanya ‘Indonesia’ itu sendiri.

Saya tidak akan menjelaskan bagian-bagian dari bangunan Ratu Boko itu satu persatu, karena ketika Anda mengunjunginya, Anda bisa memprediksi sendiri bagian-bagian bangunan itu satu persatu, dengan sedikit memainkan imajinasi Anda. Dimulai dari bagian paling depan, yang terdiri dari tangga beberapa tingkat yang mengarah kepada gapura, yang menyerupai pintu masuk keraton. Kemudian memasuki bagian yang lebih dalam ada semacam batu yang katanya dulu adalah semacam candi yang mungkin dijadikan sebagai tempat pemujaan. Di sekitarnya, mungkin pernah ada ruangan-ruangan. Ke bagian tenggara, berjalan sedikit, Anda akan menemui pendopo yang memiliki pintu masuk lagi. Di bagian timur, ada tempat yang menyerupai tempat pemandian dan taman-taman, dan seterusnya.

Dengan demikian, bagi saya, Ratu Boko tidak hanya sekadar destinasi wisata dan tempat berfoto. Ratu Boko merupakan salah satu dari destinasi wisata yang masih terekam jelas di dalam ingatan saya hingga sekarang, karena suasana dan misterinya yang membangkitkan imajinasi. Mengingat lagi berpuluh-puluh anak tangga yang harus dinaiki untuk dapat mencapainya. Jika Anda ingin main ke Yogya dalam waktu dekat dan belum pernah ke Ratu Boko, cobalah kunjungi, dan jangan hanya berfoto. Amati dan rasakan sejarah itu, lalu padukan dengan citra yang Anda ciptakan sendiri.