Untunglah sudah puluhan tahun lalu Bung Karno dan Bung Hatta mengunjungi Taman Selecta di Batu. Sebab kalau tidak, mereka barangkali tidak akan bisa menyusun pemikiran-pemikirannya di taman ini seperti yang banyak dikisahkan orang. Karena Taman Selecta tak seperti dulu lagi.

Setelah lama berkutat dengan kondisi yang apa adanya, Taman Selecta telah berbenah. Perubahan sana-sini dilakukan oleh pengelola. Diantaranya menambahkan wahana-wahana permainan seperti flying fox atau sepeda air. Selain itu juga ada beragam hiasan ikan air tawar di dekat gerbang masuk.

Penambahan-penambahan itu memang menjadikan Selecta semakin ramai pengunjung. Terlebih dengan harga tiket masuk yang terjangkau. Namun karena alasan itu pula orang seperti Bung Karno dan Bung Hatta tak cocok merenung disitu jika keramaian itu ada pada zaman mereka. Bayangkan makian apa yang keluar dari mulut kedua tokoh proklamator itu ketika renungan mereka tentang Indonesia terbuyarkan oleh teriakan pengunjung yang naik flying fox.

Taman Selecta memang memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusur sejak berdirinya di era kolonial, tepatnya tahun 1928. Berada di ketinggian 1.100 m diatas permukaan laut dengan aneka bunga yang tersebar di lahan seluas 20 hektar, menjadikan Selecta mendapat julukan Swiss kecil. Karena memang Royter Dewvild, pendirinya, mendesain taman ini sebagai tempat peristirahatan bagi para orang Belanda.

Dengan konsep seperti itu, tidak akan mengherankan jika di awal berdirinya itu, larangan masuk bagi pribumi dan (mungkin) anjing juga berlaku di taman ini. Seperti halnya di area-arean orang Belanda di masa itu. Dan seandainya Dewvild bangkit dari kuburnya lalu mengunjungi Selecta hari-hari ini, barangkali dia akan mencari dinamit untuk menghancurkan karyanya itu. Tidak terima dengan kenyataan karena sekarang tamannya dipenuhi pribumi.

Di masa penjajahan Jepang, keasrian Taman Selecta masih terjaga. Di masa ini pula Bung Karno sering mengunjunginya untuk mencari inspirasi. Barulah di masa-masa revolusi, Selecta porak poranda akibat perang. Hingga dibangun kembali di tahun 1950-an seiring dengan diambilalihnya pengelolaan taman ini ke perusahaan yang kini bernama PT Selecta.

Tapi dari tahun ke tahun, selain menjadi tempat peristirahatan yang nyaman, satu hal yang sangat identik dari Taman Selecta adalah bunga-bunganya yang bertebaran. Itu menjadi karakter yang terus dipertahankan dan menjadi daya tarik tersendiri. Itu pula sebabnya Taman Selecta disebut juga Taman Bunga Selecta.

Namun semuanya berubah seiring negara api menyerang. Ketika pendapatan wisata dirasa perlu untuk semakin digenjot. Sepertinya menjadi selfiable diantara warna-warni bunga dirasa tidak cukup. Ditambahkanlah wahana teranyar flying fox dan sepeda air  di taman itu. Dan kedua  wahana itu memang menjadikan Selecta semakin seru.

Tapi ada tumbal yang harus dibayarkan disana. Sebagai tempat peristirahatan dan perenungan sebagaimana sejarah Selecta jelas semakin tidak mungkin. Taman ini semakin ramai dan sesak oleh pengunjung. Tidak lagi mudah untuk sekedar berjalan mengelilingi taman melihat Panderman dan Arjuno di kejauhan. Atau bergandengan tangan dengan kekasih diantara bunga-bunga. Karena di akhir pekan, suasana Selecta tak ubahnya pasar malam.

Lalu sungguh malang bunga-bunga itu. Untuk membangun sepeda air yang mengelilingi taman bunga dari atas, diperlukan pilar-pilar dari besi dan semen. Piliar-pilar itu dibangun dengan mengorbankan ruang tumbuhnya bunga. Dan mengambil foto yang dihasilkan dari taman bungan itu tak lagi jajaran kelopak, tapi juga disertai onggokan besi dan sepeda-sepeda diatasnya.

Ah, romantisme memang tak lagi sama di zaman hura-hura. Dan bunga-bunga itu tampak kehilangan tempatnya sebagai simbol romantisme.