(SPOILER ALERT!)

Sudah satu minggu lebih film Critical Eleven tayang di bioskop seluruh Indonesia. Film yang merupakan adaptasi novel karya Ika Natassa ini telah berhasil menggaet 400.000 lebih penonton. Walau konsepnya sederhana, yakni berupa adaptasi novel yang bertemakan cinta, tim produksi sepertinya tak main-main untuk menggarapnya. Dua aktor kawakan Indonesia, Adinia Wirasti dan Reza Rahadian, dipercaya untuk memerankan kedua tokoh utama. Sejumlah aktor kawakan lainnya juga masuk dalam deretan pemeran pendukung, seperti Widyawati dan Slamet Rahardjo.

Sumber : Critical Eleven Official Website

Lantas, seperti trailer dan posternya, apakah film ini hanya berisikan adegan-adegan mesra pasca menikah yang membuat penonton ikut bahagia sekaligus iri? Apakah film ini lantas membuat anak-anak muda ingin segera menikah dan berkeluarga? Berikut rangkuman beberapa hal yang sesungguhnya bisa dipelajari dari film Critical Eleven.

1. Pernikahan itu bukan ‘solusi’, tapi awal dari ‘masalah-masalah baru’.

Diceritakan, Anya (Adinia Wirasti) dan Ale (Reza Rahadian) jatuh cinta lalu memutuskan untuk menikah. Anya, yang sebelum menikah adalah seorang wanita karir yang berprestasi dan dihormati, harus meninggalkan pekerjaannya supaya bisa tinggal bersama dengan Ale yang bekerja di luar negeri.

Di awal pernikahan, mereka terlihat bahagia dan semangat untuk memulai hidup baru mereka di New York, AS. Namun konflik-konflik kecil mulai muncul ketika diceritakan bahwa Ale ternyata bekerja di pengeboran minyak di Meksiko, dan bisa tidak pulang berhari-hari apabila proyeknya belum selesai. Anya yang harus menghabiskan waktu sendirian selama Ale bekerja, merasa linglung dan sedih, karena selain belum terbiasa menghabiskan banyak waktu di rumah, ia juga selalu merindukan Ale.

Sumber : Critical Eleven Official Website

Tak lama kemudian Anya mengandung. Ale yang bisa sering berada di Meksiko karena pekerjaan, selalu khawatir karena ia meninggalkan Anya sendirian dan tidak bisa mengandalkan siapapun karena mereka hanya berdua saja di New York. Ale meminta kepada Anya agar mereka kembali saja ke Indonesia karena ada keluarga Ale yang bisa menjaganya. Namun Anya yang sudah merasa mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan di New York, merasa enggan untuk kembali. Hal ini pun menjadi sumber konflik baru.

Puncak konflik terjadi saat Anya dan Ale harus menghadapi sebuah musibah, yakni ketika Anya keguguran. Masing-masing merasa sangat terpukul. Lalu Anya merasa Ale tidak berada di sisinya untuk menemaninya melewati masa sulit itu, dan Ale merasa bahwa bukan hanya Anya yang menderita, karena musibah ini juga sangat berat baginya. Hubungan mereka pun merenggang.

Konflik-konflik seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang berada di luar ekspektasi kita tentang pernikahan. Banyak pasangan-pasangan suami istri menghadapi masalah-masalah semacam ini di dunia nyata. Namun hal ini sepertinya kurang dipahami bagi banyak anak-anak muda yang belum menikah. Mereka seperti dikejar-kejar waktu dan lingkungan sosialnya agar bisa segera memakai cincin dan memiliki buku nikah. Banyak pula, terutama perempuan, yang beranggapan bahwa dengan menikah, mereka akan bisa hidup lebih baik dan semua masalah selesai, karena ada anggapan ketika punya suami, perempuan tidak perlu lagi bekerja keras. Makanya, kita akan banyak mendengar ungkapan-ungkapan seperti ‘capek kuliah/kerja, pengen nikah aja’.

Namun banyak yang tak mengerti bahwa mereka akan menghadapi ‘kehidupan nyata’ setelah menikah. Banyak yang tak siap dengan fakta bahwa menikah bukanlah sekedar agar bisa jalan-jalan berdua dengan pasangan lalu mengunggah foto-foto mesra di media sosial (apalagi saat ini banjir taglinetagline seperti ‘segera halalkan’, ‘pacaran setelah menikah’ dan lain sebagainya). Banyak sekali masalah-masalah hidup yang akan menguji kekuatan cinta dan kedewasaan pasangan yang bersangkutan, serta kemampuan mereka untuk sedalam mungkin menekan ego. Seperti Ale dan Anya, mereka sangat manis dan mesra di awal pernikahan, seolah-olah seperti tak akan berpisah selamanya. Namun ketika konflik muncul, ada saat-saat di mana mereka meragukan keadaan mereka. Cara berbicara mereka terhadap satu sama lain pun menjadi bertolak belakang apabila dibandingkan dengan bagaimana mereka di awal pernikahan.

 

2.Menikah itu tidak hanya menikahi pasangan saja, tapi juga menikahi keluarganya.

Digambarkan dalam film ini, Anya adalah seorang wanita karir independen. Tidak diceritakan dalam film apa yang terjadi dengan keluarga Anya, tetapi Anya tidak pernah diperlihatkan bersama orang tuanya.

Sementara itu, Ale memiliki keluarga kecil yang ramai. Ia memiliki orang tua lengkap, dua saudara kandung, dan seorang keponakan laki-laki yang juga dekat dengannya.  Sebelum menikah, Ale memperkenalkan Anya kepada keluarganya dan keluarga Ale menyambut Anya dengan hangat.

Namun karakter Anya sepertinya bukan tipe orang yang gampang membuka diri terhadap orang lain, meski itu keluarga suaminya.  Diperlihatkan satu adegan di mana Anya pulang ke rumah yang ditinggalinya bersama Ale di Indonesia dan mendapati ibu mertuanya (Widyawati) sudah duduk di sofa menikmati secangkir teh. Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah orang tua Ale juga dibawa serta dengan alasan supaya bisa membantu Anya dengan pekerjaan di rumah. Mendapati Anya yang kebingungan dan serba salah, ibu mertuanya mengatakan, “Kamu ‘kan juga anak ibu.”

Ketika menikah, semua masalah kita dengan pasangan memang menjadi urusan berdua saja, dan tidak baik mengumbarnya kepada orang lain. Namun harus diingat pula bahwa ketika menikah, kita juga menikahi keluarga pasangan. Tak baik membuat tembok penghalang antara kita dengan keluarga pasangan. Tidak semua hal yang dikatakan oleh keluarga harus disetujui, tapi komunikasi harus tetap dibangun dengan baik dan kita tetap harus membuka hati. Apabila kesulitan dan merasa ingin minta tolong, tak masalah, asal sewajarnya saja dan jangan bergantung. Begitu pula apabila kita yang dimintai tolong keluarga pasangan. Bantu sebisa mungkin tapi tetap bijaksana. Karena mereka keluarga kita juga, tak masalah apabila kita berkata jujur jika mereka melewati batas.

Sumber : Critical Eleven Official Website

 

3.Ketika mengalami masalah, tetap kuat, karena kita bukan orang paling menderita di dunia.

Anya dan Ale mengalami guncangan yang besar ketika kehilangan anak pertama mereka. Ada momen-momen di mana mereka meratapi kehilangan itu. Hubungan mereka pun menjadi renggang karena mereka juga menyalahkan satu sama lain.

Lalu ada adegan di mana Ale berbincang berdua dengan ayahnya (Slamet Rahardjo) dan Anya berbincang dengan ibu mertuanya di tempat terpisah. Kedua orang tua itu sama-sama menceritakan bahwa mereka juga pernah mengalami keguguran sebelum mengandung Ale, serta bagaimana mereka berhasil melewati momen-momen penuh duka itu.

Ketika menghadapi masalah atau musibah yang berat, keinginan untuk meratap dan menyalahkan dunia memang akan sangat terasa. Wajar sekali untuk merasa seperti itu, apalagi setelah mengalami peristiwa yang traumatis. Namun harus diingat bahwa di dunia ini tak ada yang abadi, termasuk kesulitan dan kesedihan. Waktu akan menyembuhkan.

Bersyukur juga menjadi salah satu cara agar kita tetap kuat. Ketika kehilangan sesuatu, tetap ingat dan syukuri segala sesuatu yang masih kita miliki, serta syukuri segala momen dan kesempatan yang kita miliki sebelumnya ketika sesuatu itu masih ada. Selalu ingat pula bahwa banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada kita. Intinya, semua orang mengalami masalah, namun bagaimana cara masing-masing menghadapinya.

Tema besar film ini sebenarnya memang cinta, tapi sesungguhnya ada pula pelajaran tentang hidup yang bisa diambil. Film ini menjadi salah satu film Indonesia yang patut dibanggakan, terutama karena kualitas akting dari pemeran tokoh utamanya dan keterampilan mereka menyampaikan emosi, sehingga mampu menghanyutkan penonton. Setelah menontonnya, mungkin ada beberapa hal yang bisa kita renungkan.