Apakah membaca (buku) itu penting? Sejak zaman sekolah dulu, ada saja guru yang mengatakan bahwa membaca sangatlah penting. Diperkuat lagi dengan rujukan pepatah “buku adalah jendela dunia,” membuat arti penting dalam membaca semakin vital dalam mencerdaskan bangsa. Sampai saat ini pun pola serupa masih sering terucap oleh para pengajar di institusi pendidikan, membaca seakan-akan menjadi kunci kesuksesan menjelang usia tua nanti. Padahal, itu adalah palsu, membaca bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi cerdas!

Satu masalah lagi, ketika mendengar kata “membaca”, secara otomatis otak memroses pandangan kita untuk selalu tertuju kepada buku. Kata kerja “membaca”, selalu saja membentuk pola pikir kita untuk berpikir bahwa membaca, ya membaca buku. Padahal, dalam tata bahasa Indonesia saja, membaca bisa dikaitkan dengan objek lain selain buku. Pernah kita mendengar pastinya ucapan “membaca pikiran,” “membaca keadaan,” membaca situasi,” “membaca masa depan,” dan membaca-membaca lain selain membaca buku. Tapi, ya bagaimana lagi, kata membaca sudah sangat lekat dengan “buku”.

Mudahnya seperti ini, coba bayangkan ada seorang yang dikenal dengan “rajin membaca”. Pastinya yang terlintas dalam pikiran kita, adalah orang tersebut rajin membaca buku. Bagaimana dengan membaca-membaca yang lain? Apakah rajin membaca itu tidak bisa dikaitkan dengan rajin membaca keadaan? Apakah tidak ada label untuk orang-orang yang rajin membaca keadaan? Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa sebenarnya membaca buku bukanlah variabel terpenting dalam mencerdaskan manusia.

Apakah tidak setuju dengan pendapat saya barusan? Baiklah, saya akan beberkan bukti-bukti bahwa membaca itu tidak penting. Pertama, Seorang peneliti dari Rusia bernama Lehman Peto, sekitar dua tahun lalu melakukan penelitian tentang manfaat membaca buku pada remaja di Rusia. Dia melakukan penelitiannya selama delapan tahun, karena harus mengikuti perkembangan anak-anak mulai dari usia 7-8 tahun, hingga usia 15-16 tahun dengan anak yang sejak kecil sudah rajin membaca buku dengan yang tidak. Dari penelitian yang dilakukannya tersebut, Peto berkesimpulan, bahwa anak-anak yang rajin membaca buku, di kemudian hari prestasi di sekolahnya lebih rendah daripada yang tidak rajin membaca buku. Kemampuan verbalnya pun demikian, ketika dilakukan tes pembendaharaan kata, ternyata anak-anak yang tidak rajin membaca buku, memiliki lebih banyak pembendaharaan kata daripada anak-anak yang rajin membaca. Jelas, penelitian ini mengejutkan banyak pihak, terutama di Eropa sana.

Bukti pertama telah membuktikan bahwa membaca buku bukanlah sesuatu yang bermanfaat banyak bagi manusia. Bukti Kedua, dalam buku Psikologi Belajar karangan Dr. Mulyati, M.Pd (2005), dikutip salah satu hasil eksperimen dari peneliti di Amerika Serikat, bernama Robert Suurhof. Dalam bukunya tersebut, tepatnya pada halaman 117, dituliskan seperti ini:

Adolescents, especially college students, are not supposed to learn through books. Because, basically verbal ability of the brain, has limited capacity to receive stimuli from the book. When this capacity is no longer able to accommodate vocabulary, brain function in this case will be damaged and be fatal, because it can make other parts of the brain affected. If other parts of the brain is damaged too, from too much reading a book, this will greatly affect the human intellect.

Dalam buku ini, dijelaskan kembali makna dari kutipan di atas. Membaca buku dapat merusak otak, sehingga bisa menimbulkan dampak yang fatal bagi kecerdasan individu. Oleh karena itu, mahasiswa tidak dianjurkan untuk membaca buku, karena ini akan berakibat buruk bagi karirnya di masa depan.

Ketiga, ada salah satu dosen saya yang menyampaikan pesan kepada mahasiswanya untuk jangan membaca buku. Beliau membagi pengalamannya dalam upaya menjadi dosen. Dia berkata kalau dari semua jajaran dosen di fakultasnya, hanya dia dan beberapa rekannya yang sangat jarang membaca buku. Sejak mahasiswa, yang ia lakukan adalah belajar dengan cara lain. Akan tetapi, dibandingkan dosen lain, dia yang mendapat penghargaan karena kecerdasannya, dia juga yang paling banyak mendapat prestasi paling banyak, sekaligus dia pula yang paling dihormati di antara dosen lainnya.

Hanya tiga bukti yang saya cantumkan disini, sebenarnya dari buku-buku dan artikel yang saya baca, serta pengalaman-pengalaman lain yang pernah saya alami, ada beberapa bukti, terutama hasil penelitian lain yang membuktikan bahwa membaca buku dapat membawa dampak yang tidak baik, alih-alih dapat merusak otak. Salah satu artikel lain yang memperkuat dapat dibaca pada situs psychologytoday.com, tuliskan kata kunci pada kolom search “Reading a book”. Disana nanti akan anda temukan salah satu artikel berjudul “Reading and Vision”. Disitu akan dijelaskan bagaimana proses kerusakan otak saat membaca buku. Untuk yang berbahasa Indonesia, bisa anda cari dalam buku Psikologi Komunikasi karangan Jalaludin Rahmat, pada bab Komunikasi Intrapersonal.

Oleh karena itu, saya sarankan untuk masyarakat, terutama mahasiswa, STOP MEMBACA BUKU! Karena buku dapat berakibat fatal bagi kecerdasan kita. Jika ingin belajar, carilah cara lain selain membaca buku. Lalu bagaimana cara belajar yang baik selain membaca buku? Di bawah ini saya akan ajukan solusi untuk belajar tanpa membaca buku.

Sebelum memberikan solusi, saya akan mengutip salah satu cerita dari buku Tasawuf: Apa dan Bagaimana yang ditulis oleh Khan Sahib Khaja Khan, tepatnya di bab dua ia kutip cerita dari seorang sufi, (tenang saja, ceritanya tidak terkait dengan judul bukunya). Disana diceritakan ada seorang raja bersama budaknya yang menaiki sebuah perahu menuju ke suatu tempat. Saat itu adalah pertama kalinya si budak naik perahu. Badannya gemetaran, keringat bercucuran, dia tidak bisa menahan serangan paniknya. Tidak lama kemudian, ada seorang dokter yang meminta izin kepada raja untuk mengobati budaknya.

Setelah diizinkan, dibawalah budak tersebut oleh dokter tadi ke tepi perahu. Diceburkanlah si budak tersebut ke dalam lautnya. Kemudian budak tersebut naik kembali ke perahu. Tindakan tersebut dilakukan dokter sebanyak tiga kali. Setelah itu, sembuhlah si budak. Badannya tidak gemetaran lagi, keringatnya tidak lagi bercucuran, serangan paniknya sudah mereda, dia kembali tenang. Raja bertanya tentang apa yang dilakukan dokter terhadap budaknya. Si Dokter hanya menjawab: Dia hanya tidak tahu bahayanya naik perahu, oleh karena itu saya ajarkan dia bagaimana akibatnya terlebih dahulu. Makna dari cerita ini akan saya jelaskan di akhir tulisan.

Ada yang perlu digarisbawahi pada tulisan ini. Faktanya, apa yang saya jelaskan dari mulai awal, beserta bukti-bukti yang saya jelaskan, adalah sebuah kebohongan belaka (kecuali cerita si Raja, Budak, dan Dokter).

Bukti pertama adalah murni karangan saya sendiri. Tidak ada penelitian dari Rusia yang mengatakan demikian. Nama Lehman Peto pun adalah fiktif. “Lehman” adalah nama yang terlintas dalam pikiran saya, “Peto” saya ambil dari nama “Richard Peto”, nama yang saya dapatkan ketika mencari di google dengan kata kunci “peneliti dari Rusia”. Ini saya lakukan agar nama “Lehman Peto” memiliki kesan ke-Rusia-an. Penelitinya saja fikif, apalagi penelitiannya. Bukti pertama adalah murni kebohongan.

Bukti kedua tidak murni kebohongan. Karena buku yang tercantum di atas, beserta pengarangnya, adalah benar-benar ada, saya cari referensi di belbuk.com. Tapi, eksperimennya palsu. Kutipan dalam bahasa Inggris di atas, adalah kutipan yang saya karang sendiri. Bentuk aslinya seperti ini:

Anak remaja, terutama mahasiswa, tidak seharusnya belajar melalui buku. Karena, pada dasarnya kemampuan verbal otak, memiliki kapasitas yang terbatas dalam menerima rangsangan dari buku. Ketika kapasitas ini tidak mampu lagi menampung pembendaharaan kata, fungsi otak dalam hal ini akan mengalami kerusakan dan berakibat fatal, karena bisa membuat bagian otak lain terkena dampaknya. Bila bagian otak lain rusak pula, akibat terlalu banyak membaca buku, ini akan sangat berpengaruh pada intelektualitas manusia.

Dari sini saya terjemahkan menggunakan Google Translate. Silahkan dicoba agar lebih percaya, pasti sangat mirip dengan kutipan yang saya cantumkan di atas. Nama peneliti “Robert Suurhof” adalah nama salah satu tokoh novel tetralogi buru, karangan Pramoedya Anantha Toer. Buku ini cukup populer. Yang pernah membacanya, pasti tahu nama dan karakter Robert Suurhof. Bukti kedua adalah kebohongan.

Ketiga, lagi-lagi ini adalah karangan belaka. Tidak ada dosen saya yang pernah berkata demikian. Karena sangat saya yakini, sebelum menjadi dosen, pengetahuan yang beliau dapatkan dari buku pastinya sudah memadai. Yang ketiga ini, saya lakukan hanya untuk membuat pembca percaya, bahwa telah ada yang membuktikan tanpa membaca seseorang bisa sukses, bahkan sebagai pengajar yang sewajarnya memiliki pengetahuan yang memadai. Lagi-lagi, bukti ketiga adalah kebohongan.

Bukti lain, tidak sepenuhnya kebohongan. Jika anda membuka situs psychologytoday.com, lalu mencari artikel dengan judul Reading and Vision. Pasti akan anda temukan. Tapi, isinya bukan menjelaskan tentang proses kerusakan otak dalam membaca buku. Itu hanya karangan saya saja. Buku Jalaludin Rahmat pun demikian, ada, bahkan bab Komunikasi Intrapersonal pun ada, tapi tidak  menjelaskan apa yang saya maksud di atas.

Kemudian, ada kejanggalan dalam tulisan ini. Dalam tulisan ini, saya bermaksud mencoba untuk memengaruhi pembaca untuk berenti membaca buku. Tetapi, yang ditampilkan adalah bukti-bukti yang didapatkan ‘seolah-olah’ dari membaca. Pertanyaannya adalah, bagaimana bisa saya tahu bahwa “membaca itu buruk,” padahal saya sendiri tahu itu dari membaca? Ya, walaupun sebenarnya bacaan-bacaan tersebut hanyalah fiktif belaka. 😀

Terakhir, jelas adalah judul tulisan ini yang sangat-sangat penuh kebohongan. Tujuan judul ini hanya untuk menarik minat pembaca saja.

Nah, dari sini mungkin anda akan tahu, apa makna dari cerita Raja, Budak dan Dokter. Baiknya, kita, termasuk saya, merasakan akibat dari malas membaca buku terlebih dahulu. Sehingga, penyakit malas membaca buku bisa kita obati di kemudian hari. Andai saja, ketika membaca buku Psikologi Belajar yang ditulis Dr. Mulyati, buku Psikologi Komunikasi yang ditulis oleh Jalaludin Rahmat, atau artikel di psychology Today, pasti kita tahu bahwa tulisan saya ini bohong besar. Atau, bila kita membaca novel tetralogi buru, pasti kita mulai bertanya-tanya ketika mendengar nama “Robert Suurhof”.

Disinilah fungsi membaca. Kita tahu banyak dengan membaca buku. Sekaligus, mengantisipasi kalau-kalau nanti kita dibohongi. Apalagi, sekarang banyak media-media yang menuliskan berita dengan tujuan tertentu untuk memengaruhi masyarakat. Mengatasnamakan survei, padahal lembaga surveinya sendiri kita tidak tahu memiliki keberpihakan atau benar-benar objektif? Banyak berita-berita di televisi, padahal kita tidak tahu tujuan dibalik pemberitaan tersebut. Akibatnya, jika percaya begitu saja, kita termakan tujuan berita.

Yang terpenting adalah, bukan maksud hati untuk menyebarkan virus keraguan. Tapi, bagaimana kita mengantisipasi kalau-kalau nanti kita termakan kebohongan. Ialah dengan mencari tahu, salah satunya dengan banyak membaca buku. Toh, buku-buku yang benar-benar baik ditulis oleh penulis yang berpengetahuan baik pula.

Dalam menulis artikel ini pun, saya berangkat dari pengalaman pribadi, dimana saya seringkali percaya sebuah tulisan atau perkataan seseorang tanpa mencari tahu kebenarannya lebih lanjut. Juga, dari mengamati orang-orang disekitar yang kekurangan minat membaca. Salah satu pengalaman saya, saya tulis dalam blog pribadi yang bisa anda lihat disini.

Akhir kata, bukan maksud membohongi. Tidak juga maksud menggurui. Toh, pengetahuan saya pun belum tentu lebih memadai. Saya hanya mengajak para pembaca untuk “mari bersama membaca buku lebih banyak”. Biar kita semakin tahu, dan tahu, agar tidak banyak generasi mendatang yang termakan oleh kebohongan, apalagi kebohongan pemerintah. 😀

Belajar dan belajar, itulah fungsi manusia di dunia. J

NB: Mohon maaf bagi semua pihak yang merasa tersinggung ataupu yang merasa dibohongi. Terutama pada ibu Mulyati (penulis buku psikologi belajar), bapak Jalaludin Rahmat, dan admin psychologytoday.com karena sudah memanipulasi data. Tidak ada maksud hati untuk berbuat demikian. Semoga para pembaca membaca tulisan ini sampai akhir. J