Jagat warta tanah air dewasa ini digemparkan dengan istilah “persekusi”, pada dasarnya persekusi merupakan bahasa asli yang sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), namun sayangnya jangankan membuka, kenal pun tidak dengan KBBI. Alhasil, istilah persekusi seakan-akan asing di telinga sebelum mencuatnya kasus yang menimpa Mario (tanpa Balotelli). Definisi persekusi menurut KBBI adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau kelompok yang kemudian disakiti, dipersulit, atau ditumpas.

Persoalan persekusi populer semenjak kasus “main hakim sendiri” yang dilakukan oleh salah satu ormas yang menganut madzab Al Fentungi pada bocah berusia 15 Tahun hanya karena bocah tersebut dianggap menghina “Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut” (daripada dipersekusi) di sosial media miliknya. Kasus persekusi sebenarnya sudah lama dan seringkali terjadi di Indonesia, namun hari ini seakan media ingin melekatkan julukan ahlul persekusi pada ormas milik Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut. Sebagai warga negara Indonesia, saya sangat bersyukur, minimal mereka yang awalnya tidak tahu sebutan untuk menyingkat “main keroyok”, “main hakim sendiri”, mulai terbiasa menggunakan istilah Persekusi.

Sebagai seorang pengamat berita kelas warung kopi, menelisik persoalan penghinaan terhadap ulama tidak bisa dengan kacamata kuda, mari kita melepas kacamata agar apa yang dicerna otak menjadi berimbang, bukan hanya menjadi hamba media. Membela seratus persen tindakan Mario bukanlah hal yang bijak dan membenarkan aksi ormas milik Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut juga bukan hal yang tepat. Secara hukum bersosial media, pertama, Mario yang berusia 15 tahun jelas melanggar; kedua, dari segi usia dirinya belum terlalu bijak dalam menggunakan sosial media; ketiga, menghina “ulama” yang hari ini sedang hangat-hangatnya dibicaraka itu seperti menyerahkan diri secara sukarela ke kandang singa.

Mereka yang hari ini begitu memuja Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut,  menganggap aksi persekusi merupakan implementasi dari amar ma’ruf nahi munkar, siapapun yang menghina ulama mulai doktor sampai bocah 15 tahun wajib untuk dikejar dimanapun sesuai dengan ucapan Habib “Prosa Rangkaian Cerita” (Novel). Tidak ada yang salah dari membela ulama dan agama, karena hal ini berkaitan dengan syariat Islam, apalagi yang menghina dari mereka yang beda agama. Minimal ketika si bocah dan bu dokter ini mendapatkan persekusi oleh ormas di dunia, menghilangkan tanggungan mereka untuk menerima Mubahalah (laknat) dari Yang Maha Kuasa.

Bayangkan apabila si bocah dan bu dokter ini tidak dipersekusi dan menerima mubahalah dari Yang Maha Kuasa, mubahalah jauh lebih pedih, menyulitkan, menyakiti si penerimanya. Bukti paling riil apabila kita ingin melihat mubahalah dewasa ini adalah dengan kasus yang menimpa Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut. Kasus yang menimpanya tidak hanya menyulitkan dan menyakitkan, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut bahkan harus minggat dari negara asalnya ke negara yang seharusnya dia tinggali untuk menghidari kasus, bukankah tamparan ormas ke pipi si bocah jauh lebih nikmat daripada haru kabur ke negara lain. Lalu kenapa Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut harus menerima mubahalah yang sebegitu pedihnya. Ingatkah kalian ketika dirinya mengatakan, “Gus Dur itu buta mata, buta hatinya” di salah satu TV swasta, mungkin dirinya sedang khilaf hingga lupa bahwa Gus Dur seorang ulama’ yang dicintai umat Islam dan agama lain.

Maka dari itu, stop menghina ulama’ atau siap-siap dipersekusi oleh Allah Subhanahu Wata’ala

*Tulisan ini terinspirasi dari Status Facebook salah satu sahabat yang Namanya Tak Boleh Disebut