Rizqi Nurhuda Ramadhani Ali*

Jika anda pernah bertanya-tanya mengapa kebijakan di UB hanya bersifat satu arah dan terkesan otoriter, atau anda heran entah sejak kapan timbul pemahaman dalam pendidikan bahwa mahasiswa adalah objek yang dididik, sementara lembaga pendidikan macam universitas memiliki kuasa penuh atas peserta didik yaitu mahasiswa? Sudah jelas-jelas jajaran elit rektorat UB menjunjung moral dan sifat agamis. Kenapa masih protes? Dalam agama, kita harus tunduk pada pemimpin. Ralat: Khalifah.

Sungguh, apa anda sebagai mahasiswa UB tidak bisa membaca fenomena yang terjadi? Contohnya sudah terlampau banyak. Lihat saja, kenapa diskusi tentang LGBT dihentikan atau bedah film di Hari Peringatan Buruh dibubarkan? Sementara tiap habis sembahyang jumat beredar selebaran-selebaran di dalam kampus yang jelas-jelas ingin menjatuhkan konstitusi negara. Disitulah letak sifat agamis rektorat: Bersifat postulat dan tak terbantahkan, kebijakannya setara dengan agama. Berbahagialah kita mahasiswa UB yang punya Wakil Rektor begitu agamis.

Nanti setelah anda wisuda, segeralah banting setir cita-cita anda menjadi Wakil Rektor. Sebab orang paling berbahagia adalah Wakil Rektor. Digaji besar, jabatan tinggi. Lantas tiap semester mendapatkan pemasukan yang dibayarkan oleh orangtua mahasiswa yang memiliki profesi beragam. Bahkan tidak sedikit orang tua dari golongan menengah ke bawah. Penjual sayur, petani, pegawai pos, sopir taksi. Siapa tahu? Selain bahagia, juga mulia. Mendapat amanah dan dipercaya wong cilik agar anak-anak mereka punya masa depan cerah. Subhanallah.

Setelah duduk di kursi elit rektorat, maka bersifatlah Iradah, berkehendak atas kekuasaannya. Seperti yang sedang terjadi baru-baru ini misalnya, dimana banyak UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sedang paceklik karena dana yang tak kunjung turun, serta ijin kegiatan yang banyak ditolak. Ya mungkin Pak Wakil Rektor punya pertimbangan sendiri, walaupun secara logika yang namanya Unit Kegiatan Mahasiswa itu, kan ya harus berkegiatan. Lha ini malah tidak diizinkan. Tapi tunggu dulu. Selalu ada alasan di balik setiap keputusan Wakil Rektor yang mulia tersebut.

scan_20160927

Mahasiswa tidak boleh menyalahkan. Tugas sebagai Wakil Rektor adalah tugas paling sakral dan hakiki seorang manusia. Sebagai hamba yang berserah diri, zuhud, dan tidak berpunya, Wakil Rektor hanya menerima “titipan” dana dari mahasiswa untuk dikelola dan dikembalikan pada mahasiswa demi pengembangan potensi mahasiswa. Kurang mulia apa coba? Analoginya, bagaikan seorang juru parkir yang bisa seenak jidat mengatur ratusan sepeda motor, walau tak satupun sepeda motor adalah miliknya. Hanya saja mungkin yang mulia Wakil Rektor belum sempat nonton film Spiderman dimana ada kutipan Uncle Ben: “With great power comes great responsibility”. Semakin besar kekuasaaan, semakin besar pula tanggung jawab yang dipikul. Maaf kata, dalam tulisan ini tidak ada maksud untuk menggurui maupun mengajak menonton Spiderman.

Jika anda mengetik kata kunci “kritik pendidikan” di mesin pencari Google maka akan bertaburanlah bermacam artikel dan opini yang membedah borok dan keropeng pendidikan dari berbagai perspektif. Misalnya Chomsky, Horace Mann, Budi Darma, atau John Dewey. Bahkan Adi W. Gunawan pernah menulis, “Born to be a genious, but conditioned to be an idiot” dimana ia menegaskan bahwa setiap orang terlahir jenius, dan lembaga pendidikanlah yang membuat mereka idiot.

Sedangkan John Dewey, seorang pemikir dan pendidik, mengritik dalam Democracy and Education, “Tujuan pendidikan bukanlah menghasilkan barang-barang bagus yang bisa dijual dan menambah kas negara, melainkan menghasilkan manusia-manusia bebas yang mampu berhubungan satu sama lain dalam situasi yang setara.” Sehingga tujuan pendidikan dan Tridharma perguruan tinggi haruslah menjadi intisari dari kebijakan rektorat yang bersifat praktis agar nantinya segala kebijakan tidak terkesan asal bikin.

Tetapi sebagai mahasiswa UB kita tidak boleh begitu saja percaya pada John Dewey. Karena John Dewey adalah orang Amerika dan hidup setengah milenium yang lalu, hal itu bisa saja tidak sesuai dengan tujuan pendidikan di UB. Seharusnya bisa disesuaikan dengan maskot UB, Brone, yang selalu menyesuaikan dengan kemajuan zaman serta up to date walaupun hanya sebongkah robot. Toh biarpun kenyataannya UB sendiri tidak bisa menentukan dengan jelas prospek lulusannya: mau diprospek menjadi para tenaga kerja atau menjadi manusia-manusia sosial yang seutuhnya. Tetapi tidak perlu khawatir. Selama mahasiswa UB masih percaya penuh pada Wakil Rektor yang mulia dan tidak banyak protes, keadaan UB akan tetap seperti saat ini.

Tak perlulah ada pemikiran sok revolusionis seperti saat para pemuda menculik para proklamator. Terlalu berlebihan, tidak dapat untung, dan tidak mencerminkan UB sebagai kampus Entrepreneurial University. Sebaiknya bikin kaos saja bertuliskan: Wrong or Right He is My Rektor.

Akhir kata, jika ilmu anda masih belum cukup untuk dapat menghayati kemulian seorang Wakil Rektor, maka ada baiknya anda diam saja dan tersenyum. Sebab, meminjam istilah Agus R. Sarjono, bahwa pendidikan Indonesia saat ini adalah humor paling besar di negeri ini. Wassalam.

 

*Penulis adalah Mahasiswa FIB UB

Sumber : http://kavling10.com/2016/09/surat-terbuka-untuk-seluruh-mahasiswa-ub-yang-sok-kritis-jangan-menentang-yang-mulia-wakil-rektor/