Surat terbuka untuk Tsamara Amany adalah sebuah artikel yang membahas tulisan dari alumnus Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair) yang kami ambil dari Facebook story beliau. Berikut adalah surat terbuka tersebut :

Perkenalkan nama saya Rayla Prajnariswari Belaudina Kusrorong, saya (bukan) seorang politisi muda. Meski belum pernah bertemu, apalagi mengenal Anda secara personal dengan baik dalam acara diskusi maupun dalam dialog-dialog formal dan informal lainnya, perkenankan saya untuk berkomunikasi dengan Anda secara terbuka di sela-sela kesibukan Anda sebagai calon gubernur DKI suatu saat nanti.

Pertama-tama, mengapa surat ini saya tujukan untuk Anda bukan yang lain seperti Sist Grace Natalia atau Ibu Eva Sundari atau bahkan Pak Fahri Hamzah. Itu dikarenakan saya tertarik dengan popularitas Anda akhir-akhir ini, cukup menggelitik pikiran saya. Biasanya saya memilih membaca jurnal sambil minum kopi, lain pula kali ini.

Sang politisi muda, Tsamara.

Awalnya saya tidak tahu Anda siapa, dari latar belakang mana, atau bagaimana Anda hadir dan tiba-tiba viral di media sosial belakangan ini. Sebagai (bukan) seorang politisi muda, saya banyak memperhatikan figur-figur muda yang terjun ke dunia politik.

Saya tahu akan sangat berdosa jika saya menyarankan Anda untuk berkonsentrasi pada kuliah dulu, sembari mematangkan pengetahuan berpolitik. Saya sangat mendukung anak muda seperti Anda untuk ambil peran dalam pentas panggung politik. Namun, gagasan dan langkah Anda kadang menggelitik saya, apalagi tersemat bagi Anda sebagai “politisi muda”. Konon katanya, perwakilan generasi milenial.

Pertama, menantang Fahri Hamzah “bertengkar”. Saat acara ILC membahas soal hak angket KPK, saya melihat Anda dengan percaya diri mengkritik keras Pak Fahri Hamzah. Mbak politisi muda berlipstik merah yang saya banggakan, ketahuilah bahwa menolak atau menyuruh pembubaran Pansus Angket KPK, Anda tidak sedang berjuang melawan koruptor.

Mengapa? Di tengah opini upaya pelemahan KPK, yang mereka butuhkan adalah Anda membawa bukti di lembaga peradilan, bukan melawan dengan cara politis dan menggiring opini publik bahwa mereka yang mencurigai atau mempertanyakan KPK adalah pendukung koruptor. Bagaimana Mbak, sampai di sini kita sepakat? Hehehe…

Ada lagi. Saya tidak ingin men-judge bahwa Anda terlalu belia dan belum pantas berorasi di depan Gedung KPK. Tapi, alangkah baiknya Anda yang (katanya) diakui sebagai politisi muda terlebih dahulu belajar prioritas yang dihadapi negara ini. Misalnya saja seperti krisis sosial-ekonomi, belajar dari realitas orang miskin dan kaum marjinal.

Kedua, bagaimana bisa gagasan Anda bahwa untuk menjadi politisi itu hanya dengan cara baca berita, bikin vlog dan menulis, serta masuk organisasi/partai? Saya tiap hari baca berita, menulis lumayan sering, terlibat organisasi juga sudah. Apa karena saya belum membuat vlog sehingga saya belum bisa jadi politsi muda yang populer akhir-akhir ini seperti Anda? Mbak politisi muda, kalau Anda paham ilmu politik, di dalam politik ada seni berpolitik, selain itu ada seni memerintah dan bagaimana menjalankannya. Dalam politik, ada manusia-manusia politik, dan mereka adalah pencipta perubahan.

Dunia politik itu bukan hanya soal kepentingan dan bagaimana mewujudkannya. Politik itu bukan hanya soal keberanian dan kepedean, tapi juga membutuhkan strategi taktik dalam lingkup siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana. Sederhananya, bagaimana negara melakukan manajemen untuk mencapai tujuan negara bagi rakyatnya.

Ketiga, Anda sebagai politisi muda secara praktis (mungkin) belum melihat langsung realitas di lapangan. Dalam berbagai diskusi, Anda hadir sebagai elite partai yang berbicara menurut data. Maksud saya adalah memublikasi diskusi berdasarkan hasil data sebaiknya didasarkan pada fakta di lapangan. Sehingga, hasil data tersebut mampu bersinergi dengan apa yang Anda bicarakan dan apa yang terjadi di lapangan. Omongan yang hanya bertujuan menarik simpati, sangat mudah dicari cela kritiknya.

Sang politisi muda Tsamara.

Mari sama-sama belajar dengan baik dan membuat perubahan pada aksi-aksi nyata dan strategis yang berpengaruh langsung pada masyarakat seperti kampanye anti-kemiskinan atau membuat vlog tentang edukasi politik. Mari sama-sama rombak pola pikir dengan baik dan sayangilah langkah Anda yang masih belia, karena politik bukan soal instant. Mari sama-sama belajar dahulu seni politik sampai matang baru ngomongin bagaimana mengajak anak muda yang lainnya ikut terjun ke dalam politik.

Ini agar Anda bisa matang berpikir tanpa ditunggangi. Supaya Anda bisa berbicara sesuai dengan omongan dan keyakinan Anda sendiri. Jangan sampai di kepala Anda, bayi gagasan yang lahir premature dan tidak tumbuh dewasa.

Demikian Tsamara.
“Kata-Kata adalah Senjata”