“Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai pada malu tersipu. Tak perlu lagi orang berapa bertahun untuk dapat bicara dengan seseorang diseberang lautan. Orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India! Dan kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi..”

Sebuah kutipan dari novel Bumi Manusia, karangan Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan peliknya perkembangan teknologi yang melilit dunia. Menamai dirinya modernisasi, dan melupakan sejarah yang membangunkannya. Teknologi, betapa indah harga yang didapat saat orang memilikinya. Betapa mudah memiliki waktu santai saat orang menggunakannya. Namun, betapa sakit hati leluhur saat anak-cucunya mengabaikan warisannya hanya demi sebongkah besi pintar.

Indonesia, adalah negeri yang kaya akan budaya. Bangsa yang hadir dengan beragam warna. Menghiasi dirinya dengan permata hati. Melangkah pasti dengan ramah tamah, meski memiliki banyak harta. Namun, itu dulu, saat bangsa ini belum tersentuh budaya barat, beberapa abad yang lalu, saat para pewaris kebudayaan masih bernafas. Saat ini, bangsa Indonesia sulit membuka mata untuk melihat buah dari masa lalu. Benih-benih sejarah hanya sekedar tertanam di dalam tubuh Ibu Pertiwi, enggan merawat, terabaikan sia-sia.

Air mata Ibu Pertiwi menetes tiap waktunya, membasahi goresan pena dalam buku sejarah yang berdebu tertata rapi di almari, sedangkan tumpukan buku bangsa eropa  berada di atas meja belajar anak-anaknya. Ibu pertiwi menangis, melihat garuda merintih terlukai oleh dosa anak-anaknya. Tidak ada lagi moral, tidak penting lagi nilai, yang penting punya gak susah. Manusia Indonesia, tidak lagi seputih benderanya, darahnya tak lagi semerah sang pusaka.

Di Indonesia

Indonesia dulu, bangsa yang dikenal dengan kebersamaannya. Saat lingkungan tempat tinggal dirasa kotor, warganya berkumpul, bekerja sama membersihkan daerahnya. Saat ada tetangga yang meninggal, dengan tulus warga berbondong-bondong menghibur yang kehilangan. Anak-anak bermain bersama dengan senyum polosnya. Namun, teknologi hadir, menjadikan semuanya terasa mudah. Tak perlu lelah berkeringat demi kebersihan lingkungan, masyarakat tinggal menunggu atau memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan sampah-sampah di sekitar tempat tinggal mereka. Saat ada kerabat yang meninggal, hanya dengan mengirimkan pesan singkat via telepon genggam, masyarakat sudah merasa bersimpati. Lalu, anak-anak sekarang, tak perlu lagi main bersama-sama di sebuah lahan kosong. Game online telah mempertemukan mereka di dunia maya dan cukup terbilang dapat cukup menghibur.

Cukup mudah, cukup indah dan cukup menghibur. Teknologi mempermudah segalanya, namun cukup mengeruk maknanya. Mungkin, petugas kebersihan dapat membersihkan sampah-sampah yang berserakan, namun petugas kebersihan tidak dapat merekatkan orang-orang seperi yang dilakukan gotong royong. Petugas kebersihan juga tidak dapat menciptakan suasana hangat saat bapak-bapak berkumpul bersama setelah selesai mengerjakan tugasnya, menikmati cangkir demi cangkir kopi hitam, ditemani dengan asap-asap rokoknya, dan candaan khas mereka, sambil menunggu ibu-ibu bersama-sama membuatkan pisang goreng untuk santapan bersama. Lalu, yang terpenting, petugas kebersihan tidak bisa menghadirkan rasa puas dalam diri warga atas hasil kerja kerasnya bergotong royong membersihkan tempat tinggalnya.

Lain halnya dengan petugas kebersihan, pesan singkat atau yang biasa dikenal dengan SMS (Short Message Service), fasilitas yang diberikan oleh telepon genggam, justru bisa menjaga tali silaturahmi masyarakat. Dengan SMS, seseorang dapat menunjukkan kepeduliannya terhadap sesamanya. Sayangnya, SMS tidak dapat sepenuhnya memberikan gambaran ekspresi seseorang. Andai saja seorang individu menunjukkan kepeduliannya dengan datang langsung menemui kerabat yang dituju, setidaknya ia akan mengetahui ekspresi wajah dari kerabatnya. Ekspresi adalah gambaran perasaan manusia. Dengan melihat ekspresi, seseorang dapat memahami apa yang sedang dirasakan orang lain. Dengan memahami perasaan orang lain, ketulusan dari sebuah kepedulian secara otomatis akan timbul menyelimuti hati.

Teknologi tidak hanya menggandrungi orang-orang dewasa. Anak-anak dengan kepolosannya,  juga terkena dampak yang dihasilkan oleh teknologi, game online khususnya. Game online bagaikan candu yang membuat anak-anak tidak bisa lepas darinya. Inilah yang paling memprihatinkan. Anak-anak yang merupakan benih-benih emas bangsa ini, terkontaminasi oleh produk luar negeri, yaitu game online. Di zaman serba instan ini, game online yang diskonsumsi oleh anak-anak cenderung mengandung unsur-unsur kekerasan. Wajar saja ketika perilaku anak-anak zaman sekarang cenderung nakal dan tak terarah. Terlebih saat pengawasan orang tua sangat minim,  anak-anak nantinya akan terlalu bebas mencicipi produk-produk yang tidak sepantasnya dikonsumsi.

Selain itu, game online juga menghilangkan permainan-permainan tradisional yang pernah jaya di abad 20-an. Galasin, petak umpet, bentengan, dll, tidak banyak lagi bermunculan di tanah air. Reputasi hiburan anak-anak tersebut seolah-olah telah tertutupi oleh popularitas game online atau game-game lain bentukan bangsa asing. Bocah-bocah Indonesia tidak lagi bangga memainkan hiburan yang sekarang telah dianggap kuno. Seiring berjalannya waktu, keberadaan hiburan asli Indonesia akan menghilang dari peradaban.

Teknologi telah memanjakan rakyat Indonesia. Contoh di atas hanya sebongkah karang dalam lautan, masih banyak karang-karang lainnya jika mau mencari. Tawaran teknologi memang menggiurkan, namun memanjakan. Ibu mana yang tak sedih melihat anaknya tak bisa mandiri? Itulah yang dirasakan Ibu Pertiwi. Beliau menangis lagi karena anak-anaknya dimanjakan oleh teknologi. Jerih payahnya membangun hiburan yang kaya akan nilai, seolah tidak dihargai. Apalagi, tidak semua sadar kalau sang ibu menangis.

Ibu hanya ingin melihat anak-anaknya dewasa. Dapat mandiri, cerdas, bahagia, baik hati, dan yang pasti, tetap mengamalkan nilai-nilai yang telah diajarkannya. Ibu mengajarkan tari, membacakan dongeng, mengajak bermain, menjadi guru dalam berinteraksi, namun tak ada yang mau mendengarkannya. Ibu menangis, saat dirinya terabaikan. Beliau bersedih, saat dirinya terlupakan.

Jangan lagi buat ibu menangis. Jangan lagi membuang air matanya. Sudah waktunya manusia Indonesia bangkit menjadi manusia yang menghargai ibunya. Tidak ada ibu yang ingin anaknya menjadi orang yang jahat. Ibu pertiwi juga, tidak ingin anak-anaknya menjadi orang yang jahat, apalagi tidak berguna. Oleh karenanya, ibu telah wariskan nilai-nilai yang banyak demi anaknya. Tidak ada yang negatif dari pemberiannya, selama manusia tetap pada garis yang dibuatnya. Bersikaplah ramah, tuluslah dalam bertindak, hargai orang lain, dan berjanjilah pada ibu pertiwi, “Ibu, kami berjanji akan jadi mandiri. Ibu, kami berjanji akan melestarikan warisanmu”