Jangan marah kalau Ridwan Kamil (RK) dibajak partai lain. RK jelas bukan kader Gerindra maupun PKS.

Gerindra tentu sudah terbiasa ditinggal. Dulu Ahok diusung sbg Cawagubnya Jokowi di Pilgub 2012 oleh partai besutan Prabowo tsb. Di tengah jalan ditinggal Ahok krn mbalelo atas keputusan Partai yg ingin Pemilihan Kepala Daerah dipilih oleh DPRD seperti dulu.

Lantas kenapa dulu RK yg kalian puja puji setinggi langit, sekarang dibully habis2an krn dipinang partai lain? Hargai sikap politik RK yg bersedia dideklarasikan dalam Pilgub Jabar 2018 oleh partai lain selain pengusungnya di Pilwalkot Bandung 2013.

Kalau mau tetap berjaya di Jabar dalam Pilpres 2019 nanti, Gerindra dan PKS tak usah ambil pusing untuk mengusung kembali sosok teknokrat negarawan tsb menjadi Jabar Kahiji.

NasDem mah gitu orangnya. Strategi mereka dalam Pilkada yang sudah2 memang selalu mengusung figur yg populer dan memiliki elektabilitas tinggi.

Selain itu, urusan merayu kader2 potensial di parpol lain untuk bergabung memperkuat barisan, NasDem jagonya. Ambil contoh, transfer ciamik politisi yang sukses dilakukan NasDem diantaranya menampung Saan Musthopa yang dicampakkan Demokrat.

Kemudian ada Mustafa Bupati Lampung Tengah yang sebelumnya Ketua DPC Golkar Lampung Tengah. Ketika ia jadi Bupati, NasDem langsung membajaknya. Di Sumatera Barat ada Walikota Solok Zul Elfiyan yang berpotensi menang jadi Walikota langsung dipinang untuk merapat ke NasDem.

NasDem sadar, sebagai salah satu parpol pendukung Jokowi, untuk menyongsong Pilpres 2019, agar Jokowi bisa menang mutlak, basis suara di Jabar harus direbut. Kenapa? Karena Prabowo menang telak di sana pada Pilpres 2014.

So, situ waras ngebully RK karena dianggap salah langkah dalam menerima pinangan NasDem? Kabarnya PDI Perjuangan, PAN, dan PPP akan menyusul mengusung RK. Kalau Gerindra dan PKS punya calon yang mampu menandingi RK yang sdg moncer2nya ya sok atuh.

Kalau saja kalian yang menyeret2 konstelasi Pilgub Jakarta ke Pilgub Jabar tahu bahwasannya RK itu rajin silaturahim ke berbagai kelompok waktu kampanye Pilwalkot Bandung 2013 lalu dan selama jadi Walikota. Salah satunya ke basis kelompok Majelis Pengajian Syiah terbesar di Bandung besutan Habib Ali Assegaf. Kaget? Nyesel dukung RK?

Yang jelas, politik itu dinamis. Bahkan tafsir bebas teori Machiavelli: dalam merebut kekuasaan, iblis sekalipun kudu didekati. Nah masalahnya dalam politik itu sulit membedakan mana malaikat mana iblis!