Perhatian: Bagi kaum intelektual, jangan baca tulisan ini. Karena abis baca pasti kalian akan ngomong (dalam hati) “inimah gue juga tau!” Jadi tulisan ini tertuju untuk generasi milenial yang… (tolong diisi di comment).

Ngomong soal kebutuhan primer manusia, kita pasti akan langsung kepikiran sama sandang, pangan, dan papan. Betul? Tapi coba kalo pertanyaannya, diantara pakaian, makanan dan tempat tinggal, mana yang paling penting buat manusia? Mungkin sebagian orang akan langsung jawab, makanan! (ini Cuma asumsi gue aja dari beberapa temen yang gue tanyain, enggak ada riset yang valid sih).

Memang betul, kalau kita nggak makan kemungkinan besar kita mokat, alias ketam, alias meninggal, jadi makan emang penting buat bertahan hidup. Terus kenapa waktu SD kita diajarin kebutuhan primer adalah sandang, pangan, dan papan? Jelas-jelas kalo nggak pake baju tapi makan kita bisa hidup kok. Jadi harusnya pangan, sandang, dan papan? Apa urutan sandang, pangan, dan papan itu Cuma biar enak didenger aja?

Hiraukan gambar ini. Sumber: Istimewa

Salah! Jawabannya tetep bener, sandang, pangan, dan papan. Kenapa? Coba kita pakai analogi sederhana. Begitu kita lahir ke dunia ini apa langsung dikasih ASI sama ibu kita? Enggak kan, pasti dibersihin dulu, terus dibungkus dengan kain atau semacamnya, jadi kita dikasih sandang dulu.

Analogi selanjutnya kenapa sandang yang pertama adalah, karena sandang menggambarkan martabat seorang manusia. Coba deh kalo kita jalan-jalan nggak pake baju beli makan di warteg, apa enggak disangka orang nggak waras? Atau jangankan nggak pake baju, coba kita ngelamar pekerjaan dengan pakaian yang kurang sopan, apa bisa kita diterima kerja? Kalo enggak kerja ya nggak punya uang, enggak punya uang ya enggak makan, kalo enggak makan…

Jadi intinya, kenapa urutannya harus sandang dulu ya karena sandang menggambarkan martabat seorang manusia. Setelah itu baru kita bisa melakukan hal lainnya. Tapi bukan berarti gue mau bilang “yang penting pake pakaian bagus, nggak makan enggak apa-apa.” Enggak! Gue enggak bilang gitu lho ya.

Berkaitan dengan itu, kita coba kilas balik ke tahun awal-awal Indonesia merdeka. Tahun 1962 Indonesia resmi mempunyai stadion yang saat itu digadang-gadang sebagai salah satu stadion terbesar di dunia. Stadion yang sekarang kita kenal dengan nama Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) memiliki kapasitas 100.000 penonton! Belum lagi fasilitas olahraga lainnya yang juga dibangun bersamaan dengan itu.

Bersamaan dengan pembangunan SUGBK waktu itu juga dibangun Masjid Istiqlal, Monas (Monumen Nasional), dan Hotel Indonesia. Pertanyaannya, kenapa Bung Karno malah membangun semua itu disaat keadaan ekonomi Indonesia saat itu belum stabil? Membangun semua itu pasti kan memakan biaya enggak sedikit?

Jawabannya gampang kok, karena Bung Karno enggak lupa sama pelajaran sandang, pangan, dan papan waktu sekolah. Ditambah lagi, beliau adalah pemimpin yang sangat filosofis. Bung Karno sadar, sebagai bangsa yang baru merdeka kala itu, bangsa Indonesia harus segera bangkit dari trauma masa lalu. Indonesia sebagai suatu bangsa harus memiliki suatu kebanggaan tersendiri dan memiliki martabat sehingga dapat dihargai dimata dunia internasional.

Makanya dibuat SUGBK, salah satu stadion terbesar dan termegah di dunia yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia. Dari situ, Indonesia mulai dipandang di mata dunia internasional, karena kesiapannya menyelenggarakan Asian Games. Selanjutnya Indonesia juga menjadi tuan rumah GANEFO (Games of The New Emerging Forces) yaitu pesta olahraga tandingan Olimpiade yang digagas Bung Karno karena Indonesia di skors pada Olimpiade Tokyo 1964.

Sumber: Istimewa

Alasan Indonesia di skors adalah karena pada Asian Games di Indonesia tahun 1962, Israel dan Taiwan dilarang ikut. Pelarangan ini diambil sebagai salah satu strategi politik internasional Indonesia terhadap RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dan simpati terhadap perjuangan rakyat-rakyat Arab melawan Israel.

Sumber: Istimewa

Selanjutnya ada Monas, kenapa harus bangun Monas juga? Sebuah peradaban bangsa tentu memiliki penanda melalui bangunan bersejarah. Memang, Indonesia punya banyak peninggalan bersejarah yang sangat luar biasa berupa candi-candi dan sebagainya. Namun itu peninggalan masa kerajaan, bukan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang telah bersatu. Untuk itu, Bung Karno membangun Monas, sebagai simbol peradaban Indonesia sebagai sebuah bangsa yang telah bersatu. Sebuah simbol perjuangan bangsa Indonesia yang telah berhasil lepas dari kolonialisme dan imperialisme.

Sumber: Istimewa

Selanjutnya ada Masjid Istiqlal yang merupakan Masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid Istiqlal merupakan kebanggan umat Islam di Indonesia, sebagai negara dengan penduduk yang beragama Islam terbesar di dunia. Masid Istiqlal juga menjadi simbol rasa syukur bangsa Indonesia atas anugerah yang diberikan Allah SWT.

Sumber: Istimewa

Sekali lagi, intinya kenapa Bung Karno memilih membangun semua itu disaat ekonomi kita belum stabil, ya karena dengan memiliki sesuatu yang sangat wah dan megah itu, sedikit banyak merubah persepsi dunia internasional terhadap bangsa Indonesia. Dari sebuah bangsa terjajah yang sering dikatain, diinjek-injek, enggak dianggep, sekarang setelah merdeka bangsa Indonesia berusaha menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang beradab, bermartabat, dengan segala kemegahan dan kebanggaan yang kita miliki.

Sehingga dengan begitu Indonesia dipandang di mata dunia internasional, bahkan diperhitungkan sebagai poros kekuatan dunia yang baru. Jadi, Indonesia punya nilai tawar yang tinggi di dunia internasional.

Yah kira-kira begitulah kawan-kawan milenials. Saat ini yang paling penting, bagaimana kita bisa mengembalikan kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu. Para pendahulu kita pada zaman itu ditengah keterbatasannya bisa kok membuat yang keren-keren supaya Indonesia dihormati dan dihargai di mata dunia. Juga supaya kita sebagai suatu bangsa punya suatu kebanggaan dan enggak bermental jajahan. Jadi, kita di era yang super canggih ini mau buat apa nih?