Film alternatif berjudul Ziarah memang layak ditayangkan di bioskop komersial terbukti dari banyaknya apresiasi. Di hari pertama tayang, tiket film Ziarah terjual ludes di Yogyakarta dan Malang. Sang cameo Hanung Bramantyo, yang turut berperan dalam film Ziarah, secara terus terang memuji sang sutrada, BW Purbanegara, dalam sebuah video yang diunggah akun instagram film Ziarah (@filmziarah). “Dia memotret kehidupan yang kita tidak akan pernah menyangka akan menarik, salah satunya di film Ziarah ini,” ungkapnya.

Sebelumnya, film berbahasa Jawa tersebut memang telah mendapat apresiasi berupa penghargaan dalam beberapa kompetisi. Di tingkat internasional, Ziarah dinobatkan sebagai film terbaik dalam Salamindanaw Film Festival di Filipina pada 2016, juga dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) pada 2017. Semua apresiasi itu didapatkan karena film ziarah berkualitas, atau lebih tepatnya disebut bergizi! Berikut tiga hal yang membuat film Ziarah bergizi:

1. Alternatif Memahami Sejarah

Sumber: Dokumentasi Film Ziarah

Berbeda dengan buku-buku sejarah di bangku sekolah yang mungkin telah ditulis ulang oleh pemerintah yang sedang berkuasa, film Ziarah memberikan informasi sejarah dengan menghadirkan para saksi. Wawancara dengan para saksi membuat film Ziarah dapat menjadi alternatif untuk memahami beberapa fakta sejarah. Di akhir film dapat dilihat deretan nama saksi sejarah yang turut menyumbang informasi dalam cerita film tersebut.

Diceritakan bahwa Mbah Sri (diperankan Ponco Sutiyem), seorang perempuan lanjut usia, berjuang mencari makam suaminya yang diduga gugur dalam Agresi Militer Belanda II. Dalam pencariannya, Mbah Sri bertanya pada orang-orang yang ikut berjuang dalam agresi tersebut, juga pada keturunan dan kenalan orang-orang yang pernah mendengar kisah tentang suaminya. Informasi sejarah mengalir melalui dialog-dialog di dalamnya.

Tak hanya tentang agresi dengan Belanda, informasi sejarah terkait pembuatan waduk Kedung Ombo di zaman Soeharto juga turut disampaikan melalui dialog antara Prapto (diperankan Rukman Rosadi), cucu laki-laki dari Mbah Sri dengan penduduk setempat. Uniknya, banyaknya informasi sejarah tidak membuat film Ziarah membosankan, tapi justru membuatnya semakin menarik. Dengan genre drama, informasi sejarah menjadikan film Ziarah terkesan sangat membumi, seakan cerita fiksi di dalamnya adalah kisah nyata.

2. Alur Cerita yang Memutar Otak

Sumber : Official Website Ziarah

Setiap dialog dalam film memang menyusun alur cerita. Namun dalam film Ziarah, penonton harus dengan detail mengingat dialog untuk memperoleh gambaran yang utuh. Siapa sangka bahwa suami Mbah Sri, yaitu Mbah Prawiro Sahid, tidaklah gugur dalam Agresi Militer Belanda II. Baru di akhir cerita, itu pun bila penonton mengingat dialog cukup detail, diketahui bahwa suaminya baru meninggal bertahun-tahun setelah agresi tersebut. Setelah agresi, Mbah Prawiro Sahid bahkan sempat menikah lagi, padahal Mbah Sri masih menanti kepulangannya.

Karena tak juga kembali, Mbah Sri menyimpulkan bahwa suaminya telah gugur dalam perang. Terkait dengan potongan kisah tersebut, jika tak jeli penonton akan menganggap Prawiro Sahid sebagai tokoh yang tak setia. Padahal, jauh di awal film dalam dialog antara Mbah Sri dengan salah satu pejuang dalam agresi, dikisahkan bahwa Prawiro Sahid mengira mbah Sri telah mati terkena peluru yang ditembakkan seorang Belanda dalam peristiwa Agresi kedua.

3. Kaya Nilai-Nilai Kehidupan

Sumber: id.mybookshow

Salah satu nilai kehidupan dalam film Ziarah yang diamini banyak orang adalah berdamai dengan masa lalu. Dalam film disampaikan bahwa tidak semua orang bisa berdamai dengan masa lalu. Melalui dialog para penumpang mobil pick-up yang mengantar Prapto menjemput Mbah Sri pulang, diberitakan seorang perempuan mati bunuh diri karena baru mengetahui suaminya pernah selingkuh bertahun-tahun silam.

Namun perempuan itu berbeda dengan Mbah Sri. Walau baru mengetahui bahwa suaminya telah menikah lagi, Mbah Sri akhirnya berbesar hati berdamai dengan kenyataan itu. Hal itu digambarkan dengan adegan Mbah Sri yang akhirnya membersihkan makam istri kedua Prawiro Sahid, yang dikuburkan di samping makam suaminya itu. Selain itu, dialog-dialog lain dalam film Ziarah juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Salah satunya adalah dialog Prapto dengan calon istrinya melalui telepon. Prapto menasihati, “Nek awakke dewe kakean ngerungoke suarane wong liyo, awakke dhewe ora iso ngerungokke suarane dhewe.” Dalam bahasa Indonesia kalimat itu berarti “jika kita terlalu banyak mendengar suara orang lain, kita tak bisa mendengar suara kita sendiri.”

Tiga hal itu lah yang membuat film Ziarah bergizi, sehingga wajib untuk ditonton dan bahkan dikoleksi. Karena film yang bergizi, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tapi juga memberikan wawasan!