Kritik bukanlah fitnah. Kritik juga tak selalu bertujuan untuk menyerang. Begitulah semoga Tsamara Amany dan pendukungnya memahami kritik untuknya, termasuk apa yang disampaikan Rayla Prajnariswari, seorang alumnus Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Airlangga, dalam surat terbukanya untuk Tsamara.

Rayla dalam suratnya mengaku tertarik dengan popularitas Tsamara dan tergelitik dengan langkah politiknya. Popularitas Tsamara memang meningkat setelah twitwar Tsamara dengan Fahri Hamzah dan kehadiran keduanya di Indonesia Lawyers Club. Pemberitaan tentang Tsamara pun cukup positif, bahkan seringkali ia disebut sebagai politisi muda yang berani dan inspiratif. Namun, dari surat Rayla dapat disimpulkan bahwa ia memandang langkah politik Tsamara terlalu buru-buru.

Rayla mengkritik pilihan Tsamara untuk berdebat dengan wakil ketua DPR sebagai langkah yang tidak efektif dibanding bila Tsamara membawa bukti di persidangan untuk bisa melepaskan KPK dari upaya pelemahan melalui angket oleh DPR. Dengan hanya berdebat dan menggiring opini publik, aktivitas politisi tersebut dalam berjuang melawan korupsi tidak terlihat begitu nyata.

Tsamara bahkan bisa jadi tertinggal jauh dari kawan-kawan sesamanya yang telah bergabung dengan organisasi antikorupsi, seperti Indonesia Corruption Watch (ICW) dan organisasi serupa di daerah-daerah. Daripada memilih beretorika, banyak anak muda lebih memilih berdiskusi untuk menentukan langkah strategis dalam memerangi korupsi, yang kemudian menjadi masukan bagi KPK.

Selain kritiknya pada langkah Tsamara yang tidak efektif dalam memerangi korupsi, Rayla menganjurkan Tsamara sebagai politisi untuk memahami isu-isu yang menjadi prioritas Indonesia, seperti contohnya krisis sosial-ekonomi di negeri ini. Kritik tersebut disampaikan Rayla tentu karena dalam kesempatan apapun Tsamara melulu membicarakan korupsi dan intoleransi.

Hal tersebut menarik untuk dicermati mengingat Tsamara sebagai politisi muda memang seharusnya lebih peka dengan isu-isu utama di negeri ini, bukan hanya isu-isu bombastis atau yang sedang naik ke permukaan. Krisis sosial-ekonomi yang disebutkan Rayla seharusnya bisa melatarbelakangi Tsamara memerangi korupsi, mengingat korupsi sangat erat kaitannya dengan konflik sosial-ekonomi yang menjadi masalah serius di negeri ini.

Namun, dalam banyak wawancara sayangnya Tsamara menghubungkan korupsi hanya dengan inefektivitas birokrasi, atau dengan distribusi barang yang tersendat sehingga membuat harga-harga melambung tinggi. Hal ini mengamini sindiran Rayla lewat anjuran untuk Tsamara agar belajar dari realitas orang miskin, yang menandakan Tsamara perlu lebih banyak turba, turun ke bawah.

Rayla pun mengingatkan Tsamara untuk terlebih dahulu memahami dunia politik yang tidak hanya membutuhkan keberanian dan kepedean. Sebagai alumnus Hubungan Internasional yang memang banyak mempelajari politik, Rayla sesuai dengan kompetensinya untuk menyebutkan bahwa politik membutuhkan taktik dalam lingkup siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana. Tentang ini, tentu butuh dipelajari.

Peringatan Rayla harusnya membuat Tsamara sadar bahwa dirinya belum dapat menjadi pelayan rakyat (pejabat) bukan hanya karena kurang umur, tapi karena ia masih perlu banyak belajar. Bila tidak, pengalamannya yang singkat di bidang politik akan membuatnya rawan ditunggangi kepentingan-kepentingan tertentu tanpa ia sadari.

Kritik dari Rayla dan siapapun tentunya perlu direnungkan, khususnya bagi Tsamara, namun secara umum bagi semua anak muda generasi millennial yang ingin terjun ke dunia politik. Kritik yang membangun bisa diambil, yang buruk harusnya dihadapi dengan baik. Karena bila tak bisa menghadapi kritik dengan baik, bagaimana bisa menghadapi lawan politik?