Pada umumnya, ada berbagai macam fobia yang dialami manusia. Misalnya, fobia terhadap binatang, tumbuhan sampai makanan. Namun, di Indonesia ada satu fobia aneh, yakni komunistofobia yang ditandai dari rasa takut berlebihan seseorang terhadap komunisme atau PKI (Partai Komunis Indonesia) atau kiri. Seperti virus, komunistofobia ini menyebar dengan gejala seperti menurunnya akal sehat dan puncaknya adalah amnesia.

Sekitar setengah bulan lalu, Bapak Amien Rais, salah satu tokoh yang didaulat sebagai ‘bapak reformasi’ kembali terkena virus komunistofobia ini. Bahkan beliau menuduh Jokowi sengaja membiarkan ideologi dan organisasi politik tersebut karena membubarkan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Gejala tersebut secara jelas diwartakan lini masa detiknews, ketika beliau berseloroh “Kalau HTI dibubarkan kemudian komunisme dikembangan itu apa hasilnya? Jelas sekali PKI di depan mata dibiarkan. Ya toh?”

Memang hubungan antara beliau dan Jokowi ini lebih menarik dari hubungan tanpa statusnya dengan KPK. Pasalnya, cuma Jokowi yang menyebabkan Pak Amien terkena virus komunistofobia. Kita tentu ingat ketika presiden kita yang gemar menanyakan nama-nama ikan ini masih menjadi calon presiden. Pak Amien mendadak terjangkit virus ini dengan ikut serta dalam ‘black campaign’. Puncaknya adalah wacana dagelan ketika beliau turut mendukung diskurus bahwa ‘Jokowi adalah PKI’.

Entah darimana beliau ini mengatakan bahwa rezim Jokowi menjaga perkembangan komunisme dan PKI. Lah, wong paket kebijakannya sudah bercorak neolib kok malah komunis. Tapi sebagai anak muda yang mudah dilanda ke-galau-an, kita patut mencontoh sikap beliau kepada Jokowi yang selalu konsisten. Pokoknya, apapun bentuknya, Jokowi adalah PKI, komunis dan antek aseng.

Virus komunistofobia dalam diri Pak Amien memang sudah kronis sehingga mengakibatkan amnesia sejarah. Kita tahu jika beliau pernah menjabat sebagai Ketua MPR RI. Sebagai ketua, beliau pasti tahu posisi PKI dalam arena per-politikan Indonesia pasca orde lama sampai reformasi. Aneh rasanya jika beliau tidak tahu bahwa PKI tidak mungkin hidup lagi karena dinyatakan sebagai organisasi terlarang melalui TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

Gejala amnesia juga semakin parah karena beliau benar-benar lupa pernah mengesahkan TAP MPR Nomor I/MPR/2003 yang isinya meninjau ulang ketetapan MPRS dan MPR dari tahun 1960 – 2002. Salah satunya adalah tetap memberlakukan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 dengan memposisikan penyebaran ajaran Marxisme-Leninisme sesuai dengan hukum, prinsip demokrasi dan HAM.

Sebenarnya virus komunistofobia tidak hanya menyerang sistem kesehatan nalar Pak Amien saja, melainkan juga pada organisasi-organisasi yang berebut lahan parkir dan sampai menyerang sistem akal sehat pemerintah kita. Perlu kita ketahui juga, virus ini pernah pesat bertumbuh pada zaman orde lama. Seiring reformasi, virus ini masih saja terdapat dalam sistem pemerintahan kita, termasuk di daerah-daerah.

Salah satu daerah yang terkena virus ini adalah pemegang kekuasaan di Banyuwangi, salah satu daerah ujung timur Pulau Jawa yang akhir-akhir ini gemar sekali ber-festival. Kecerdasan para pemegang kekuasaan disana dalam memasarkan daerah yang harus diakui jempol ternyata tak diimbangi dalam pemberian rasa keadilan kepada masyarakatnya.

Gejala tersebut timbul dari sikap protes dalam spanduk ‘tolak tambang’ rakyat Desa Sumberagung terhadap industri ekstraktif setempat. Sikap rakyat yang berjuang mempertahankan ruang hidupnya disambut oleh petugas keamanan dengan penetapan tersangka kepada beberapa orang. Tindakan tersebut jelas ditimbulkan virus komunistofobia karena pengenaan hukuman yang diberikan dengan mengenakan pasal Pasal 107a dalam UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan KUHP.

Pasal tersebut berbunyi, “Barangsiapa yang melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat atau menimbulkan korban jiwa atau kerugian harta benda, dipidana penjara paling lama 12 tahun”.

Usut punya usut pengenaan pasal tersebut diakibatkan gambar palu arit di dalam spanduk protes rakyat Desa Sumberagung. Paling mengagetkan lagi, gambar palu arit tersebut tak pernah terbukti. Banyak yang menilai, begitupun diriku ini, bahwa tindakan petugas keamanan tersebut merupakan upaya kriminalisasi terhadap perjuangan rakyat yang memprotes perusahaan tambang dari tahun ke tahun sehingga dapat diredam. Akibatnya tak sedikit para LSM/NGO yang berprofesi menjadi dokter dadakan untuk menyebuhkan virus komunistofobia tersebut.

Jika kita berniat menggali dan mengkaji lebih dalam, diriku yakin masih terdapat ratusan orang dan beberapa pemegang kekuasaan yang terjangkit virus komunistofobia. Mungkin gejalanya adalah sama yaitu menurunnya akal sehat yang ditandai dengan cara-cara basi seperti stigmatisasi komunis/PKI jika berhadapan dengan rakyat, kecuali Pak Amien Rais yang sampai amnesia.

Sebagai penerus bangsa, kita sepatutnya berdoa dan mencari vaksin bagi virus komunistofobia yang susah sekali disembuhkan. Untuk menyembuhkan penyebaran ideologi komunis ataupun kiri secara ekstrim pun perlu waktu sangat lama sampai terwujudnya masyarakat tanpa exploitation de I’homme par I’homme. Jika belum terwujud, ia tetap menjadi hantu, hantu komunis yang bergentayangan.