Sebagai pria sejati yang menjunjung tinggi budaya patriarki sampai ke ubun-ubun, menonton Wonder Women membuat saya berkali-kali mengucap sumpah serapah. Jika setiap film diharuskan memiliki pesan moral, maka hanya satu saja pesan moral ada disana, bahwa perempuan seksi memang enak dilihat.

Kuat, hidup abadi, berjiwa pahlawan, dan cantik. Unsur-unsur itu akan mengingatkan penonton pada sosok Captain America atau Superman. Hanya saja ini versi salah kelamin. Banyak hal dari Wonder Woman juga sangat mirip dengan Captain America yang pertama, The First Avenger.

Mungkin benar apa yang dikatakan para kritikus Hollywood, bahwa semakin hari film-film super hero telah kehilangan orisinalitasnya. Bermodal layar hijau dan jalan cerita yang spektakuler, diraihlah keuntungan jutaan dollar dari cerita yang begitu-begitu saja. Jika ada pembeda Wonder Womaan dengaan film super hero lain yang muncul belakangan, itu adalah dari segi kemolekan tokoh utamanya.

Selebihnya ini pengulangan saja dari Captain America. Kekuatan supernya memang berbeda sumber. Jika Wonder Women kuat karena anugerah Illahi, Captain America kuat karena profesornya. Tapi apapun itu, mereka datang ke perang yang sama, memenangkan perang yang sama, dengan cara yang kurang lebih sama. Karena di perang yang sama melawan Nazi, seharusnya ada adegan Wonder Woman bertemu Captain America di suatu sudut pertempuran. Supaya kisah cintaanya bisa sesama makhluk abadi, tidak dengan makhluk fana nan rapuh.

Saya memang bukan penggemar komik. Persaingan DC dan Marvel hanya saya ketahui dari film-film yang dihasilkannya. Sebelum muncul si mbak Diana a.k.a Wonder Woman, saya menganggap DC lebih unggul dari segi realitas cerita dan makna yang disampaikan. Sedangkan Marvel tidak lebih dari Dragon Ball versi Amerika.

Lihatlah The Dark Night dan Dark Night Rises. Itu film-film yang tidak hanya mengobral kekuatan dan dan adegan menawan, tapi juga jalan cerita yang luar biasa menarik. Dengan durasi yang panjangnya hapir sama dengan Godfather dan The Lord of the Rings, disana ada banyak pertentangan-pertentangan manusiawi. Tentang kriminalitas yang tidak hanya dipandang hitam-putih. Seperti Bane dan Miranda yang bangkit melawan para kapitalis kufur nikmat di Gotham, itu sangat hebat. Walaupun sebenarnya lebih menarik kalau Batman kalah disitu.

Selain seksi, entah apalagi daya tarik menonton Wonder Women. Jalan ceritanya yang biasa saja dan mudah ditebak. Dan wanita yang saking kuatnnya mampu menghancurkan menara gereja yang jika di Indonesia biasa disebut penistaan agama.

Film-film superhero pada umumnya menggambarkan karakternya secara maskulin garis keras. Otot sana-sini, gagah perkasa membela kebenaran. Dan umumnya film superhero itu berkelamin pria. Lalu ini ada si Super Woman, yang dari namanya tentu wanita tulen, tapi memiliki maskulinitas yang sama.

Karena daya jual seorang superhero adalah kemampuannya menghancurkan lawan. Kalah saja tidak cukup. Lawan harus hancur lebur menjadi bubur. Itu yang terjadi dibalik kemenangan semua superhero. Dan disitulah ketidakpercayadirian menjadi superhero wanita muncul. Karena menghancurkan sudah begitu identik sebagai tugas para pria, ia maskulin. Sedangkan feminis sering dianalogikan merawat, menumbuhkan. Dan feminis tidak punya nilai jual di film superhero. Jadi entah apa kelaminnya dan seberapa seksi tubuhnya, seorang superhero harus bertindak maskulin. Long live masculinity!