(ilustrasi oleh Reza Mustar @komikazer)

Love, love will tear us apart” begitu kata Ian Curtis dalam salah satu lagu Joy Division. Jika dikaitkan dengan konteks Instagram, sepertinya apa yang Ian katakan benar juga. Penelitian dari Brain Mapping Center UCLA menemukan bahwa ketika foto unggahan responden berusia remaja mendapatkan banyak sekali gambar “love” atau “likes”  pada akun sosial media, misalnya Instagram, maka respon pada otak mereka akan sama halnya ketika melihat seseorang yang mereka cintai atau ketika memenangkan hadiah uang. Namun hal itu adalah ilusi semata, dan ketika mereka tidak banyak mendapatkan “love” maka akan ada kekecewaan pada diri mereka.

Penelitian lebih baru menyebutkan bahwa Instagram adalah platform jejaring sosial paling membahayakan bagi kesehatan mental pengguna berusia muda, disusul dengan Snapchat, Facebook, Twitter dan terakhir Youtube yang ternyata memiliki dampak paling positif dibandingkan platform lainnya. Hasil ini dilaporkan oleh Royal Society for Public Health dari Inggris yang melakukan survey terhadap hampir 1.500 responden dengan rentang usia 14 – 24 tahun.

Instagram membuat perempuan berusia muda “membandingkan dirinya pada realitas khayal yang telah dengan bagusnya terkurasi, terfilter dan tersunting oleh Photoshop,” kata Matt Keracher, sang peneliti, seperti yang dilansir dari laporan reporter CNN, Kara Fox.

“Instagram membuat para perempuan remaja dan dewasa merasa seakan tubuh mereka tidaklah cukup bagus dibandingkan tubuh mereka yang menggunakan filter atau yang menyunting foto mereka supaya tampak ‘sempurna’,” kisah salah satu responden perempuan dalam penelitian tersebut.

Laci Green, Youtuber professional juga ikut mengungkapkan pendapatnya tentang permasalahan ini. Instagram dan Facebook, menurut Green, menampilkan gambaran-gambaran terpilih dari orang-orang yang kita kenal dan dunia di sekeliling kita. Hal itu, tambahnya, membuat perspektif kita ter-disorientasi dengan mudahnya. Artinya, kita tidak tahu mana foto yang benar dan mana yang telah terfilter. Ketika menemukan banyak sekali foto yang memuat gambar yang bagus, secara tidak sadar pengguna akan membanding-bandingkan dirinya dengan realitas buatan itu yang tak jarang justru membuat pengguna tersebut semakin berjarak dan terasingkan.

“Melakukan interaksi sosial dari balik layar dapat membuat kesehatan mental kita kian terisolasi dan terasingkan bahkan lebih buruk dari biasanya” jelas Green.

Penelitian Matt Karaucher ini menyimpulkan bahwa meskipun Instagram secara negatif dapat mempengaruhi perspektif tentang gambaran tubuh, pola tidur dan memberikan efek FOMO (fear of missing out atau ketakutan akan melewatkan sesuatu), namun aplikasi tersebut juga memiliki dampak positif untuk para penggunanya yaitu sebagai medium pengekspresian diri dan pembentukan identitas diri.