Sejarah 17 Agustus 1945 menyimpan rangkaian peristiwa yang relevan untuk diulas dan direfleksikan dengan memperhatikan kondisi generasi Indonesia sekarang.

Pada tanggal itu, Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang menjadi tonggak pembentuk wajah Indonesia sekarang.

Apa yang terjadi dengan generasi Indonesia dapat ditarik dari peristiwa perumusan teks proklamasi dan struktur bahasa teks tersebut.

Mengenai struktur teks, isinya dibuat dengan penuh pertimbangan, terutama pemilihan kata apa yang harus dimasukkan.

Jika salah pilih kata, maka konsekuensinya akan mengubah perjalanan bangsa Indonesia ke depan.

Akhirnya, redaksi teks proklamasi dibuat cukup singkat. Di dalamnya dengan tegas menyatakan kemerdekaan Indonesia–kutipan ini diambil dari sidang BPUPKI sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, perumusan dilakukan di kediaman Laksamana Maeda, Jakarta pada17 Agustus 1945 dini hari. Ada peristiwa menarik di sana.

Susanto Tirtoprodjo menggambarkan suasana tersebut dalam bukunya berjudul, “Sedjarah Revolusi Nasional Tahapan Revolusi Bersendjata 1945-1950”

Di tempat itu, ada Bung Karno, Bung Hatta, beberapa tokoh lain hadir untuk merumuskan naskah proklamasi.

Salah satunya di antaranya adalah pemuda berusia 29 tahun bernama Sukarni.

Dia adalah orang yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok yaitu mengungsikan Dwitunggal (Bung Karno dan Bung Hatta) ke Rengasdengklok, Karawang untuk meyakinkan Dwitunggal agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa perlu menunggu janji-janji Jepang.

Pertemuan Bung Karno dan Bung Hatta bersama golongan muda dan golongan tua di Rengasdengklok
Pertemuan Bung Karno dan Bung Hatta bersama golongan muda dan golongan tua di Rengasdengklok. (Foto: RingTimesBali.com)

Sukarni memang pemuda revolusi. Jadi, tidak usah heran bila dia dan golongan pemuda lainnya terus memberi desakan kepada Dwitunggal karena ketokohan mereka disegani masyarakat.

Hal revolusioner lainnya terlihat saat Sukarni mengusulkan naskah proklamasi ketika perumusan proklamasi di kediaman Maeda.

Begini bunyi proklamasi yang diusulkan Sukarni.

Dengan ini rakjat Indonesia menjatakan kemerdekaannja. Segala badan Pemerintah jang ada harus direbut oleh rakjat dari orang asing jang masih mempertahankannja.

Singkat, padat dan jelas. Tetapi naskah proklamasi Sukarni ini ditolak Bung Karno dan Bung Hatta.

“Dwitunggal menolak naskah itu, karena dengan redaksi itu Djepang pasti akan menghantam rakjat habis-habisan,” tulis Susanto menjelaskan.

Peristiwa ini memang tidak dimuat banyak di buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Tetapi, baiklah dijadikan sebagai refleksi kepada generasi Indonesia sekarang yang didominasi kaum millenial yang berusia relatif muda.

Tidak dipungkiri bahwa sebagian millenial punya watak yang cenderung revolusioner. Segalanya harus dikerjakan cepat, cepat dan cepat, bahkan keras, tabrak sana dan sini.

Cek medsos untuk mendapat contoh kerasnya komentar mereka saat berhadapan satu sama lain.

Sementara mungkin ada orang yang bersifat seperti Dwitunggal yang cenderung berhati-hati dan memilih jalan diplomasi untuk mencapai tujuan.

Contoh semacam ini lazim ditemukan manakala ada konflik atau ketegangan antar kelompok di suatu daerah.

Pihak yang bertikai diajak menemui orang-orang tua yang dihormati agar perkara diselesaikan dengan kesepakatan damai.

Saat hendak menikah sekalipun, orang-orang muda harus meminta izin dan restu kepada orangtua. Begitu seterusnya. Cara-cara diplomatis sangat tepat dibawakan kepada orangtua.

Berangkat dari kejadian di atas, peristiwa jelang proklamasi bisa menjadi pelajaran berharga kepada generasi sekarang.

Usul anak muda Sukarni ditolak Dwitunggal. Tetapi, sejatinya mereka juga melakukan kehendak yang sama dengan golongan muda: mensegerakan proklamasi dan tidak lagi berunding kepada Jepang.

Naskah proklamasi akhirnya terbentuk. Pagi harinya Bung Karno membacakannya di Jalan Pengangsaan Timur 56, Jakarta.

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll., diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta

Isi proklamasi yang dibacakan Bung Karno agaknya mirip-mirip pula dengan usulan golongan pemuda, yaitu tentang cara pemindahan kekuasaan.

Penulis tidak bermaksud menggurui siapapun. Akan tetapi ingatlah bahwa perbedaan sikap dan cara pandang generasi muda dan genereasi tua sudah terbentuk sejak kemerdekaan Indonesia.

Ini kemudian diturunkan ke generasi-generasi selanjutnya sampai sekarang. Biarpun berbeda, toh generasi tua atau muda sama-sama punya tujuan yang sama dan mulia untuk kebaikan Indonesia.

Kondisi ini akan ideal manakala dua golongan yang ada menjadi satu yang percaya dengan kekuatan Indonesia. Jika lebih percaya pada kekuatan asing, ya, agak gimana ya. Salam merdeka!