Jika Anda pernah menonton film X-Men : Past and Future, ada satu adegan menarik disana. Ketika Logan a.k.a dikirim kembali ke masa lalu, sekitar puluhan tahun ke belakang. Terbangun di masa lalu, di sebuah ranjang hotel bersama wanita, logan berdiri dan menegok keluar jendela.

Pemandangan pertama yang didapatinya dari luar jendela itu adalah papan reklame iklan rokok besar tepat menghadap kamar hotel. Lengkap dengan asap yang mengepul keluar dari mulut sosok di reklame itu. Adegan itu menegaskan kepada Anda sekalian, bahwa selain dikirim ke masa lalu, Logan juga dikirim ke masa dimana rokok masih berjaya, ketika perokok masih keren.

Marlboro man yang gagah perkasa harus dirindukan. Sosoknya macho dengan menunggang kuda, lengkap dengan kemeja lengan panjang dan celana jeans. Ada masa ketika sosok seperti itu ditiru banyak pria, didambakan banyak wanita.

Juga Don Michael Corleone, sang Mafioso yang menawan dengan tampilan klimis nan flamboyan. Dengan duduk bertumpu kaki, ia menghisap dalam-dalam rokoknya sampai pipinya menyekung. Matanya menerawang tajam. Lalu cukup ucapkan satu dia kata ke anak buahnya dan jeeduarr, lenyaplah musuh-musuhnya.

Dan sungguh dunia berubah menjadi malapetaka bagi para perokok. Sejak negara air menyerang dan mematikan api-api di ujung rokok. Para perokok menjadi makhluk-makhluk hina tak terkira. Kebiasaan yang dianggapp bar-bar dan kalau perlu dihilangkan dari muka bumi. Atau setidaknya, dimasukkan ke dalam camp-camp pengasingan.

Memang sepertiga penduduk Indonesia adalah perokok. Itu bukan jumlah yang sedikit. Jika penduduk Indonesia saat ini 250 juta, berarti jumlah perokok ada 83 juta. Jumlahnya itu pun berpotensi terus meningkat mengingat jumlah perokok baru selalu lebih tinggi dibanding yang berhenti merokok.

Tidak merokok itu memang lebih baik, apalagi mampu berhenti merokok. Tapi bukan berarti yang merokok pantas dianggap salah. Jika dikatakan bahwa negara ini ada untuk melindungi segenap tumpah darah, didalamnya juga termasuk para perokok. Urusan mereka mau menjaga kesehatan atau tidak, itu urusan pribadi, bukan negara.

Lagi pula, bukan tanpa arti jika Pramoedya pernah menyebut rokok sebagai Tuhan 9 cm. Mungkin benar sebatang rokok mengandung sekian ratus racun seperti kata para dokter. Juga asapnya yang bergentayangan tak kalah mengerikan dari kuntilanak yang keluyuran. Tapi dalam sebatang rokok itu juga ada bahasa perdamaian.

Tidak percaya? Cobalah tawarkan sebatang rokok sambil nongkrong di warung, terminal, atau pasar. Tentunya kepada perokok, jangan ke mereka yang menganggap rokok itu haram. Karena Anda Anda bisa diceramahi panjang lebar dengan analogi klasik tentang harga rokok dan sebuah rumah.

Perokok yang ditawari rokok tersebut mungkin menolak. Namun dari sana, perbincangan akan terjadi. Perbincangan itu tidak jarang berujung pada pertemanan. Disitulah sebatang rokok bisa menjadi bahasa yang lain, yang menurut Pram adalah bahasa perdamaian tadi.

Maka biarkanlah perokok menghisap rokoknya. Merokok atau tidak adalah pilihan. Meskipun dunia tidak lagi sekeren zaman Marlboro Man atau Don Corleone, dan dunia tampak makin suram bagi para perokok. Toh sudah kodratnya manusia takut mati, dan rokok begitu identik dengan kematian (baca: merokok membunuhmu).  

Comments