Jika revolusi selular dimulai dari Apple, maka revolusi otomotif akan bermula dari Tesla. Revolusi Apple pada selular dimulai dengan menghilangkan tombol-tombol yang ribet. Sedangkan revolusi Tesla dimulai dari menghilangkan mesin berbahan bakar minyak bumi.

Memang sebagaimana Apple bukan sebagai yang pertama membuat ponsel yang isinya cuma layar, Tesla juga bukan yang pertama membuat mobil elektrik. Tapi lihatlah Tesla Model S P100D, keluarannya yang terbaru di jajaran Model S. Ini adalah mobil yang mewah seperti Mercedes Benz, cepat seperti Ferrari, hemat bahan bakar seperti Supra 125, dan ramah lingkungan seperti Pevita Pearce yang menjadi duta Earth Hour.

Menggutip hasil pengujian yang dilakukan Motortrend, media otomotif ternama asal Negeri Paman Trump, Tesla model S ini  mampu melesat dari 0 ke 100 km per jam hanya dalam 2,28 detik. Itu artinya, mobil ini lebih cepat dari LaFerrari yang merupakan kasta tertinggi dari jajaran mobil Ferrari.

Masalah kenyamanan, mobil ini bisa disetarakan denga Mercedes Benz E-Class.  Terlalu jauh jika dibandingkan dengan S-Class. Seperti kita tahu, sudah menjadi keyakinan umum bahwa baru dalam 10 tahun kecanggihan sebuah S-Class bisa disamai mobil-mobil lain. Tapi setidaknya, Tesla sudah memiliki sistem suspensi udara, kekedapan luar biasa, kualitas interior, dan bahkan beberapa saat lagi akan dilengkapi fitur self drive supaya anda bisa fokus bercinta sembari mobil mengantar ke tujuan.

Sebagai perusahaan yang berdiri di Silicon Valley, maka wajar Tesla memiliki nuansa desain khas gadget terkini. Jika dashboard mobil-mobil pada umumnya berisi belasan hingga puluhan tombol, maka Tesla hanya memiliki dua. Selebihnya, pengaturannya dilakukan lewat layar tengah yang kelewat besar itu. Mulai ketinggian suspensi, buka-tutup atap panoramic, hingga tenaga mesin dapat diatur disana.

Semua tentang Tesla, kecuali harganya, adalah hal yang mengesankan. Ini adalah lompatan besar di dunia otomotif. Sebelumnya memang sudah ada Mercedes SLS AMG versi elektrik sebagai mobil sport pertama yang sepenuhnya bertenaga listrik. Itu juga mobil yang kencang walau tak sekencanng Tesla. Tapi Mercedes tampaknya masih terbayang-bayangi aura mesin berbahan fosil ketika membuat mobil SLS AMG.

Berbeda dengan mobil biasa, mobil listrik sama sekali tidak memiliki suara mesin. Ketika diinjak penuh pedal gasnya, suaranya hanya seperti sebuah tamiya atau mobil remote control. Disitulah Mercedes merasa perlu memasukkan file audio kedalam sistem entertainment-nya. Supaya keluar suara raungan mesin V 8 jadi-jadian. Itu sangat memaksa. Mercedes tidak percaya diri dengan mobilnya. Lagipula, jika diatur keluaran tenaga maksimal, baterai SLS AMG hanya mampu bertahan kurang dari satu jam.

Sedangkan Tesla memiliki kapasitas Baterai sebesar 100 kWh. Bobot keseluruhan baterainya saja sudah hampir satu ton yang ditata rapi menyatu dengan sasis mobil dan disalurkan ke empat dinamo di masing-masing roda. Dengan kapasitas itu, Tesla dapat melaju sekitar 500 km dalam rute kombinasi. Meski butuh waktu sekitar 10 jam jika untuk mengisi penuh baterainya di arus listrik rumah. Memang dengan mendatangi pos Tesla Supercharger bisa terisi penuh dalam dua jam, tapi belum tersedia di Indonesia.

Tesla tetaplah barang buatan manusia, dia punya kelemahan. Pertama harganya yang di Indonesia mencapai 2 miliar. Kita patut pertanyakan, buat apa hemat pembelian BBM jika toh kita harus boros membeli mobilnya. Jika ingin mewah dengan lebih murah, masyarakat bisa membeli Camry yang khas pejabat dengan harga seperempatnya Tesla.

Lalu ini yang paling konyol adalah masalah listrik. Tahukah Anda seberapa besar listrik 100kWh yang tersimpan di baterai Tesla? Berdasarkan hitung-hitungan yang saya peroleh, rumah masyarakat pada umumnya  membutuhkan listrik sebesar 600 kWh per bulan. Itu sudah termasuk penggunaan AC, mesin cuci, pompa air, komputer desktop, dan sebagainya. Itu berarti, mobil ini mengonsumsi listrik yang hampir sama dengan sebuah rumah selama satu minggu.

Tepi, hei! ini mobil orang kaya yang tidak keberatan mengeluarkan uang 2 miliar lebih untuk sebuah mobil. Tentu mereka tidak akan memikirkan selisih tagihan listrik. Dan jadilah sejauh ini, revolusi otomotif Tesla hanya milik orang-orang kaya. Seperti halnya iPhone, kita patut menunggu Samsung-nya dunia otomotif yang bisa bikin teknologi membumi.

Comments