Indoneside – Kota Malang sedang tak bersahabat. Bulan ini, kota yang sering dijuluki kota bunga itu menunjukkan jati diri aslinya. Biasanya jati diri ini muncul dibarengi dengan kehadiran mahasiswa baru (maba) yang masih unyu-unyu. Malang seperti kembali di tahun 60an. Sejuk dan dingin. Hawa yang mungkin jarang dirasakan warga Malang seiring masifnya pembangunan ruko dan padatnya lalu lintas kendaraan.

Dingin pun harus segera disiasati. Tentu ada banyak cara untuk sekedar mengusir dingin, dan biasanya saya memilih menyeduh kopi dan membaca buku. Atau menikmati secangkir kopi pekat dengan obrolan ringan bersama beberapa kawan lama menjadi obat membunuh senduh yang cukup tepat. Menurut saya, minum kopi atau membaca buku adalah usaha untuk membunuh dingin yang tak tahu kapan akan minggat.

Tanpa menunggu lama, saya bergegas dan mengajak kawan-kawan menuju sebuah kedai kopi yang terletak di pusat kota Malang. Letaknya berada di kawasan pasar tawangmangu. Namanya Smut Kopi.

Kopi Arabika Simalungun dengan metode V60 (swan)
Seduhan Kopi Arabika Simalungun Dengan Metode V60 (FOTO : Swandy)

Kedai kopi dengan desain minimalis ini menawarkan beragam jenis kopi khas Sumatera Utara. Salah satunya adalah Arabika Simalungun yang baru-baru ini masuk kedalam 16 nominasi kopi terbaik 2018 versi kementrian pertanian.

Smut Kopi menyediakan kopi dengan penyajian tubruk, French press, maupun V60. Saat itu, saya langsung saja memesan kopi terbaik itu dengan penyajian V60.

Sembari membaca buku dan mencecapi kopi perlahan, saya melihat seorang pelanggan datang. Ia langsung masuk ke dalam dan membuat kopi pilihannya sendiri. Ternyata barista itu memperbolehkan bagi siapa saja yang mau membuat kopi sesuai selera. Namun tetap harus ada seorang barista yang mengamatinya.

Henov Panampang, Barista Smut Kopi Sedang Meracik Es Kopi Susu Spesial (FOTO : Swandy)

Henov Panampang, adalah seorang barista di Smut Kopi. Ilmunya mengenai perkopian cukup tinggi. Ia sudah belajar menyeduh kopi selama 6 bulan.

Jadi, siapapun pelanggan yang ingin belajar mengenal dan membuat kopi akan dijelaskan secara langsung oleh henov. Ia akan mengedukasi bagaimana cara memilih biji kopi, mengenal jenis kopi maupun membuat kopi yang sesuai standar.

Interaksi-interaksi yang dilakukannya memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung ke Smut Kopi. Tak heran baik pelajar, mahasiswa, maupun pekerja sering mampir untuk sekadar minum sembari belajar membuat kopi.

“Saya hampir setiap hari kesini, menyeduh kopi sendiri. Selain tempatnya nyaman, saya sering ajak kawan-kawan sembari ngobrol tentang perkuliahan atau sekedar membaca buku-buku koleksi Smut juga,” ujar Ranja Pakpahan, Mahasiswa asal Pematang Siantar.

Ranja Pakpahan, Pengunjung Yang diperbolehkan Menyeduh Kopi Sendiri (FOTO : Swandy)

Untuk koleksi buku di Smut memang sengaja dipinjamkan untuk pengunjung. Kita bisa memilih buku mana yang mau kita baca dengan bebas tanpa persyaratan yang ribet seperti mengurus KTP di Kecamatan. Tentu dengan satu syarat: tak boleh dibawa pulang.

Untuk urusan pengusir rasa lapar, ada beberapa kudapan macam kentang goreng, Smut Tofu, Snowy Banana Fritter, Spageti Batak atau Mie Gomak. Nama yang disebut terakhir merupakan kudapan andalan dari Smut Kopi.

Spageti Khas Batak/Mie Gomak, Kudapan Andalan Smut Kopi (FOTO : Swandy)

Soal harga jangan khawatir, memuaskan untuk kantong mahasiswa kok.

Tak terasa saya menghabiskan 5 jam dan telah menghabiskan tiga cangkir kopi. Begitulah jika bertemu dengan kawan-kawan. Ngobrol, berbincang kenangan atau membaca buku menambah literasi. Apalagi sembari minum kopi berkualitas dari racikan barista yang berintegritas. Dan itu bisa kamu temukan dan rasakan di kota Malang. Terutama di Smut Kopi.(swan)

Comments