Indoneside – Di tahun 1946, sastrawan Inggris George Orwell menulis esai tentang Politics and the English Language, isinya mengkritik hubungan kemerosotan Bahasa Inggris yang disebabkan oleh politik, lebih tepatnya pikiran kolot politisi. Orwell mengatakan bahwa pidato-pidato yang keluar dari mulut politisi adalah suatu hal yang membosankan dengan penggunaan frasa-frasa usang. Tak satupun terdengar frasa-frasa segar, memikat, dan orisinil keluar dari mulut mereka.

Hari ini, penulis tersadar bahwa keresahan akan basinya bahasa-bahasa politik seperti ‘bangsa yang berdikari”, “untuk perubahan”, dan “kearah yang lebih baik” sudah coba disampaikan 72 tahun yang lalu. Namun tak banyak yang merespon, politisi enggan berpikir sedikit lebih keras, menggunakan bahasa yang lebih segar dalam menyampaikan ide dan gagasannya sehingga mampu diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Demikian juga dengan penyelenggaraan Pemilu lima tahunan di Indonesia. Mulai dari partai politik, calon legislatif hingga calon presiden dan wakil presiden berlomba-lomba menyampaikan makna pembaharuan dalam 3 hingga 5 kata yang dari tahun ke tahun susunan kalimatnya tak jauh berbeda. Jadi apa sejatinya yang baru?

Hanya beberapa politisi yang mampu beranjak dari dialek-dialek lama, menciptakan frasa-frasa baru yang tidak kita dengar sebelumnya, namun frasanya begitu dekat disekitar kita. Salah satunya adalah Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02 Sandiaga Uno. Ia beberapa kali melontarkan frasa baru ketika mengomentari fenomena-fenomena yang ia temui saat kampanye. Salah satunya adalah frasa ‘tempe setipis ATM’. Secara penuh kalimatnya sebagai berikut :

“Tempe katanya sekarang sudah dikecilkan dan tipisnya udah hampir sama dengan kartu ATM.” (tempo.co, 8/9/2018)

Terlepas dari perdebatan cebong dan kampret, kalimat diatas sudah disampaikan beberapa bulan lalu, namun masih terkenang di pikiran kita hingga sekarang. Tidak seperti pidato politisi yang biasanya hanya kekal dua hari di ingatan kita.

Bahasa “tempe setipis ATM” mengandung frasa baru ditelinga kita. Secara kontekstual, Sandiaga ingin mengatakan bahwa kondisi perekonomian di Indonesia saat ini mendapat beragam keluhan dari masyarakat, terutama menyangkut harga bahan pokok yang naik. Sehingga seorang penjual tempe, harus menipiskan ukuran tempenya hampir setipis ATM agar mampu mendapat keuntungan dari hasil penjualannya.

Namun dengan pemilihan frasa yang orisinil, Sandi mampu selangkah lebih maju dibanding politisi-politisi lain dalam menyampaikan pesan kampanye. Terutama dalam penggunaan metafora yang mengajak penerima pesan untuk masuk dalam kesan visual yang digambarkan dalam tempe setipis ATM. Kesan visual menjadi penting karena frasa yang diciptakan sendiri oleh Sandi membuka pikiran pendengar dan pembaca.

Menjadi menarik, kenapa Sandi menggunakan frasa ‘tempe setipis ATM’ tidak memilih yang lebih gampang seperti “kondisi ekonomi kita, membuat rakyat makan buah simalakama’ ? Karena sudah banyak dari politisi yang menggunakan frasa itu, meskipun sejatinya ia sendiri tak mengetahui bagaimana rasa buah simalakama. Tentu semakin membuktikan bahwa politisi tidak memikirkan apa yang ia katakan.

Bahasa punya kekuatan dalam politik, jika dalam pemilihannya tepat maka metafora yang digunakan oleh seorang politisi semakin memperkuat makna dari pesan yang disampaikan. Namun jika dibuat secara ‘serampangan’, sekedar mengambil dari metafora-metafora usang maka mengaburkan pesan yang disampaikan.

Namun dibalik dalam penggunaan metafora yang membangkitkan kesan visual, sejatinya kekuatan bahasa dalam politik juga berperan. Membentuk eufisme atau memperhalus makna ketidakmampuan memberi ide baru, sehingga menyamarkan dengan kalimat yang menutupi pokok permasalahan.

Comments