Kabupaten Malang – Minum kopi saat ini sudah menjadi tren gaya hidup di Malang Raya. Tak heran di setiap sudut kota sejuk ini bertebar banyak coffee shop atau kedai kopi.

Kopi yang disajikan setiap kafe merupakan kopi asli lokal Malang. Terutama kopi arabika yang berasal dari lereng Gunung Arjuno.

Kaki Gunung Arjuna di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur yang berada pada ketinggian 900-1500 meter di atas permukaan laut membuatnya menjadi lokasi ideal untuk perkebunan kopi. Seperti di Desa Sumbul, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang pertanian kopi dengan varietas kopi arabika mulai dikembangkan.

Kawi Soeko adalah petani yang menjadi satu di antara petani kopi yang mengembangkan kopi jenis arabika di kawasan lereng Gunung Arjuno.

Pensiun dari PNS TNI AU Abd. Saleh Malang 5 tahun yang lalu membuat Kawi Soeko memilih menjadi petani kopi.

Tidak ada latar belakang pendidikan sebagai pengolah kopi. Namun, ia belajar secara mandiri atau autodidak untuk akhirnya mengetahui proses mengolah kopi.

“Cuma modal paketan, saya bisa belajar otodidak lewat youtube, selebihnya baca buku tentang kopi,” ujarnya.

Dengan ilmu yang didapatnya, Kawi ingin mengedukasi petani setempat akan berharganya kopi bila dikelola dengan baik.

Menurutnya, selama ini petani memanen kopinya dengan asalan. Misalnya kopi dipanen dalam keadaan hijau. Hasilnya, kopi yang dipanen dijual murah kepada tengkulak.

“Perlahan saya edukasi, memang sulit bikin petani yang lain percaya, jika dikelola dengan baik dari hulu hingga hilir pasti kopi yang dihasilkan sangat mahal,” ujarnya.

Dengan menunjukkan hasil penjualan kopinya dengan harga mahal, petani lain pun terperangah karena kopi yang dijual ternyata kopi yang selama ini dianggap sepele mempunyai harga luar biasa jika dikelola dengan benar.

“Harga perkilo Arabika Arjuno proses natural saya jual Rp 200.000, tergantung prosesnya, untuk kopi luwak liar 1 juta perkilonya,” ujarnya.

Berkat upaya pembelajaran tanpa lelahnya, kini para petani kopi mulai merasakan dampaknya.

Kopi lereng Gunung Arjuno, khususnya Arabika harga rata-rata mencapai Rp 40.000 hingga Rp 60.000 per 200 gramnya.

Itu pun tidak selalu ada stok, karena selalu habis terbeli. Petani pun kini semakin giat menanam kopi, karena sudah tahu harganya yang menjanjikan.

Tahun 2018 lalu Kawi bersama kelurganya merintis Volcano Coffee Roasters, sebuah brand produk kopi yang dikemas secara baik. Untuk meningkatkan hasil penjualan kopinya, Kawi memanfaatkan jejaring online seperti instagram.

“Karena dikemas dengan baik, sekarang permintaan kopi tak hanya kafe di malang aja, kini sudah menjangkau ke Sumatera hingga Papua,” tutupnya.

Comments