Komunikasi publik menteri kabinet Indonesia Maju dinilai buruk ketika menjelaskan UU Cipta Kerja. Informasi mengenai UU tersebut tidak disampaikan secara detil sehingga menimbulkan bermacam persepsi di masyarakat terutama buruh dan mahasiswa.

Teguran itu disampaikan Presiden Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas pada Senin (19/10/2020) lalu.

Memang harus diakui, sejak UU Cipta Kerja disahkan pada 5 Oktober 2020 lalu, informasi terkait keberadaan naskah asli UU Cipta Kerja masih sumir sehingga perdebatan di antara masyarakat.

Sayangnya, protes masyarakat justru ditanggapi dengan bantahan dari pejabat. Misalnya, tuduhan bahwa orang-orang terprovokasi karena terhasut informasi hoax. Lalu alasan paling klasik, yaitu apakah orang yang protes sudah membaca isi UU Cipta Kerja?

Sampai akhirnya, Menkominfo Johnny G Plate dalam acara Mata Najwa mengingatkan, “…Kalau pemerintah sudah bilang, versi pemerintah itu hoax, ya, dia hoax. Kenapa membantah lagi?”

Kehadiran menteri yang seharusnya memberi terang informasi UU Cipta Kerja justru menimbulkan reaksi berbeda dari masyarakat. Sejauh ini baru Menteri Ketenagakerjaan yang bersikap tenang menjelaskan isi UU Cipta Kerja saat berbicara di podcast Deddy Corbuzier.

Baca juga: Via Vallen Harusnya Tak Perlu Minta Maaf di Negeri Penuh Mitos

Khusus UU Cipta Kerja, tampaknya gaya komunikasi juru bicara perlu strategi matang karena publik kadung mempertanyakan pengesahan UU Cipta Kerja di mana naskah Undang-Undang yang beredar memiliki beragam versi halaman.

Komunikasi terbagi dua bagian, komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Dan persoalan komunikasi para menteri selama ini berhubungan dengan komunikasi verbal atau komunikasi memakai kata-kata.

Wartawan mungkin akan memberi pertanyaan yang tajam mengingat Indonesia dalam masa pandemi sekarang dihadapkan pada dua isu besar, yaitu UU Cipta Kerja dan vaksin Corona.

Para menteri atau juru bicara pemerintah hendaknya tampil dengan gaya komunikasi verbal yang efektif agar informasi yang disampaikan jelas dan terang sehingga publik menerima edukasi dan pemahaman.

University of Waterloo dalam artikel di websitenya merangkum sejumlah tips komunikasi efektif: hambatan yang harus dihindari dan strategi komunikasi verbal yang efektif.

Hambatan komunikasi verbal

1. Pesan kurang jelas

Hindari bahasa abstrak, bahasa yang terlalu formal, bahasa sehari-hari (colloquialism), dan jargon, yang bisa mengaburkan pesan bila tidak ditujukan untuk mengesankan orang.

2. Menggunakan stereotip dan generalisasi

Penutur yang membuat generalisasi yang tidak memenuhi kualitas akan mengaburkan kejelasan dan kredibilitas mereka sendiri.

Pembicara juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam kebiasaan menggunakan stereotip atau membuat generalisasi tentang sistem atau situasi yang kompleks. Bentuk lain dari generalisasi adalah polarisasi.

Dalam menghadapi situasi yang kompleks, pembicara diajak untuk peka ketimbang melihat dunia secara Hitam-Putih.

3. Loncat ke kesimpulan

Fakta yang membingungkan dengan dugaan adalah kecenderungan umum. Jangan berasumsi seolah mengetahui alasan di balik peristiwa. Pembicara perlu memperhatikan bahwa ia mempunyai semua informasi yang bisa diperolehnya. Ia perlu berbicara dengan jelas untuk membedakan fakta dan makna atau interpretasi yang disampaikan.

4. Tanggapan yang disfungsional

Mengabaikan atau tidak menanggapi komentar atau pertanyaan cepat bisa merusak gaya komunikasi yang efektif. Begitu juga bila pembicara menanggapi komentar yang tidak relevan, yang tidak berhubungan dengan topik yang sedang dibahas. Ini akan membatalkan komunikasi yang sejati. Jangan juga menginterupsi orang lain yang sedang berbicara karena akan menciptakan suasana komunikasi yang buruk.

5. Kurang percaya diri

Rasa malu, sulit bersikap tegas, atau merasa harga diri rendah dapat menghalangi kemampuan untuk menyatakan kebutuhan dan opini si pembicara.

Strategi komunikasi verbal yang efektif

1. Fokus pada masalahnya, bukan orangnya

Hal ini sudah jelas. Menyerang pribadi seseorang justru tidak memberi penjelasan atas masalah yang diangkat. Cobalah menyelesaikan masalah daripada mencoba mengontrol orang lain.

2. Bersikap tulus

Pembicara perlu menjadi dirinya sendiri, jujur ​​dan terbuka. Bertindaklah dengan integritas dan jangan manipulatif.

3. Berempati daripada menjaga jarak

Meskipun hubungan profesional memerlukan beberapa batasan dalam hal interaksi dengan kolega, penting untuk menunjukkan kepekaan, dan benar-benar peduli dengan orang dalam lingkaran. Jika pembicara tidak peduli dengan lawan bicaranya, mereka pun sulit untuk bersikap peduli dan akan sangat merugikan dalam hal bekerja sama.

4. Bersikaplah fleksibel terhadap orang lain

Berikan orang lain menyampaikan sudut pandang yang berbeda. Keragaman membawa kreativitas dan inovasi.

5. Hargai diri dan pengalaman sendiri

Pembicara perlu bersikap tegas atas hak dan kepentingannya. Meremehkan diri sendiri mendorong orang lain untuk meremehkan lawan bicaranya. Berikan ide atau gagasan dan berharap agar orang lain juga melakukan hal baik yang serupa.

6. Gunakan tanggapan yang afirmasi

Pembicara bisa menanggapi orang lain dengan cara mengakui pengalaman mereka. Ucapkan terima kasih atas masukannya.

Pembicara memberitahu lawan bicaranya bahwa mereka mempunyai hak menyampaikan perasaan mereka, bahkan jika pembicara itu tidak setuju. Ajukan pertanyaan, ungkapkan perasaan positif dan berikan umpan balik positif bila bisa dilakukan.

Baca juga: Alasan di Balik Nikon Indonesia Tutup: Restrukturisasi hingga Covid-19