“Growing up, you know, I slowly had this process of realizing that all the things around me; that people had told me were just a natural way things were; the way  things always would be, they weren’t natural at all. They were things that could be changed and they were thing that more importantly were wrong and should change. And once I realized that, there was really kind of no going back.”

 –  Aaron Swartz

The Internet’s Own Boy mengantarkan saya pada kisah tragis seorang jenius bernama Aaron Swartz. Umurnya belumlah 27, namun pada 11 Januari 2013, dua hari setelah pengadilan Amerika menjatuhkan hukuman untuknya, Aaron menggantung dirinya di apartmen yang ia tinggali. Ia dihukum 35 tahun penjara dan denda satu juta Dollar Amerika atas tindakan pembobolan server penyedia jurnal daring JSTOR yang ia lakukan. Ia didakwa melanggar undang-undang hak cipta karena mengunduh secara sistematis dan membagikan jurnal-jurnal akademik JSTOR secara bebas di Internet. Baginya, pengetahuan adalah kekuatan mahakuat dan harus disebarluaskan, dan hak cipta hanyalah monopoli pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya atas segala sesuatu.

Dalam penerbitan misalnya, penulis buku tidak akan mendapatkan royalti lebih dari 10-15% atas penjualan karyanya. Sisa keuntungan itu tentu saja masuk kantong korporasi besar dan membuat perut-perut mereka semakin membusung. Kasus seperti ini juga terjadi pada seniman musik yang dinaungi oleh label raksasa dan karya-karya lainnya.

Dengan pemrograman, Aaron selalu yakin bahwa segala hal bisa ia lakukan. Jauh sebelum Wikipedia ada, Aaron yang masih berusia 14 tahun mampu membuat cikal-bakal web-sharing tersebut dan ia beri nama The Info. Tahun-tahun setelahnya, ia pun berkontribusi dalam pemrograman RSS, Markdown dan Reddit. Di umur yang masih belasan itu pula ia bersama Lawrence Lessig, seorang Professor Hukum dari Harvard University, membangun sebuah lisensi berbasis internet bernama Creative Commons (CC). Tak jarang ia dianggap sebagai sosok technological genius karena kecerdasannya dalam pemroggraman komputer yang bahkan sudah ia kuasai saat masih kanak-kanak.

Creative Commons dinilai sebagai alternatif lisensi bagi karya-karya digital. Jika copyright memiliki tagline: all right reserve, maka Creative Commons berusaha melebarkan pilihan-pilihan distribusi karya dengan some right reserve. Dengan menggunakan lisensi ini para pemilik karya berhak menentukan sendiri penyebaran karya-karya mereka dengan beberapa aturan seperti: atribusi, non-komersial, dan bagikan-serupa (share-alike).

Dari lisensi inilah gerakan Free Culture dan Open Access menjadi semakin meluas. Free Culture tak ubahnya tindakan filantropis. Alih-alih mengekslusifkan karya dengan hak paten dan copyright para pemakai CC justru membagikan karya mereka secara luas dan bebas. Inilah apa yang Aaron cita-citakan, nampak utopis memang, ketika semua orang dapat memiliki kemudahan akses terutama ilmu pengetahuan. Baginya, pengetahuan bukan hanya ada pada bangku-bangku sekolah. Ia bahkan memutuskan untuk tidak meneruskan kuliahnya di Stanford University karena merasa pendidikan seperti itu tak pelak juga dikuasai korporasi.

Dalam Manifesto Gerilya Open Access yang ia tulis pada 2008 misalnya, ia nampak benar-benar memerangi copyright. Baginya korporasi besar benar-benar terbutakan oleh rasa tamak. Membagikan informasi, menyalinnya, menyebarluaskannya bukanlah sesuatu yang immoral, malahan hal itu adalah sebuah tindakan moral imperatif. Mengutip apa yang ia tulis, “hanya orang-orang yang gila harta yang menolak teman meraka melakukan penyalinan” tentunya penyalinan itu tetap menyantumkan atribusi pemilik karya sebagai bentuk penghoramatan moral.

Dan meski sudah lebih dari empat tahun Aaron membunuh dirinya, gerakan Open Access yang ia cita-citakan masih tetap hidup, bergerilya; mencari sosok-sosok yang percaya bahwa pengetahuan haruslah dibebaskan. Contohnya? tulisan ini.