Apa itu kebenaran? Pertanyaan filosofis ini membawa jauh pencarian hingga menemukan banyak kemungkinan untuk dipetik dan direnungkan. Namun, dalam dunia bahasa, kebenaran itu sering menjadi kabur dan sulit terjangkau.

Keadaan ini dialami banyak orang ketika menerima informasi, menelaah, mengkritik dan mendebatkan suatu topik. Di media sosial, kita sering menemukan perdebatan panjang antar pengguna di lini masa dan kolom balasan.

Tidak jarang, argumen yang disampaikan untuk membungkam pendapat lawan ternyata memakai jurus menyerang kepribadian orang tersebut, alih-alih memberikan argumen faktual dan pembuktian kuat.

Argumen menyerang kepribadian pembicara adalah jenis kekeliruan Ad hominem. Ini bukan sesuatu yang baru terdengar di tengah masyarakat. Idealnya argumen dibantah lewat argumen tanpa perlu melibatkan masalah pribadi pengirim pesan.

Baca juga: Apa Keunggulan Clubhouse ke Pengguna Dibanding Media Sosial Lainnya?

Keadaan ini umum terjadi dalam pembicaraan atas sejumlah topik tentang sosial, agama, budaya politik, dan lain-lain.

Sebagai contoh, seorang lelaki tamatan SD mengatakan bahwa dia berhasil menciptakan Televisi. Saat kabar tersebut tersiar di media massa, sejumlah pembaca meragukannya, “Seorang tamatan SD menciptakan TV? Pasti kualitas TV-nya abal-abal“.

Pernyataan ini juga termasuk dalam kategori ad hominem fallacy karena menyerang kepribadian seseorang sebagai kesimpulan tanpa menarik dari info detil terkait spesifikasi TV tersebut.

Mengutip situs ethics.com.au, struktur dari ad hominem sebagai berikut

– Orang A membuat klaim X.
– Orang B menyerang orang A.
– Kesimpulan, X salah.

Baca juga: Paradoks Teknologi Digital terhadap Ketimpangan Pendapatan

Masih dari sumber yang sama, kebenaran atau kebohongan X tidak ada hubungannya dengan orang yang mengatakannya.

Bayangkan bila pernyataan X tersebut ternyata disampaikan oleh seseorang yang kamu tidak kenali sama sekali. Jika kamu tidak dapat memberikan argumen untuk membuktikan X salah, maka kamu tidak bisa membuktikan itu salah sama sekali.

Contoh lainnya yang sering ditemukan dalam percakapan media sosial, seorang lelaki bernama Andi mengajak temannya berjalan kaki ke bioskop yang berjarak 100 meter dari kantor mereka, tidak perlu menggunakan ojol supaya mengurangi polusi.

Baca juga: Membedah Corak Liberalisme Partai Republik dan Partai Demokrat di AS, Disampaikan Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika UI

Namun, temannya justru merespon ajakan Andi dengan tanggapan yang menyerangnya secara pribadi dengan berkata bahwa Andi adalah orang pelit.

Ada banyak contoh serupa. Kekeliruan ad hominem bisa diasosiakan pada kekeliruan tu quoque. Douglas Walton dalam bukunya The Place of Emotion in Argument menjelaskan, tu qouque merujuk pada satu pihak mengajukan argumen yang sama dengan argumen pihak lain.

Argumen tu qouque dapat menjadi ad hominem jika dilakukan untuk menyerang kejujuran dan moralitas seseorang. Sebagai contoh, seseorang berargumen, “Kamu tidak dapat mengkritisi saya dengan basis demikian karena kamu juga melakukan hal buruk yang sama.”

Meski gaya argumen ini terbilang jitu untuk membungkam lawan, namun tu quoque fallacy tidak lantas menunjukkan kebenaran argumen yang disampaikan.

Contoh sederhana lainnya, saat kamu sebagai anak SMA dinasihati oleh Ayah supaya berhenti merokok dan mabuk, tetapi kamu merasa si Ayah tidak pantas menasihati dirimu karena nyatanya dia juga pemabuk dan perokok berat.

Ilustrasi debat
Ilustrasi debat. (Foto oleh Alex Green dari Pexels)

Baca juga: Membedah Corak Liberalisme Partai Republik dan Partai Demokrat di AS, Disampaikan Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika UI

Argumen demikian tepat untuk melawan ketidakkonsistenan antara ucapan dan perbuatan orang. Namun sikap si Ayah yang perokok dan pemabuk tidak lantas menggugurkan kebenaran argumennya.

Mungkin si Ayah terdorong menyampaikan argumen melarang kamu merokok dan mabuk supaya nasib buruk yang dialaminya sekarang tidak terulang lagi kepada anak-anaknya.

Di sisi lain, argumen tu qouque agaknya masih relevan untuk menguji kejujuran dan kekonsistenan ucapan seseorang, terlebih ucapan dari pejabat dan otoritas.

Kondisi ini sering ditemukan ketika musim kampanya pemilu. Misalnya, salah satu calon Kepala Daerah mengumbar janji setinggi langit untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi supaya dapat menarik suara dari masyarakat.

Dua tahun berjalan pemerintahannya berjalan, perilaku korupsi di lingkungan kerjanya tidak lekas hilang sehingga membuat sejumlah pemilihnya mengkritik dan mengatakan tidak akan memilihnya untuk kedua kali di Pemilu nanti.

Baca juga: Mengenal Varian Baru Virus Corona

Si Kepala Daerah merasa tersudutkan karena argumen tersebut. Topik semacam ini adalah perdebatan untuk membuka wawasan publik dalam menentukan calon pilihannya.

Variasi tu qouque menjadi kompleks dalam diskusi politik. Hal yang menjadi sorotan adalah bothsidesism. Ini berkaitan dengan kinerja jurnalisme yang menghargai posisi setara terhadap argumen dua pihak yang berdebat.

Pemirsa dalam hal ini perlu berhati-hati karena narasumber terkait sering berargumen tidak didorong oleh kepedulian terhadap kebenaran, namun dimotivasi masalah politik dan masalah praktis.

Menempatkan argumen keliru dalam keadaan setara dengan argumen faktual bisa menimbulkan kebingungan terhadap pemirsa, mana yang benar dalam pemberitaan.

Jika argumen tersebut dibiarkan dan dipertahankan untuk diskusi publik secara jangka panjang, informasi misleading akan sering bersileweran. Contoh ini sering ditemukan dalam masa Presiden Donald Trump yang menuding media palsu.

Dalam kurun waktu ini, bothsidesism dianggap menjadi keliru seperti dalam konteks perdebatan perubahan iklim yang telah disepakati banyak ilmuwan internasional akibat pengaruh manusia.

Tetapi media justru memberikan tempat kepada segelinitir ilmuwan yang menolak argumen pengaruh manusia dalam perubahan iklim untuk menyeimbangkan argumen.

Mana yang benar? Pemirsa akan menentukan, tetapi jika dijadikan landasan kebijakan publik, ini menjadi sesuatu yang merisaukan.

Baca juga: Mau Jadi Pemimpin Sukses? Simak 4 Cara Menjadi Pendengar yang Baik dalam Komunikasi