Nama mantan vokalis Drive, Erdian Aji Prihartanto selalu menuai sensasi. Dari mulai lika-liku hidupnya, karirnya sebagai artis, content creator, hingga yang terbaru. Pola pikirnya dalam memahami kondisi pandemi COVID-19 juga tidak luput dari sensasi. Pada pertengahan bulan Juli 2020, Anji sempat membuat gempar tanah air. Ia mengupload sebuah konten kritik di akun Instagramnya dan mengomentari sebuah foto hasil karya fotografer Joshua Irwandi.

“Foto ini terlihat powerful ya. Jenazah korban COVID-19. Tapi ada beberapa kejanggalan,” tulisnya dalam akun Instagram.

“1. Tiba-tiba secara berbarengan foto ini diunggah oleh banyak akun-akun ber-follower besar, dengan caption seragam. Sebagai orang yang familiar dengan dunia digital, buat saya ini sangat tertata. Seperti ada KOL (Key Opinion Leader) lalu banyak akun berpengaruh menyebarkannya. Polanya mirip. Anak Agency atau influencer/buzzer pasti mengerti,” paparnya.

“2. Dalam kasus kematian (yang katanya) korban covid, keluarga saja tidak boleh menemui. Ini seorang Fotografer, malah boleh. Kalau kamu merasa ini tidak aneh, artinya mungkin saya yang aneh,” jelasnya.

“Saya percaya covid itu ada. Tetapi saya tidak percaya bahwa covid semengerikan itu,” ungkap Anji.

Postingan tersebut sontak membuat pro kontra netizen. Menjadi kurang etis figur publik meragukan sebuah penyakit yang telah menewaskan lebih dari 500 ribu korban di seluruh dunia. Pernyataan Anji tersebut juga mendapatkan kritik langsung dari Pewarta Foto Indonesia (PFI). Anji pun meminta maaf atas tindakannya, akan tetapi, ia tetap bersikukuh atas poin ke-2 tentang mengapa fotografer bisa mengambil foto sedangkan keluarga tidak boleh menemui.

Tidak puas dengan kehebohan di atas, Anji kembali membuat sensasi. Kali ini, ia membuat sebuah konten tentan COVID-19. Anji membuat sebuah konten wawancara bersama seseorang bernama Hadi Pranoto selama 30 menit. Video wawancara tersebut diupload di kanal Youtubenya dengan judul “Bisa Kembali Normal? Obat COVID-19 Sudah Ditemukan.

Anji mengklaim bahwa Hadi adalah orang yang paling dicar karena mengklaim telah menciptakan obat COVID-19. Hadi sendiri menyatakan obat tersebut bisa menyembuhkan dan mencegah, dikutip dari video tersebut. Obat tersebut bisa membunuh virus hanya dalam kurun waktu 2-3 hari. Anji juga sempat mengklaim Hadi sebagai seorang profesor dan dokter. Setelah minum obat tersebut, Hadi mengklaim bahwa pertahan tubuh akan meningkat dan virus akan mati karena dimakan bakteri.

Dilansir dari Tirto.id, video tersebut telah membuat keresahan publik dan berisi informasi yang tidak valid atau hoaks. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dalam keterangan tertulis menyatakan bahwa video Anji bersama Hadi Pranoto adalah konten sesat yang tidak bertanggung jawab. “Ini bisa membahayakan publik dan memberi rasa aman yang palsu, dan dapat berbalik menjadi kelengahan masyarakat akan bahaya penyebarannya,” ujar Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho, dilansir dari Tirto.id, Netizen pun melaporkan video tersebut ke Youtube dan beberapa jam berselang, video tersebut telah di take down. Kasus penipuan ini makin melebar setelah pada akhirnya, terdapat klaim penipuan yang dilakukan oleh Hadir Pranoto

Rahmad: Video Anji & Hadi Pranoto Masuk Ranah Hukum
Sumber: gesuri.id

Sepertinya, Anji adalah penikmat konspirasi. Selama masa pandemi, beberapa kali ia mengeluarkan pernyataan yang membuktikan dirinya anti sains, narsistik, dan tidak bijak. Bukan perkara mudah bagi seorang public figure untuk mengklarifikasi pertanyaan yang sesat. Akan tetapi, bahaya ucapannya terletak pada jumlah subscriber di Youtube dan jumlah follower di Instagram yang cukup besar. Kemampuannya untuk menggiring opini tentu akan mempengaruhi sebagian subscribernya yang mencapai 3,7 juta maupun 2,1 juta follower IG nya. Oleh karena itu, akan sangat berbahaya bagi seorang influencer apabila ia gagal untuk menyampaikan informasi valid kepada audiencenya. Dampak terbesarnya, banyak orang yang percaya, meningkatnya gelombang masa anti sains, dan membuat kebijakan pemerintah dalam penanggulangan COVID-19 semakin berat. Lalu mengapa seorang selebriti seperti duniamanji berpikiran konspiratif?

Kemampuannya (Anji) untuk menggiring opini tentu akan mempengaruhi sebagian subscribernya yang mencapai 3,7 juta maupun 2,1 juta follower IG nya. Oleh karena itu, akan sangat berbahaya bagi seorang influencer apabila ia gagal untuk menyampaikan informasi valid kepada audiencenya.

Konspirasi sendiri lahir ketika nalar seorang manusia sudah tidak mampu lagi merasionalisasikan sebuah apa fakta empirik yang terjadi di lapangan. Di antara keputus asan dan kegagalan menerima kondisi, perilaku konspiratifpun sangat mungkin dapat terjadi. Dengan membuat sebuah argumen yang tidak berbasis data atau rasional. Joel B. Carnevale Assistant Professor of Management di Syracuse University’s Martin J. Whitman School of Management, membahas lebih jauh mengapa  orang bisa jatuh pada teori konspirasi dan mempercayai klaim tersebut. Pertama, konspirasi adalah cara untuk melegitimasi bias informasi yang hadir. Penerimaan informasi bias yang terlalu besar memang berbahaya bagi akal sehat kita. Akan tetapi, penerimaan bias informasi yang masih akan membuat diri kita lebih nyaman dalam menyangkal segala fenomena yang terjadi. Struktur pemikiran yang telah dibangun tanpa memikirkan salah atau benar akan sangat mudah terafirmasi, tanpa harus melalui pembuktian yang masuk akal.

Kedua, pemikiran konspiratif lahir dari keinginan manusia yang mengingkan sesuatu yang jelas, pasti dan tidak ambigus. Manusia sangat tidak sabar untuk menyadari bahwa sebuah ilmu membutuhkan proses panjang dan memakan waktu lama. Manusia selalu ingin tau mengapa perubahan sosial dan lingkungan dan terjadi. Akan tetapi, beberapa diantaranya lebih memilih untuk jawaban yang cepat ia dapatkan tanpa melalui proses pencarian ilmu pengetahuhan.

Ketiga, orang yang menyukai teori konspirasi adalah orang yang narsistik. Orang-orang ingin terlihat sebagai bagian yang menonjol dari sebuah perubahan dengan cara yang cukup singkat, seperti memberikan klaim-klaim tidak berdasar, bombastis, dan membuat orang-orang yang mendengarnya berdecak kagum. Permasalahannya, tidak ada kebenaran dari informasi yang ia berikan.