Aplikasi Clubhouse beranjak viral dan diperbincangkan masyarakat Indonesia selama sepekan terakhir. Popularitasnya dipicu efek Elon Musk, CEO SpaceX dan pendiri Tesla.

Untuk diketahui, Clubhouse adalah media sosial berbasis percakapan suara yang mewadahi para pengguna untuk dapat berdiskusi atas suatu tema menyerupai podcast. Aplikasi ini berbeda dari media sosial pada umumnya.

Usia Clubhouse terbilang pendek karena meluncur kali pertama pada Maret 2020 lalu. Namun, pengaruh Elon Musk mengubah popularitas Clubhouse mendadak jaya dalam waktu singkat.

Apa yang membuat Clubhouse mendadak populer?

Jumlah pengguna Clubhouse meroket dalam sebulan ini. Dahulu, Clubhouse hanya memiliki 1.500 pengguna pada Mei 2020, namun menanjak mencapai 2 juta pengguna pada 1 Februari 2021. Pencapaian luar biasa.

Ini bermula ketika Elon Musk yang memiliki 47 juta pengikut di Twitter menyebut kata Clubhouse dalam sejumlah cuitannya. Pada tanggal 31 Januari, ia menuliskan, “On Clubhouse tonight at 10pm LA time (Malam ini di Clubhouse pukul 10 PM waktu LA)“.

Ia juga diketahui melakukan percakapan bersama pimpinan Robinhood Markets, Vladimir Tenev di Clubhouse, laporan Tirto.id.

Cuitan Elon Musk berlanjut dengan menuliskan undangan kepada Kanye West sampai mengajak Presiden Rusia Vladimir Putin bergabung dalam diskusinya di Clubhouse.

@KremlinRussia_E would you like join me for a conversation on Clubhouse? (@KremlinRussia_E maukah Anda bergabung dengan saya dalam percakapan di Clubhouse?)” tulis Elon Musk yang diretweet 16 ribu akun.

Baca juga: Gaji Guru Honorer Hanya Rp700.000, Solusi Kesejahteraan Dinantikan

Ajakan tersebut direspon langsung oleh pihak Kremlin. Sekretaris pers Presiden Rusia Dmitry Peskov mengatakan undangan Musk merupakan sesuatu yang menarik.

Namun, ia mengatakan perlu mempelajarinya karena Presiden Putin secara pribadi tidak menggunakan media sosial, laporan Tesmanian.com menyadur Interfax.

Itulah sekilas cuplikan yang menangkap riwayat meroketnya pengguna Clubhouse yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Elon Musk.

Musk dalam dua bulan terakhir memang menuai sorotan luas media massa dan pelaku pasar lewat serangkaian cuitan di Twitter. Pengikutnya lantas mencari tahu dan mengunduh aplikasi-aplikasi yang disinggung Musk, termasuk di antaranya aplikasi Signal.

Ketenaran mendadak Clubhouse menular hingga ke gawai orang Indonesia. Sejumlah artis dan influencer diketahui turut menggunakan Clubhouse dan membagikan pengalaman berinteraksi mereka.

Clubhouse
Aplikasi Clubhouse. (Foto: Japan Times)

Baca juga: Paradoks Teknologi Digital terhadap Ketimpangan Pendapatan

Penulis novel Boy Chandra menuliskan di akun Twitter, “Ayolah, siapa pun, bikin aplikasi semacam clubhouse dengan orang yang sudah mati. aku butuh”. Ada juga influencer Anya Geraldine yang menuliskan, “Entah hari keberapa udah tidur pagi karena clubhouse.”

Mari beralih dari Elon Musk. Sekarang pekerjaan besar menanti Clubhouse dengan belasan juta pengguna yang harus menjadi perhatian mereka.

Dengan kata lain, aplikasi yang dibentuk Paul Davison and Rohan Seth ini perlu menjaga popularitas Clubhouse dalam jangka panjang untuk menyaingi raksasa media sosial lainnya.

Lalu, apa nilai tambah dari media sosial Clubhouse ini?

Indoneside mewawancara Andrew Prasatya, Head of Content Marketing RevoU, untuk mencari tahu keunggulan aplikasi ini. Berikut ini rangkumannya.

1. Invitation only social media

Clubhouse adalah aplikasi eksklusif. Agar orang bisa bergabung dalam perbincangan, harus ada invitation.

Tidak semua orang dapat langsung mendaftar layaknya media sosial lainnya. Menurut Andrew, ini membuat pengguna merasa sense of exclusivity.

Untuk diketahui, aplikasi Clubhouse sementara ini hanya tersedia untuk pengguna perangkat gawai Apple, iPhone dan iPad dengan operating system iOS 13 dan iPadOS 13, laporan Kompas.com. Clubhouse belum tersedia untuk perangkat Android.

2. Karakteristik yang berbeda

Andrew mengatakan, kebanyakan media sosial mencoba untuk menjadi segalanya. Platform-platform yang ada sekarang menyediakan tempat kepada pengguna untuk bisa mengunggah video, foto, rekaman dan sebagainya.

Clubhouse dengan basis suara dinilai mendorong orang menjadi lebih penasaran untuk mencobanya. Khususnya orang-orang di Indonesia.

3. Penggunaan yang praktis

Clubhouse tidak membuat pengguna harus merasa repot. Bandingkan dengan aplikasi lain yang menyediakan layanan streaming. Ketika hendak melakukan siaran, pengguna harus menyiapkan diri dengan berdandan terlebih dahulu agar terlihat cakap di layar.

Di Clubhouse, pengguna bisa langsung memulai percakapan karena hanya berbasis suara dan tidak memerlukan kamera.

4. Akses ke orang-orang “besar”

Kehadiran orang-orang terkenal dan memiliki jabatan penting menjadi nilai tambah untuk keunggulan Clubhouse.

Andrew mengatakan, sekarang Clubhouse sudah banyak digunakan orang-orang terkenal dan membuat room di sana.

Orang lain yang sudah memiliki akses dapat bergabung dan mendengarkan langsung pembicaraan mereka. Akses ke orang-orang besar ini memperlihatkan keunggulan untuk Clubhouse.

Baca juga: Mau Jadi Pemimpin Sukses? Simak 4 Cara Menjadi Pendengar yang Baik dalam Komunikasi

Clubhouse telah menjelma sebagai aplikasi media sosial yang diperhitungkan. Orang Indonesia perlahan-lahan mulai menginstal aplikasi tersebut.

Namun, kabar tidak sedap mencuat. Clubhouse terancam mendapat pemblokiran dari Kementerian Komunikasi dan Informatika karena belum terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Indonesia.

Meski begitu, Juru Bicara Kemenkominfo Dedy Permadi mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir karena proses pendaftaran PSE masih akan berjalan sampai batas waktu yang ditentukan.

Periode pendaftaran PSE dibuka selama enam bulan sejak Peraturan Menteri No 5 Tahun 2020 diundangkan yaitu 24 November 2020, laporan Kompas.com.

Ada regulasi yang harus ditaati Clubhouse untuk dapat hadir di Indonesia. Lalu, apakah masyarakat Indonesia dapat dianggap sebagai target pasar Clubhouse?

Andrew mengatakan dirinya belum yakin bahwa Clubhouse menargetkan Indonesia sebagai market mereka.

“Lebih ke masyarakat Indones kan level ‘penasarannya’ cukup tinggi. Ditambah lagi Indonesia salah satu negara dengan adaptasi mobile phone yang cukup tinggi. Jadi dua faktor ini membuat Clubhouse lumayan populer di Indonesia,” jelas Andrew.

Baca juga: 3 Mitos Diet dan Olahraga, Apa Kamu Pernah Melakukannya?