Menjadi pendukung tim sepakbola yang konsisten dan “glory hunter” tentu bukan jadi masalah yang pelik. Pendukung-pendukung Barcelona, Real Madrid, hingga tim-tim di “liga petani” seperti PSG, Bayern Munchen maupun Juventus selalu dibuat pukau oleh progresivitas klubnya. Minimal dalam setahun, selalu ada piala yang singgah di lemari klub. Para fans pun berbangga hati dengan kesuksesan tim dukungannya. Mereka acap kali meramaikan ruang publik di media sosial, sekedar mendukung klub idolanya, memamerkan prestasi, atau lebih kejam, perang opini dan membanggakan sejarah kesuksesan klubnya.

Hal ini berbanding terbalik dengan tim-tim yang selalu tidak konsisten seperti Arsenal, Chelsea, Manchester United, hingga Liverpool. Setiap pertandingan, kita selalu disajikan oleh gerombolan tentara jempol yang siap menunggu salah satu tim kalah dan mengejeknya. Lagi-lagi, satu-satunya pertahanan fans agar tidak diserang adalah berbicara sejarah klub. Dengan tingkat kreativitas netizen yang semakin meningkat, pertahanan tersebut juga tidak lagi laku, catatan sejarah tidak lagi bisa dibandingkan.

Sebagai pendukung Arsenal, saya telah melalui perjalanan suka dan duka, atau tepatnya lebih banyak dukanya. Sialnya, saya menyukai Arsenal di tahun 2005, saat mereka akan melalui puasa gelar selama 10 tahun. Selama itu pula, saya mendukung sebuah tim yang lebih sering menyajikan pahitnya kekalahan dan kegagalan dibanding prestasi. Tiap minggunya, saya sudah siap menahan diri di sekolah untuk mendengarkan cemoohan teman. Hal ini terjadi selama bertahun tahun.

Selama itu pula, saya mendukung sebuah tim yang lebih sering menyajikan pahitnya kekalahan dan kegagalan dibanding prestasi.

Selama 15 tahun lebih, tidak terhitung umpatan dan amukan setiap menonton Arsenal bermain. Beberapa kali diantaranya berakhir dengan mood yang sangat jatuh. Terutama pasca kalahnya Arsenal di final Liga Champions saat melawan Barcelona pada tahun 2006 dan final Liga UEFA saat melawan Chelsea pada tahun 2019. 

Tetapi tidak menyangkal juga, Arsenal benar benar membuat saya bahagia saat mereka berhasil menjuarai empat piala FA. Terakhir adalah kemenangan Arsenal pada dini hari, Senin (2/8). Saya berbahagia atas keberhasilan Meriam London melibas klub yang mengaku Raja Kota London, Chelsea dengan skor 2-1.  Kedua skor dicetak oleh satu satu pemain favorit saya, Pierre-Emerick Aubameyang.

Sumber: goal.com

Dalam euforia, saya merefleksikan 15 tahun dukungan saya terhadap tim ibu kota ini. Ternyata, mendukung Arsenal telah membawa pendukungnya (minimal saya sendiri) memahami refleksi atas perjalanan kehidupan. Arsenal sering membawakan kebahagiaan dan kesedihan. Ia juga membawa penontonnya ke dalam berbagai realita hidup seperti kondisi ekonomi yang buruk, sejarah yang tidak bisa dibanggakan apabila diperbandingkan, hingga kerelaan diri untuk melihat pemain-pemain favorit pergi dari Arsenal. Berikut saya rangkum berbagai dua tingkah laku Arsenal yang bisa dijadikan refleksi kehidupan.

1. Meraih kesuksesan sekecil apapun merupakan hal yang sulit, maka bersyukurlah

Sumber: arsenal.com

Haters Arsenal bersabda “apaan sih, menang 14 piala ciki aja bangga, kalau mau bangga itu menang Champions”. Pernyataan tersebut sudah sering terdengar, saya yakin hal itu. Lalu bagaimana kita meresponnya? ya diamkan saja. Kesuksesan itu banyak variabelnya, dan banyak cara untuk mencapainya. Keberhasilan meraih piala FA mungkin tidak sebanding pride nya dengan meraih Piala Champion atau Liga Inggris. Tapi daripada gak dapet apa-apa kayak tim satu kota, mendingan dapat piala FA. Tetaplah bersyukur sekecil apapun kesuksesan yang diraih. Minimal, kesuksesan kecil tersebut bisa kita sombongkan kepada tim yang tidak pernah juara. Ini modal yang sangat penting bagi kita untuk menjalankan hidup yang semakin hari semakin ribet. Kita bisa sedikit memamerkan kesuksesan kita kepada orang lain, hanya sekedar untuk membuat mereka berhenti mengomentari dan nyinyirin kita.

2. Yang membuat bahagia akan pergi meninggalkanmu, maka tetaplah nikmati nestapa

Sumber: skysports.com

Selama 15 tahun mendukung Arsenal, saya telah lama merasakan senang sedihnya pemain Arsenal yang datang dan pergi. Beberapa pemain seperti Thierry Henry, Cesc Fabregas, Patrick Vieira, dan Aaron Ramsey pergi secara baik-baik. Beberapa pergi dengan meninggalkan kekesalan yang mendalam seperti Emmanuel Adebayor, Robin Van Persie, atau Alexis Sanchez. Mereka pergi menuju klub rival dan hal tersebut memuakkan. Keseluruhan mayoritas adalah mantan kapten klub dan berhasil membawa kesuksesan bagi Arsenal. Mereka pergi di usia emas. Kemudian yang lebih menyedihkan, mereka mendapatkan kesuksesan yang lebih baik di klub barunya (kecuali Sanchez). Lebih kejamnya, mereka mencetak gol ke gawang Arsenal dan membuat tim ini kalah. Ini adalah nestapa yang tidak perlu lagi dipusingkan. Kesialan dan kehampaan akan selalu ada dalam hidup. Ditikung teman, ditinggalkan pasangan menikah, hingga diputuskan saat masih sayang-sayangnya adalah hal yang biasa dalam hidup. Arsenal mengajari kita agar jangan pernah mencintai terlalu dalam pemain yang berkilau di dalam tim. Karena semakin dia berkilau, semakin mungkin ia meninggalkan tim, meninggalkan saat para fans sangat-sangat mengidolakannya.