Tahun baru 2021 diharapkan dapat membawa kabar baik untuk masyarakat. Akan tetapi, belum genap sebulan sejak pergantian tahun, terjadi peristiwa pilu yang menguras simpati masyarakat Indonesia.

Pesawat Sriwijaya SJ 182 berpenumpang 62 orang termasuk awak pesawat dilaporkan hilang kontak dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu setelah beberapa menit lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta pukul 14.36 WIB, Sabtu 9 Januari 2021.

Dari pemberitaan yang dihimpun, pesawat Sriwijaya sebelum kecelakaan diketahui sempat keluar dari jalur penerbangan menuju arah barat laut, laporan Kompas.com, 15 Januari 2021. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengumumkan Flight Data Recorder (FDR) telah ditemukan pada 12 Januari 2021.

KNKT telah mengunduh data FDR sembari menunggu pencarian CVR atau Cockpit Voice Recorder untuk menginvestigasi penyebab, laporan Tempo.co, 15 Januari 2021. Sampai saat ini, tim gabungan juga masih bekerja untuk melakukan evakuasi korban dan puing pesawat dari laut.

Media massa senantiasa memperbarui kronologi kecelakaan. Berbagai topik berita diulas untuk merebut perhatian para pembaca. Ada informasi bermanfaat yang dilaporkan ke publik.

Namun, di hari ketika kecelakaan pesawat terjadi sempat terjadi peristiwa tak mengenakan publik. Beberapa berita yang beredar memuat judul ‘clickbait’ yang mengundang rasa penasaran pembaca. Kejadian ini menjadi sorotan warganet di Twitter.

Ilustrasi media digital
Ilustrasi media digital. (Foto: Negative Spaces/Pexels)

Warganet menyayangkan bagaimana media digital memberikan berita yang dinilai tidak etis dengan menayangkan informasi privasi korban dan terkesan tidak memperlihatkan ’empati’ terhadap keluarga korban.

Warganet menilai berita semacam itu tak laik dipublikasikan karena dapat mengganggu kenyamanan keluarga korban yang masih dalam kondisi berduka. Wartawan dan media semestinya dapat menghormati privasi korban dan perasaan keluarga korban atas kejadian tak mengenakkan yang menimpa mereka.

Meski begitu, beberapa warganet memberikan pembelaan dengan pertimbangan bahwa berita ditayangkan untuk memenuhi keinginan dan tren masyarakat. Para pembaca tentu mempunyai hak dalam menilai sebuah tulisan atau berita. Pembaca pun memiliki hak dalam memilih topik berita yang ingin dibaca.

Selera dan tren masyarakat pula yang barangkali menjadi ide pewarta dalam menulis berita. Rasa keingintahuan terhadap urusan orang lain masih melekat pada sebagian masyarakat Indonesia.

Di sisi lain, keberatan warganet terhadap beberapa pemberitaan tersebut membuat mereka menyinggung perihal kode etik jurnalistik terkait informasi pribadi korban suatu peristiwa. Kode Etik Jurnalistik mengenai privasi narasumber atau subyek dimuat dalam pasal 9 huruf b, mengutip Tirto.id.

Pasal 9 Kode Etik Jurnalistik berbunyi, “Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.” Sedangkan pada huruf b berbunyi, “Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.”

Dalam pasal 2 Kode Etik Jurnalis disebutkan bahwa wartawan Indonesia menempuh menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan kegiatan juarnalistik.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) turut memperhatikan model pemberitaan sejumlah media terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182. Ketika bencana terjadi, ada traumatis narasumber yang perlu dihormati oleh pewarta.

Dalam rilis berjudul “Jurnalis dan Media Perlu Perhatikan Aspek Etik dalam Liputan dan Pemberitaan Kecelakaan Sriwijaya Air“, 11 Januari 2021, AJI menuliskan bahwa menghormati pengalaman traumatis narasumber adalah implementasi dari prinsip minimizing harm atau meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh dampak kerja jurnalistik.

AJI juga menyerukan, jurnalis dan media agar tetap memegang prinsip profesionalisme seperti diatur dalam pasal 2 Kode Etik Jurnalistik. Menurut AJI, salah satu prinsip bekerja secara profesional ditunjukkan dengan marujuk sumber informasi kredibel dan kompeten dalam pemberitaan.

“Semangat untuk menggali informasi dari banyak sumber adalah hal yang baik untuk mencari kebenaran, namun pemilihan sumber tetap harus mempertimbangkan kredibilitas dan kompetensinya. Menggunakan sumber dari seorang ‘peramal’ sebagai bahan berita kecelakaan seperti ini adalah tindakan yang kurang patut,” bunyi seruan AJI.

Dari kasus kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182, ada pelajaran bahwa awak media setidaknya diharapkan dapat mengedepankan prinsip menghormati korban dan keluarga. Berita seharusnya dirancang untuk memberikan dukungan emosional kepada mereka.