Ahmad Baihaqi Rais telah memantapkan hatinya untuk menempuh bahtera rumah tangga bersama Selmadena Aquilla. Mereka, bahkan kita sendiri pun, memahami bahwa pernikahan adalah satu keputusan dan kepastian di antara dua insan. Melalui pernikahan Baihaqi telah menunjukkan tujuannya dalam merenggut hati sang gadis.

Sementara itu, Senna Indiarto Rajasa Putra adalah anak muda yang sedang menempuh pendidikan di institusi kepolisian. Kita tentu memahami bahwa pendidikan adalah satu jalan yang membuka cakrawala, memanusiakan manusia, memberikan sendiri makna dan keluar dari carut-marut kehidupan.

Sama halnya Baihaqi, ia juga mempunyai jalan hidup mapan sebagai seorang pengusaha. Terutama dia adalah putra dari Amien Rais, tokoh negara dan orang yang dihormati di Indonesia.

Dan pernikahan hanyalah satu hal, yang tentunya berada dalam catatan untuk dilaksanakan ke depannya. Kecuali kepada para rahib, rohaniwan yang memang mempunyai ketentuan tersendiri untuk hidup selibat.

Bisa jadi, keputusan Senna untuk mengikuti jejak Baihaqi merupakan hal yang sulit dilakukan dalam waktu dekat ini. Tidak sekarang!

Itulah mengapa Baihaqi akhirnya mendahuluinya, ia meminang Selma, gadis yang bertahun-tahun telah menjalin hubungan dengan Senna. Akad nikah berlangsung 4 Maret lalu.

Kisah ini dimuat Selma melalui media sosial hingga media nasional yang membungkusnya sebagai berita. Ada pro-kontra. Kolom komentar mempunyai ceritanya sendiri, dengan garis besarnya bahwa Selma telah melakukan keputusan tepat untuk menerima pinangan Ahmad Baihaqi. Ada pula yang risau dengan keputusannya.

“Kalau sudah sukses, mau bilang apa saja pasti dibenarkan. Kalau belum sukses, mau bilang apapun tetap salah, karena belum terbukti. Itulah kehidupan di dunia ini,” tulis Yunita Sihotang menanggapi berita pernikahan Baihaqi dan Selma dilansir dari tribunnews.com (8/3).

Memang sangat sukar dimengerti sebab pertemuan Baihaqi dan Selma terhitung jari sampai datangnya lamaran. Dan Baihaqi bersyukur, Selma menerimanya setelah melewati banyak pertimbangan. Sebab, diakuinya bahwa dia masih menyimpan rasa cinta kepada Senna.

Dia tahu bahwa keputusannya memilih Baihaqi sungguh sukar diolah akal sehat. Hingga dia memastikan alasan besar dibalik itu semua: realistis. Dia tidak dapat hidup hanya dilandaskan cinta. Bentangan jarak yang panjang di antara Senna dan Selma pun adalah alasan lainnya.

Apalagi hati Selma telah luluh dengan sikap baik Baihaqi kepada orang tua dan keluarganya. Tidak banyak lelaki yang memiliki kepribadian seperti itu.

Memang keputusan terjadi dengan jalan yang berbeda-beda. Selma juga bukanlah satu-satunya gadis yang sesederhana itu dalam memutuskan, seakan-akan hanya dialah orang yang datang kemarin sore dengan kisah mengejutkan.

Hanyalah kagum semata, bimsalabim, terjadilah yang namanya jatuh cinta. Setelah itu, menikahlah. Boleh jadi jatuh cinta adalah barang usang yang layak bersarang di keranjang sampah.

Jikalau tindakan berbicara lebih keras dari kata-kata, benarlah bahwa bukanlah cinta di antara keduanya yang mesra. Semua yang terjadi merupakan sebuah kekaguman, hal realistis ketimbang yang namanya cinta.

Sekarang cerita di atas, khawatirnya, menjadi racun untuk kawula muda, yang rasa-rasanya salah dalam menjalin hubungan: pacaran. Apalagi dewasa ini kita cenderung latah dengan sesuatu yang menjadi viral. Butuh ketegasan!

Wahai saudara, pernikahan adalah komitmen suci dalam hidup. Keputusan semacam itu bukan barang sembarangan. Komitmen tersebut adalah segalanya, bahkan menjelaskannya terkadang tidak rasional dan masuk akal.

Pernikahan bukanlah sesuatu yang diputuskan dengan realistis. Kelak dalam waktu yang dekat, ada badai yang menempuh bahtera. Roda kehidupan selalu berputar, kadang berada di atas kadang berada di bawah. Tidaklah tepat menghadapinya dengan sikap yang realistis. Kita harus mengikatkan diri kepada kekurangan dan kelemahannya.

Meski Selma tergila-gila dengan sebuah kepastian, toh dia sebenarnya harus juga menunggu agar terbiasa.

“Meninggalkan orang yang kita cintai itu memang berat, berat sekali. Tapi kembali lagi, aku harus memilih. Aku yakin, sakit hati ini hanya sementara, ” tulisnya dalam akun instagram (7/12/2016)/ “Move on.. Cinta bisa tumbuh karena terbiasa. cinta bisa datang pada waktu yang tepat.”

Seperti kisah di negeri dongeng, pernikahan sejatinya adalah perjuangan yang warna-warnnya penuh narasi-narasi utopis. Hubungan jarak jauh yang lamanya berlarut-larut bukanlah suatu dilema di tengah membanjirnya sinema-sinema romantika. Habibie dan Ainun atau Descendants of the sun, mungkin?

Meskipun demikian, semua orang tidak merasa ragu-ragu dalam memberikan rasa hormat. Terdengar utopis memang karena kisahnya teramat sukar atau jarang terjadi. Pun tidak semua lelaki seperti yang digambarkan Selma.

Ini kisah memang sukar dijelaskan, apapun alasan yang disampaikan lebih terdengar semacam pledoi. Manalah mungkin urusan hati dan batin terukur semata karena soal kepastian. Sukar-sukar tetapi membuat penasaran.

Mereka sekarang adalah keluarga, menempuh hidup dalam iring-iringan doa dari masyarakat. Ingatlah untuk tidak menghujat mereka dengan berlebih-lebihan, karena mungkin suatu saat, malahan kita akan berbuat hal yang sama.