Pandemi Covid-19 yang menjangkit dunia selama hampir satu tahun telah menghadirkan semangat-semangat kemanusiaan untuk menyembuhkan pasien terinfeksi bersamaan dengan segala upaya pencegahan penularan virus.

SARS-CoV-2 yang meyebabkan Covid-19 menyebar sangat cepat antarmanusia melalui sentuhan tangan, wajah dan droplet.

Tenaga medis berjuang sebagai ujung tombak terdepan dalam memerangi pandemi ini, meski dari perspektif pencegahan, masyarakat adalah garda terdepan sebenarnya.

Baca juga: Rasa Haru Pebalap Romain Grosjean setelah Kecelakaan Mematikan di GP Bahrain

Para tenaga medis ini bekerja penuh mengerahkan tenaga dan pikiran mereka, meninggalkan keluarga bahkan mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan penderita Covid-19.

Ikatan Dokter Indonesia mencatat 282 dokter dan perawat meninggal dunia akibat Covid-19 sepanjang Maret hingga November dengan kematian terbesar di provinsi Jawa Timur sebanyak 36 dokter.

Pandemi sedari awal hadir pada Maret 2020 mengejutkan banyak orang. Kepergian Prof dr Iwan Dwiprahasto yang meninggal pada 24 Maret 2020 akibat terpapar Covid-19 telah memukul keluarga dan dunia akdemisi.

Baca juga: Putri Diana, Kisah Cinta yang Abadi untuk Ditelusuri

Sang Guru Besar yang semasa hidup menempuh jalan sunyi untuk mendedikasikan diri mengembangkan ilmu kedokteran.

Seperti halnya dr. Nastiti Noenoeng Rahajoe, Sp.A(K), dokter spesialis anak yang merupakan tokoh respurologi anak. Perjuangannya untuk memperhatikan anak terpapar Tuberkulosis (TB) harus terhenti setelah ia meninggal akibat terinfeksi virus corona.

Perjuangan para dokter melawan pandemi Covid-19 tidak terhitung di daerah-daerah Indonesia sampai yang terpelosok sekalipun. Perjuangan yang mustahil diukur secara materil sebagai bentuk tukar-jasa dalam merawat pasien yang membayarnya.

Baca juga: Penjelasan Masyarakat Jangan Terlena dengan Kemajuan Pengembangan Vaksin Covid-19

Di atas itu semua, rasa kemanusiaan telah mendorong lahirnya sikap bahu-membahu dan solidaritas untuk mengakhiri masa pandemi.

Pengembangan vaksin dilakukan dengan perkiraan tahun depan dapat terdistribusi.

Selama pandemi berlangsung, kisah pertarungan untuk melawan pandemi Covid-19 juga melampaui sekat pembatas antarnegara, identitas politik dan agama.

Kuba, negara sosialis di perairan Karibia Amerika adalah salah satu negara yang membantu peperangan melawan Covid-19 ketika virus corona merajalela di Italia pada Maret lalu.

Rasanya hampir mustahil melihat negara berkembang seperti Kuba menawarkan bantuan kepada negara berstruktur ekonomi lebih raksasa darinya.

Baca juga: Hikmah Pandemi Covid-19, Ini Daftar Skills Kerja yang Bisa Dikembangkan di Rumah

Tetapi itulah faktanya. Reuters mengabarkan Kuba telah mengirimkan 52 tenaga medisnya ke Italia pada Maret 2020 di tengah tekanan berat yang dipikul Italia akibat virus corona. Negara di selatan Eropa ini melakukan lockdown dan menutup pintu masuk mengingat penyebaran virus sangat cepat.

Sebelum ke Italia, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengirimkan dokter, perawat dan profesional yang tergabung dalam brigade medis atau dikenal sebagai pasukan seragam putih untuk membantu Venezuela, Nikaragua, Jamaika, Suriname dan Grenada memerangi virus corona.

Tenaga medis Kuba dikirim ke Italia untuk membantu penanggulangan Covid-19.
Tenaga medis Kuba dikirim ke Italia untuk membantu penanggulangan Covid-19. (Foto: Wanted in Rome)

Dr Leonardo Fernandez, salah satu tenaga medis yang dikirim ke Italia, mengakui pandemi Covid-19 sebenarnya menakutkan bagi dirinya.

Sama seperti masyarakat saat ini, ketakutan terhadap pandemi merupakan hal manusiwai. Akan tetapi, kondisinya menjadi tidak mudah ketika berada dalam pilihan harus turun langsung ke lapangan.

“Kami memiliki tugas revolusioner yang harus dipenuhi, jadi kami mengesampingkan rasa takut kami,” kata Leonardo dikutip.

Baca juga: Kandidat Vaksin Covid-19 AstraZeneca Dianggap Cocok untuk Indonesia

Tenaga medis yang terdiri dari dokter dan perawat dikhususkan untuk merawat pasien yang tertular virus corona. Dalam barisan itu, Kuba turut mengirim ahli virologi dan imunologi sehingga pertolongan benar-benar dilakukan dengan efektif.

Pengiriman brigade medis dari Kuba ke belahan dunia selama pandemi tetap menimbulkan prasangka oleh beberapa media.

Bloomberg misalnya pada laporan 16 Juni 2020, menghubungkan brigade medis sebagai kesempatan Kuba mengumpulkan pendapatan dari negara asing, mengutip jumlah pendapatan asing sebesar 6,4 Miliar USD pada 2018 berkat jasa ekspor layanan medis ini.

Tetapi perjalanan Kuba dalam bidang medis telah mempunyai riwayat panjang. Sejak Fidel Castro mengambil alih pemerintahan melalui revolusi enam dekade lalu, kesehatan merupakan faktor penting di negara tersebut. Kuba mengubah sistem kesehatannya dan melahirkan banyak dokter sehingga rasio tenaga dokter di sana menjadi yang tertinggi di dunia.

Berdasarkan data WHO yang dikutip, jumlah dokter per kapita di Kuba menempati posisi pertama dunia dengan rasio perbandingan dokter dan 10.000 penduduk sebesar 8,2. Sebagai informasi, penduduk Kuba saat ini berjumlah 11 ribu jiwa.

Keberadaan brigade medis inilah secara tidak langsung dianggap sebagai bentuk kampanye dan diplomasi Kuba dalam menjalin kerjasama dengan negara lain.

Mereka juga terlibat dalam penanggulan wabah Ebola di Afrika. Lebih dari 450 dokter dan perawat Kuba yang terlatih tiba di Liberia, Guinea, dan Sierra Leone untuk memerangi Ebola yang membuat mereka menjadi tenaga medis terbesar di sana.

Motif ekonomi agaknya menjadi tidak terlalu relevan dihubungkan dalam upaya menyelamatkan nyawa manusia selama masa pandemi.

Baca juga: Alasan di Balik Nikon Indonesia Tutup: Restrukturisasi hingga Covid-19

Tuntutan keberpihakan dan kepedulian adalah faktor utama yang terlihat berkebalikan dari gaya Presiden AS Donald Trump. Meski AS memiliki sumber daya dan kekuatan finansial, ia nyatanya bisa mengabaikan persoalan penyebaran virus corona penyebab Covid-19 ini.

Ketika Pulau Sisilia, Italia membutuhkan tambahan medis, Komisioner penanggulangan Covid-19 Sisilia, Renato Costa, tetap meminta bantuan medis dari Kuba meski ia tahu bahwa negara tersebut sedang sibuk melayani pasien di daerah dan negara lain.

“Kami hanya berharap mereka akan datang kepada kami. Saya sudah menghubungi kedutaan dan mereka menyambut penawaran kami,” kata Renato Costa dikutip The Guardian dari La Repubblica.

Itu belum lagi kisah bagaimana Kuba menjadi satu-satunya negara yang mau menyambut kapal pesiar Inggris MS Braemar ketika 5 penumpangnya diketahui terjangkit Covid-19 pada Maret lalu. Ironinya, sebelum ke Kuba, kapal ditolak berlabuh di Bahama dan Barbados yang notabene merupakan bagian dari British Commonwealth.

Dan sembilan bulan kemudian menjelang tutup tahun 2020, pandemi belum berakhir. Rasa kemanusiaan menjadi sesuatu yang sangat diharapkan masyarakat tumbuh mendahului segala prasangka agar bisa lepas dari tekanan selama pandemi Covid-19.