Oleh: Rafika Nirmala Purbasari, S.Psi, Associates Practitioner of Chaakra Consulting, Psychologist Candidate from Airlangga University

Setiap orang pernah mengalami kehilangan dalam hidupnya. Kehilangan orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan ataupun kehilangan hal berharga lainnya. Hal yang membedakan adalah bagaimana setiap orang bangkit kembali dari peristiwa yang menyakitkan tersebut.

Martin Seligman, Bapak Psikologi Positif Dunia menyebutkan terdapat 3P yang dapat menghambat masa pemulihan setelah mengalami “kehilangan”, antara lain:

  1. Personalization: keyakinan bahwa kita adalah pihak yang perlu disalahkan akan kejadian tersebut
  2. Pervasiveness: keyakinan bahwa kejadian tersebut akan mempengaruhi kehidupan kita secara keseluruhan
  3. Permanence: keyakinan bahwa perasaan sedih ataupun kecewa akan berlangsung selamanya.

Ketiga hal tersebut dapat mendorong kita untuk terus melihat sisi negatif dari berbagai hal. Sebagai contoh, kita merasa kecewa ketika melihat postingan teman yang sedang berbahagia di sosial media yang berujung kita menyalahkan orang lain dengan dalih tidak peka terhadap kondisi kita yang sedang berduka. Pernahkah kita juga merasa sedih atau marah ketika mendengar lagu romantis saat patah hati? sejatinya hal-hal tersebut bersifat netral namun kita terus mempersepsikan secara negatif.

Manusia, pada dasarnya memiliki resiliensi, yaitu fleksibilitas dalam menanggapi tuntutan situasi yang berubah-ubah dan diartikan juga sebagai kemampuan untuk bangkit kembali (bounce back) dari pengalaman menyakitkan. Martin Seligman menggambarkan tiga karakter individu yang memiliki resiliensi tinggi. Pertama, Optimism, bersikap optimis bukan berarti diam saja dan berharap hal baik akan datang tetapi melakukan usaha-usaha untuk merubah kondisi menjadi lebih baik. Kedua, Hope yaitu memiliki harapan/tekad untuk mencapai tujuan meyakini bahwa banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan serta mampu memaknai pelajaran dari kejadian yang menimpanya. Ketiga, Mastery yaitu kontrol diri yang baik terhadap peristiwa yang menimpanya sehingga dapat lebih adaptif ketika mengalami kejadian buruk lainnya di kemudian hari.

Bagaimana upaya untuk mencapai Optimism, Hope dan Mastery? Pertama, kita bisa memulai dari hal-hal kecil yang terkadang tidak kita sadari merupakan bagian dari proses pemulihan. Kita mulai dengan menuliskan hal-hal sederhana yang kita syukuri setiap harinya dalam suatu jurnal seringkali disebut dengan gratitude journal. Hal sederhana seperti bau kopi di pagi hari, udara yang segar, atau apapun yang membuat hati kita menjadi tenang. Selain itu, kita juga melengkapi dengan menuliskan kemajuan aktivitas atau bounce back activity. Kita bisa memulai menuliskan hal-hal sederhana yang berhasil dilakukan seperti bangun pagi, memasak makanan favorit dan seterusnya. Terkadang ketika berada dalam kondisi yang menyakitkan, bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja merupakan hal yang susah sehingga kita perlu mengapresiasi diri untuk setiap usaha yang sudah dilakukan. Seiring berjalannya waktu, hal yang dapat dituliskan akan berubah menjadi skala yang lebih besar dan lebih banyak, seperti misalnya dapat kembali bekerja, mampu mencuci kendaraan, hingga bersosialisasi kembali. Kehilangan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan manusia, tetapi bagaimana kita bisa terus bangkit adalah hal yang harus kita upayakan dan resiliensi dalam diri dapat membantu proses pemulihan dengan lebih baik.

Ilustrasi kesedihan
Ilustrasi orang kehilangan. (Foto: cottonbro/Pexels)