Warga Cipinang-Bekasi mungkin sering melewati kawasan BKT (Banjir Kanal Timur) yang meliputi di Jalan Basuki Rahmat sampai Jalan Inspeksi Kanal Timur. Anak muda-mudi sering menjadikan kawasan ini menjadi tempat nongkrong yang murah-meriah. Sepanjang kawasan ini tidak lepas dari Pedagang Kaki Lima (PKL) mulai dari jualan minuman dan makanan, pulsa, baju, celana, sampai-sampai ada yang jualan perabotan rumah tangga. Nah, lo bayangain di BKT udah kaya pasar, hahaha. Keramaian kawasan ini dapat dijumpai mulai malam hari karena para pedagang mulai banyak yang membangun tenda lapak jualan mereka. Sampai-sampai di kawasan ini bisa terjadi kemacetan yang cukup parah (alias ga bisa jalan).

(Baca: Tua di jalan, candaan untuk para pekerja di Jakarta)

Kalo pagi hari, kawasan BKT banyak dijadikan tempat sarana olahraga alternatif seperti bersepeda, jogging, sampai ada cuma hanya ingin menghirup udara segar pagi hari di Jakarta. Walaupun emang udara di Jakarta ga bagus-bagus banget sih, hahaha. Tapi, aktivitas olahraga pagi hari di BKT dapat dijumpai pada saat hari libur. Nah, lumayan kan bagi orang Jakarta yang pengen olahraga gratis bisa datang ke BKT walaupun cuma bisa olahraganya kaya gitu. Lumayan ga ngeluarin uang buat datang ke tempat gym/fitness yang harus ngeluarin uang buat masuknya doang.

Menariknya lagi nih di kawasan BKT, banyak anak muda-mudi yang menjadikan kawasan BKT tempat nongkrong. Tapi juga dijadikan tempat pacaran. Yaa kalo curi-curi kesempatan bisa jadi ajang tempat mesum. Maklum anak muda-mudi sekarang latah akan dunia percintaan. Dikit-dikit galau, dikit-dikit baper (bawa perasaan), sampe dikit-dikit ga tau tempat buat ngelakuin perbuatan yang ga semestinya. Itu lah kondisi di kawasan BKT. Tapi terlepas dari kawasan BKT dijadikan tempat tongkrongan, bagi para PKL dijadikan ajang cari rejeki. Karena kawasan ini banyak orang yang nongkrong, atau hanya sebatas membeli barang, atau bahkan melintas jalanan kawasan BKT.

Mungkin kalo BKT ini dikelola oleh pihak yang berwenang dapat dijadikan kawasan wisata. Coba aja di BKT ini ada semacam perahu atau apa lah yang bisa jadi daya tarik wisata kaya di Venice, Italia. Lo bayangin kalo ada wisata jalan-jalan di BKT-nya naik perahu atau gondola bakalan seru buat didatengin dan mengabadikan foto di BKT. Tapi sayang, harus kita tunggu apakah ada realisasi seperti ini di kawasan BKT. Kalo iya, BKT seperti ini bakalan rame dan juga jangan lupa untuk di dekorasi se-cantik mungkin. Karena percuma aja kalo ada perahu atau gondola semacamnya tapi pemandangannya cuma hanya pembatas BKT yang akhirnya bikin kurang menarik minat untuk dikunjungi. Walaupun memang kawasan BKT rame buat tempat nongkrong.

Kita berharap aja kawasan BKT bisa jadi Venice-nya Indonesia. Ini perlu perhatian besar dari pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sekedar informasinya juga kalo jajanan di kawasan BKT tergolong murah. Kisarannya dari dua ribu sampai puluhan ribu rupiah. Harganya ga bakalan kantong kalian langsung bocor (alias kehabisan uang).  Berikut penampakan BKT. Jadi, begitulah sekilas tentang BKT dan kita harus bangga punya BKT di Jakarta, hehehe.

(Baca: Street Art Ibu Kota: Dilema sebuah karya)

Sumber Foto : (Istimewa)