Jika warna-warni tembok di kampung Jodipan, Malang memukau bagi wisatawan lokal, lain hal dengan kota Tirana, Albania.

Warna-warna cerah yang melekat pada fasad-fasad rumah dan bangunan di kota itu boleh dikatakan bentuk ‘buang sial’ negara tersebut selama di bawah pemerintahan sosialis-komunis.

Dahulu, Tirana sama seperti kota-kota sosialis-komunis di Eropa Timur. Kawasan kota dibangun menurut konsep kota sosialis dengan deretan blok rumah susun.

Untuk mengetahui lebih dalam, pada akhir Perang Dunia II, setidaknya lebih dari 62.000 rumah di Albania atau seperempat dari total bangunan hancur luluh lantak.

Maka, untuk membangun kawasan perumahan baru, rumah-rumah lama dihancurkan. Akhirnya, terciptalah hunian baru yang terdiri dari 3-4 blok rumah susun.

Kualitas bangunan hanya seadanya. Maklum, mendirikan perumahan membutuhkan biaya besar untuk Albania kala itu. Adapun bantuan asing lebih diprioritaskan untuk membiayai keperluan industri.

Blok-blok rumah susun ini disebut ‘distrik mikro’. Warga yang kelas pekerja hidup efisien, mengurangi banyak perjalanan, dekat ke pabrik, sekolah, fasilitas kesehatan, dan situs budaya.

Perbandingan sebelum dan sesudah bangunan di kota Tirana, Albania
Perbandingan sebelum dan sesudah bangunan di kota Tirana, Albania. (Foto: Allthatsinterseting.com)

Distrik mikro, oleh Uni Soviet diklaim berhasil baik secara ekonomi ataupun ideologis ketika mereka melakukannya pada tahun 1960-an.

“Visi dan gaya arsitektur jenis blok apartemen dan desain distrik mikro didasarkan pada ‘fungsionalisme’… Struktur dan arsitektur kota harus memenuhi empat kebutuhan dasar: fungsi perumahan, kebutuhan tempat rekreasi, kebutuhan transportasi, dan kebutuhan kerja,” kata penulis Millenium Urbanisme John Ploger dikutip.

Sayangnya, Albania di bawah rezim komunis selalu terpuruk. Cerita-cerita tentang praktik korupsi dan ketidakbebasan adalah beberapa episode dari negara itu.

Warga dibatasi untuk berpergian ke negara Eropa Barat. Udara bebas baru datang pada tahun 1991 di mana Albania melaksanakan pemilu pertama mereka yang menandai berakhirnya era komunis.

Albania berbenah, namun perubahan luar biasa baru terlihat pada satu dekade kemudian di kota Tirana tatkala seorang seniman, Edi Rama, menjadi Wali Kota pada 2003 silam.

Gaya kepemimpinannnya memang nyentrik. Baginya, perbaikan kota harus sebanding dengan wacana membangun masyarakat, walaupun alasan sebenarnya Kota Tirana tidak memiliki banyak uang untuk membangu atau memperbaiki infrastruktur kota.

“Anda perlu menunjukkan perubahan kecil kepada warga sehingga mereka percaya bahwa Tirana di masa depan bisa menjadi tempat tinggal yang menyenangkan,” katanya.

Idenya adalah membangun ruang publik yang terhubung dalam rasa kepemilikan. Ide semacam ini terlihat seperti mengulang rezim komunis. Namun, Rama sendiri geram apabila disangkutpautkan pada komunisme.

Selama berkuasa setengah abad, komunisme dianggap telah menyalahgunakan kosa kata tentang identitas dan pemberdayaan bangsa. Ketika menyerukan solidaritas, orang-orang menuduhnya sebagai komunis.

“Meminta orang untuk tidak merusak ruang publik dan tidak membuang sampah pun dianggap sebagai ungkapan komunis,” katanya.

Komunis di masanya sesuatu yang agak terkesan buruk. Namun terlepas dari persoalan ideologi, Rama secara nyata memulai perubahan dengan mencoba terbuka dan transparan. Ia menjawab pertanyaan warga tentang semua isu dalam acara radio mingguan.

Kota Tirana
Kota Tirana modern. (Foto: liveablescities.com)

Yang mengesankan adalah warna-warni bangunan di Tirana. Inilah gagasan Rama. Ia memandang kota tidak hanya sebagai ruang fisik tetapi juga sebagai ruang di mana masyarakat dapat membayangkan masa depan mereka.

Warna-warna biru, merah, hijau dan lain sebagainya memantul dari bangunan-bangunan menggantikan warna abu-abu yang populer di era komunisme.

“Kami ingin orang-orang merasakan sebuah kota, tidak sebatas sebagai ruang fisik tetapi juga sebagai ruang bagi masa depan,” kata Rama dilansir dari The Observer.

Rama adalah pelukis dan sempat keluar menuju Paris ketika komunisme tumbang. Ia juga mantan guru di Akademi Seni di Tirana.

Dan ketika kebijakannya mengecat warna-warni bangunan, ia mendapat pertentangan dan menganggap ini sebagai skandal. Namun, dalam jajak pendapat, ia mengklaim hasilnya berbeda.

“Enam puluh tiga persen orang-orang mengatakan menyukainya dan 80 persen mengatakan mereka ingin melanjutkan. Bahkan orang yang tidak menyukainya mengatakan ingin terus berlanjut,” ujarnya.

Ketika visual memancarkan harapan, di sana ada kekuatan besar yang bekerja. Orang-orang menjadi terhubung dengan kota. Ketika warna-warni muncul di mana-mana, suasana hati berubah menjadi semangat. Rama pun menyebutkan angka-angka kejahatan turun berkat warna warni ini.

“Orang-orang mulai mengurangi sampah di jalanan. Mereka mulai membayar pajak. Mereka mulai merasakan sesuatu yang mereka lupakan. Keindahan memberi orang perasaan terlindungi,” kata Rama yang kini menjabat sebagai PM Albania.

Apa yang keluar dari warna-warna cerah itu bukan sekadar keindahan yang sepintas lalu, lalu terlupakan. Rama berhasil menyajikan perubahan besar, bagaiman ia sebagai pemimpin mendorong masyarakat untuk berimajinasi tentang masa depan dan melupakan teror di masa lalu.