Pandemi Covid-19 telah mengubah kegiatan perkuliahan mahasiswa dari kelas tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring). Dari satu tahun yang berganti, sembilan bulan sejak kasus pertama Covid-19 dilaporkan terjadi di Indonesia, mahasiswa masih harus melanjutkan perkuliahannya dari rumah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim pada November lalu pernah mengatakan pembelajaran tatap muka bersyarat bisa terselenggara pada Januari 2021.

Akan tetapi, sampai saat ini, belum terlihat tanda-tanda bahwa pandemi akan mereda dalam waktu dekat. Bahkan, dunia sedang bersiap menghadapi ancaman penyebaran mutasi virus Corona yang kali pertama dilaporkan di Inggris.

Kondisi ini akhirnya menyebabkan kegiatan pembelajaran jarak jauh secara daring harus dilanjutkan untuk mencegah risiko penyebaran virus Covid-19. Pemerintah telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jawa dan Bali dari 11 Januari sampai 25 Januari 2021.

Baca juga: 5 Informasi yang Perlu Diingat tentang Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19

Bilqis, mahasiswa angkatan 2019 di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat, menceritakan pengalamannya selama menjalani perkuliahan daring sejak Maret 2020. Awalnya, dia mengalami kesulitan untuk mengikuti proses perkuliahan daring, namun dalam perjalanan waktu, ia akhirnya menjadi terbiasa.

Untuk sampai pada keadaan itu, dia telah melewati liku-liku panjang. Pelbagai perubahan telah dirasakannya sepanjang perkuliahan daring dibanding perkuliahan tatap muka.

Di masa awal kuliah online, Bilqis menghadapi kenyataan bahwa dosennya perlu beradaptasi untuk menyesuaikan pengajaran secara daring. Di samping itu, terdapat masalah sinyal internet dan distribusi kuota yang tidak merata kepada mahasiswa sehingga mengganggu jalannya proses perkuliahan.

Pergumulan tersebut akhirnya menimbulkan kebingungan kepada Bilqis dalam menyerap isi materi yang disampaikan dosennya. Di sisi lain, faktor finansial masih menjadi perhatian yang menyibukkan Bilqis selama mengarungi masa-masa sulit ini.

“Selama lockdown penghasilan tidak mencukupi, tetapi uang kuliah tetap harus dibayarkan,” ujarnya.

Baca juga: Melihat Desain Rumah Bus dan Rumah Mini untuk Solusi Lahan Sempit, Yes or No?

Di waktu luangnya, Bilqis menyempatkan diri untuk menekuni minatnya dalam menulis. Bersama teman-temannya, dia telah mengerjakan berbagai naskah untuk dijadikan buku.

Ia pernah mengikuti berbagai acara penulisan, terakhir pada bulan Desember 2020. Selain menulis, ia juga memiliki keterampilan dalam mengolah desain grafis yang dipraktikkannya untuk membantu temannya yang mengikuti kompetisi. Cara-cara ini dapat digunakan sebagai pengusir rasa suntuk selama pandemi Covid-19.

“Dulu saya mengurung diri karena melihat pemberitaan Covid-19. Semakin ke sini, saya merasa biasa saja,” kata Bilqis seraya mengatakan kondisi di lingkungannya berjalan normal dan bebas dari kasus Covid-19.

Pengalaman perkuliahan daring lainnya datang dari bagian timur Jawa, tepatnya di kota Surabaya.

Silva, mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga mengatakan bahwa dirinya merasa bersyukur masih dapat berkuliah dengan baik walaupun secara daring.

“Untuk materi kuliah yang disampaikan, tidak ada masalah. Kegiatan perkuliahan tetap berjalan dengan semestinya,” kata Silva.

Ia memanfaatkan peluang yang ada dari dunia digital. Selama mengikuti perkuliahan daring melalui Zoom, ia merekam tayangan video perkuliahan untuk diulasnya kembali selepas waktu perkuliahan selesai.

Seperti pengalaman Bilqis, kendala kurang baiknya sinyal internet menghambat proses perkuliahan Silva kala memperhatikan penyampaian materi dari dosennya. Ia mengaku masih dapat mengatasi persoalan tersebut.

Baca juga: Melihat Desain Rumah Bus dan Rumah Mini untuk Solusi Lahan Sempit, Yes or No?

Namun, sebagai mahasiswa Kedokteran, pandemi Covid-19 yang sangat membatasi bentuk pertemuan fisik antarorang telah merebak sampai ke kegiatan praktikumnya.

“Saya mengalami kendala saat materi praktikum kuliah anatomi dan histologi, di mana seharusnya saya bisa menyentuh kadaver secara langsung agar bisa mengidentifikasi struktur-strukturnya dengan jelas.”

“Selain itu, seharusnya saya bisa melakukan praktikum histologi secara langsung melihat preparat-preparat histologi melalui mikroskop,” kata Silva.

Silva mengatakan perkuliahan daring adalah langkah tepat untuk diterapkan saat ini mengingat pandemi Covid-19 harus diwaspadai. “Sangat berisiko jika diadakan kuliah secara luring,” katanya.

Dia mengatakan sangat senang menyelesaikan tugas-tugas kuliah, di samping itu ia mampu mengerjakan urusan organisasi, menulis dan membaca buku. Menghalau pedar, lagu-lagu favorit diputar dalam mengiringi proses belajarnya.

“Saya juga merasa cukup terhibur dengan menonton YouTube, sharing ilmu di Twitter, maupun aktif di akun sosmed saya yang lainnya,” katanya.