Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) membutuhkan dukungan untuk memasuki pasar ekspor. Inilah salah satu tugas prioritas yang diemban Menteri Perdagangan M Lutfi setelah dilantik Presiden Jokowi menggantikan Agus Suparmanto.

M Lutfi mungkin tidak terlalu sulit beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Ia pernah menjadi Menteri Perdagangan di era Presiden SBY pada 2014. Jabatan terakhirnya adalah Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Dengan pengalaman tersebut, M Lutfi tampaknya tidak akan kesulitan menerjemahkan masalah kekinian ekonomi internasional.

Dalam wawancara di Primetime Metro TV, tidak lama setelah dilantik Presiden Jokowi, M Lutfi terlihat cakap memaparkan tantangan Indonesia di pasar internasional pada tahun mendatang.

“Keadaan ekonomi dunia sekarang lemah sekali, ringkih jadi diperlukan beberapa terobosan-terobosan.”

“Ini tantangan luar biasa, bukan hanya untuk Kementerian Perdagangan tetapi juga untuk negara [Indonesia] dan banyak negara di dunia, karena itu kita mesti out of the box dan memastikan arus keluar masuk barang di Indoneia menjadi lebih baik,” kata M Lutfi dikutip, 23 Desember 2020.

Ia akan menyusun rencana untuk melakukan negosiasi perdagangan Indonesia dengan negara kawasan untuk bisa memasuki pasar nontradisional. Sebagai pembanding, negara pasar ekspor tradisional Indonesia selama ini adalah China, AS, Jepang, India dan ASEAN.

Dari uraian M Lutfi, tantangan ekspor Indonesia diketahui dihadapkan pada masalah kualitas produk dan pengemasan. Hal ini menjadi fokusnya pada tahun mendatang agar produk Indonesia dapat menembus pasar tradisional dan nontradisional.

“Tahun 2021 perdagangan dunia lemah. Kita mengadakan siasat dan strategi tertentu untuk memastikan barang Indonesia bisa laku dan berkompetisi di pasar dunia,” ucapnya.

Baca juga: Faisal Basri: Jadikan Budi Sadikin Komandan ‘Perang’ Lawan Pandemi Covid-19, Bukan Airlangga Hartarto

Ambisi Indonesia untuk membawa UMKM ke pasar dunia bukanlah hal baru dalam pemerintahan Presiden Jokowi. Ketika periode kedua pemerintahannya dimulai, UMKM diupayakan bisa naik kelas.

Tahun lalu, Menteri Perdagangan yang kala itu dijabat Agus Suparmanto menawarkan peluang ekspor kepada pelaku UMKM dengan kemudahan akses bahan baku dan fasilitas pembiayaan serta akses pasar ekspor.

Promosi produk UMKM merupakan langkah pertama untuk bisa memasuki pasar ekspor, kemudian mencari pembeli luar negeri untuk transaksi ekspor.

Di lain pihak, Kementerian Koperasi dan UKM telah mengeluarkan arah dan kebijakan yang menargetkan ekspor UMKM meningkat menjadi 30,20 persen pada 2024.

 

Tantangan UMKM Indonesia

Namun, sebelum berbicara tentang ekspor, produk UMKM Indonesia nyatanya juga mengalami persaingan dengan produk impor di pasar domestik. Ini merupakan pembelajaran supaya produk UMKM mampu meningkatkan level daya saing produknya dari segi harga, desain dan kemasan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mencatat, tantangan UMKM Indonesia masuk ke pasar internasional adalah keterbatasan kapasitas produksi, minimnya SDM yang terampil dan akses permodalan.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bahkan meminta para pelaku UMKM untuk bertransformasi masuk ke industri teknologi agar lebih kompetitif dari sekedar mengandalkan bidang kuliner dan fashion.

 

Solusi untuk UMKM

Dilihat dari persentase, sebagian besar pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM yang mencapai 99 persen dari total usaha.

Penyerapan tenaga kerja pada UMKM juga paling besar yaitu 97 persen dari total angkatan kerja Indonesia. Kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 57,8 persen pada 2018.

Dari data, UMKM Indonesia tampil sebagai tulang punggung perekonomian, bahkan mampu bertahan di tengah krisis ekonomi 1998 dan 2008. Sayangnya, UMKM pada tahun ini justru terpukul dampak pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan banyak negara dunia.

Apa yang dapat dilakukan agar UMKM dapat memasuki pasar internasional?

Kasan mengatakan Kementerian Perdagangan menyediakan platform InaExport untuk membantu pelaku usaha dalam melaksanakan kegaitan ekspor. Pada platform ini, pelaku UMKM yang terdaftar dapat mengakses berbagai layanan mulai dari katalog produk, informasi calon pembeli dan pelatihan.

Baca juga: Bertahan di Masa Pandemi, Akankah Industri Sawit Bisa Tersenyum di 2021?

Untuk dapat memaksimalkan akselerasi pada tahap ekspor, UMKM harus memanfaatkan ruang digitalisasi. Adanya pandemi Covid-19 yang membuat orang lebih banyak berada di rumah yang menyebabkan meningkatnya penggunaan internet menjadi pendorong transformasi ke digitalisasi.

Bank BRI juga memiliki agenda khusus untuk meningkatkan ekspor UMKM yaitu BRILianpreneur UMKM Export. Di sana, pelaku UMKM dipertemukan dengan calon pembeli dari berbagai negara. Mereka dilatih untuk melakukan branding dan pengemasan produk sesuai orientasi pasar tujuan ekspor.

Dan di bawah kendali M Lutfi sebagai Menteri Perdagangan yang baru, harapan UMKM untuk go international terbuka lebar dengan memastikan ketersediaan bahan baku.

“Dua per tiga atau 66,7 persen barang-barang impor Indonesia adalah bahan baku dan bahan penolong. Ini mesti bisa masuk ke Indonesia, inilah bahan yang kita ubah, kita jahit untuk produk ekspor.”

“Kita perlu memastikan ini dapat berjalan baik agar tidak terjadi ketidakefisienan dari barang tersebut,” kata M Lutfi seraya memastikan arus keluar-masuk barang perlu berjalan baik.

Mendag Muhammad Lutfi memberikan keterangan pers usai dilantik, Rabu (23/12/2020) , di Istana Negara, Jakarta. (Foto: Humas/Rahmat)
Mendag Muhammad Lutfi memberikan keterangan pers usai dilantik Presiden Jokowi, Rabu (23/12/2020) (Foto: Humas Setkab/Rahmat)

Peluang pasar

Salah satu cara yang dapat dimanfaatkan oleh UMKM Indonesia sekarang adalah pemanfaatan fasilitas Generalized System of Preference (GSP) dari AS. Ini fasilitas unilateral AS berupa pembebasan bea masuk kepada negara berkembang seperti Indonesia.

Sebagai Duta Besar Indonesia untuk AS, M Lutfi memiliki peran dalam proses negosiasi perpanjangan fasilitas GSP AS yang resmi diberikan negeri Paman Sam melalui United States Trade Representative (USTR) pada 30 Oktober 2020.

Sementara Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan fasilitas GSP peluang produk UMKM masuk ke pasar AS. Kementeriannya akan membantu fasilitasi dan sertifikasi, termasuk sertifikasi produk oleh FDA dan Departemen Pertanian AS.

Ada insentif untuk produk UKM yang masuk dalam skema GSP. Produk-produk itu antara lain:

  1. Produk kayu
  2. Perhiasan
  3. Mainan anak
  4. Wig dan bulu mata
  5. Furniture
  6. Alas kaki
  7. Hortikultura
  8. Kopi
  9. Teh
  10. Cokelat
  11. Rempah-rempah
  12. Sayur-sayuran organik

Selain AS, pelaku UMKM bisa melirik ke pasar Eropa. Kementerian Perdagangan sekarang berupaya menyelesaikan negosiasi perjanjian Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Jika ini berhasil, Indonesia bisa memperluas akses pasar ke Uni Eropa. Akan tetapi, UMKM perlu berbenah dan menyiapkan diri untuk menyesuaikan kualitas produknya dengan tren, selera, dan standar pasar Eropa.

Konsumen Eropa sangat mementingkan kelestarian lingkungan. Tren ini harus diadaptasi sebaik mungkin oleh pelaku UMKM, misalnya mengemas produknya dengan cara sederhana, praktis dan menerapkan prinsip lingkungan berkelanjutan dalam proses produksi dan komposisinya.

Finlandia merupakan salah satu negara dengan potensi pasar produk kopi Indonesia.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan Marolop Nainggolan mengatakan, potensi ekspor kopi Indonesia ke pasar Finlandia akan mencapai USD 17,6 juta pada 2024.

Sedangkan menurut data International Trade Center (ITC), ekspor kopi Indonesia ke Finlandia hanya senilai USD 764.000 pada periode 2015-2019. Ada celah besar sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan produsen kopi Indonesia.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet dikutip dari Republika mengatakan M Lutfi dapat mengambil peluang pasar di Pakistan yang potensial untuk meningkatkan perekonomian jangka panjang dan Brasil sebagai ekonomi terbesar di Amerika Selatan.

Ekspor produk UMKM tampaknya akan semakin bergeliat setelah diresmikannya pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat, 20 Desember 2020.

VOA Indonesia melaporkan Presiden Jokowi dalam acara soft launching itu mengingatkan jajaran menterinya supaya memanfaatkan pelabuhan Patimban untuk mendukung ekspor produk-produk UMKM.

Baca juga: Strategi Presiden Jokowi dan Airlangga Hartarto untuk Pulihkan Ekonomi di 2021