Good looking bisa diartikan sebagai seseorang yang berpenampilan kece dan sedap di mata. Penampilannya kekinian, punya aura dan tidak bosan jika terus dipandang dan disimak.

Orang good looking bisa memberi nilai tambah. Yang cowok disebut cowok ganteng, sementara cewek akan disebut si cangtip sehingga dilirik banyak orang dalam segala bidang.

Tipe good looking ini dimiliki kebanyakan artis, utamanya artis dari Korea yang jadi role untuk masyarakat Indonesia. Nama Korea bisa melejit di panggung internasional tidak lepas karena good looking artis mereka.

Blackpink
Girlband Korea Blackpink. (Foto: Instagram/blackpinkofficial)

Itu kabar bagus. Tetapi, lain di Korea, lain di Tanah Air. Berita baru-baru ini menunjukkan bahwa orang good looking ternyata mempunyai sisi lain yang berlawanan dengan good atau kabar bagus.

Pertama, orang good looking berpotensi memberikan pemahaman radikalisme. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Agama Fachrul Razi saat berbicara dalam webinar ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9/2020).

CNN Indonesia melaporkan, dalam webinar itu, Menag Fachrul Razi menjelaskan masuknya paham atau kelompok radikalisme ke masjid-masjid dilakukan dengan cara mengirimkan orang yang good looking.

“Pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk,” kata Fachrul Razi dikutip.

Radikalisme selama ini memang menjadi kekhawatiran bagi pemerintah dan masyarakat walaupun sebenarnya harus hati-hati mengaitkan radikalisme dengan kejahatan.

Dengan penampilan good looking itu, pengurus dan jemaah masjid, kata Fachrul Razi, perlahan-lahan akan mendapat simpati sampai-sampai mereka yang dicurigai radikal itu diangkat menjadi imam dan pengurus masjid.

Fachrul Razi mengaku pernah mendengarkan ceramah yang berisi pemahaman radikalisme saat Shalat Jumat di salah satu masjid kementerian. Dia pun meminta lembaga pemerintahan dan BUMN untuk waspada dan teliti.

Jika menyimak pernyataan Menag Fachrul Razi, menurut hemat penulis, ini cukup bias.

Bagaimana nasib orang-orang toleran dan damai yang selama ini juga good looking? Jangan sampai mereka yang toleran dicap sebagai kelompok radikalisme.

Contoh kedua, adalah jaksa Pinangki Sirna Malasari. Melihat foto-foto dirinya di Instagram, penampilannya sangat good looking. Wajah cangtip dilengkapi dengan barang-barang branded.

Jaksa Pinangki
Jaksa Pinangki. (Foto: MAKI via DetikNews)

Tetapi, good looking tidak selamanya membebaskan jaksa Pinangki dari kejahatan.

Ia sekarang terjerat kasus dugaan penerimaan suap dari Djoko Tjandra untuk mengurus fatwa di Mahkamah Agung (MA) untuk membebaskan Djoko Tjandra dari eksekusi Kejaksaan Agung atas kasus korupsi hak tagih Bank Bali.

Jaksa Pinangki diduga menerima suap sebesar USD500.000 atau setara Rp7 Miliar.

Good looking seketika sirna.

Apalagi ketika melihat dia menjalani pemeriksaan di gedung Kejaksaan Agung dengan rompi tahanan dan tangan diborgol pada Rabu (2/9/2020). Penampilannya saat keluar gedung Kejaksaan berbeda drastis dibanding masa-masa sebelum kasus ini mencuat.

Meski ada cap buruk untuk orang good looking, sebaiknya disikapi bijaksana.

Jangan sampai ini menimbulkan sikap anti atau menjadikannya stereotip berlebihan seperti stereotip terhadap cowok ganteng berkacamata yang dianggap berpotensi sebagai predator seksual. Itu hanya karena para pelaku kebetulan adalah orang yang memakai kaca mata.

Good looking masih diperlukan untuk menciptakan kesan baik dan positif, semisal untuk wawancara kerja atau presentasi di depan calon mertua atau saat kencan pertama. Demikian dilaporkan.