Aktor Aldi Taher dipastikan gagal maju sebagai Calon Wakil Gubernur Sulawesi Tengah yang akan berlangsung serentak pada 9 Desember 2020. Tidak ada partai pengusung dirinya.

Laporan DetikNews, sejak masa pendaftaran pasangan calon (paslon) Pilgub Sulteng ditutup kemarin, Minggu (6/9/2020), hanya ada dua paslon yang maju, yaitu Rusdi Mastura-Ma’mun Amir dan Hidayat Lamakarate-Bartholomeus Tandigala.

Dari kegagalan ini, Aldi Taher harus melakukan evaluasi besar. Strategi membuat konten unik ternyata tidak ampuh untuk meyakinkan partai untuk mengusung dirinya.

 

Cuplikan video Aldi Taher mengaji. (Instagram/alditaher.official)

Aldi Taher sebelumnya mendeklarasikan diri sebagai calon Wakil Gubernur Sulawesi Tengah mendampingi Rusli Daeng Pallabi.

Sejak deklarasi itu, dia beberapa kali muncul dengan konten mengaji di Instagram, lengkap dengan atribut Partai Golkar dan PKS. Tetapi, pesan yang disajikannya dikemas dengan cara tidak biasa.

Pertama, Aldi Taher sebenarnya masih berkapasitas sebagai bakal calon Wakil Gubernur Sulawesi Tengah. Dia baru akan menjadi calon setelah KPU menetapkan nama-nama paslon yang akan bertarung. Tetapi dia sudah mengklaim sebagai calon Wagub Sulteng.

Kebingungan lainnya adalah muatan konten unggahannya.

Misalnya, di salah satu video, ia menyertakan banyak logo partai politik dalam satu frame video. Ada logo PKS, Golkar, PDIP, Nasdem, sampai logo PBB pun muncul dalam videonya. Tidak lupa juga, dia memasukkan juga logo RANS Entertainment dan Geprek Bensu.

Di video selanjutnya, dia memasukkan pula logo brand jam tangan Rolex, perusahaan otomotif Mercedes sampai brand produk olahraga Nike dan brand-brand besar lainnya.

Aldi Taher mengaji
Cuplikan video Aldi Taher mengaji. (Instagram/alditaher.official)

Warganet yang menyaksikannya tentu berpikir, wah Aldi Taher mendapat endorse besar. Tetapi, benarkah demikian? Netizen pun dibuat terkecoh sehingga menimbulkan banyak prasangka dan pertanyaan.

Selagi kebenaran itu masih abu-abu, ada dua kemungkinan dia melakukan hal tersebut.

Pertama, dia ingin menunjukkan bahwa dia didukung oleh organisasi dan korporasi besar dunia.

Kedua, dia ingin menunjukkan sisi religius sehingga lengkaplah persiapannya untuk maju di Pilgub Sulteng.

Tetapi, sejauh penelusuran, nama Aldi Taher tidak pernah ditemukan dalam kegiatan PBB. Lalu, apa tujuan Aldi Taher memasang logo PBB dalam video dirinya?

Begitu pun dengan klaim tentang dukungan brand besar dunia. Intinya, Aldi Taher harus menjelaskan maksud munculnya brand besar di videonya sebagai bentuk transparansi dirinya.

Kehebohan lainnya adalah di salah satu videonya, dia diduga kuat merekayasa suara pesohor Raffi Ahmad yang seolah memberikan dukungan kepadanya sebagai calon Wakil Gubernur Sulteng.

Dari penjelasan di atas, persoalan integritas politiknya patut dipertanyakan. Sangat riskan memilih dia sebagai pemimpin.

Di urusan politik meragukan, begitu pun di urusan mengaji. Warganet mengkritik Aldi Taher yang belum lancar membacakan ayat Al-Quran sehingga menyarankan dia untuk tidak mengunggah video mengaji di media sosial.

Aldi Taher mengaji
Cuplikan video Aldi Taher mengaji. (Instagram/alditaher.official)

Aldi Taher lantas menanggapi komentar tersebut, katanya, “Terus ga boleh nih? Dosa? Atau ganti posting sultan2an?” sambil menyertakan tagar #BISMILLAH_yuk_rekam_posting_juga_belajar_baca_alquran_barakallah_talk_more_do_more.

Bila membaca tagarnya, alasan Aldi Taher memang masuk akal. Dia sedang belajar membaca Al-Quran, tentu salah merupakan hal yang wajar.

Akan tetapi, pada dasarnya, komunikasi politik merupakan bagian penting yang tidak boleh diacuhkannya. Dia seharusnya menampung aspirasi publik atau netizen. Bukan mempertentangkannya. Inilah kekeliruan kedua Aldi Taher setelah tadi mempunyai masalah integritas.

Hal terakhir adalah kapasitas. Jika ditanya track recordnya sebagai pemimpin daerah atau lembaga, maka Aldi Taher tidak mengantongi rekam jejak tersebut.

Hanya saja, Aldi Taher cukup cerdas untuk mengatasi bullying netizen. Dia bisa berkilah dengan konten mengaji. Siapa sih yang berani mengkritisi orang yang sedang belajar mengaji?

Teringat ucapan Winston Churchill, PM Inggris era Perang Dunia II, pernah berkata bahwa a joke is a serious things. Bagaimanapun juga, munculnya kelucuan politik di demokrasi Indonesia merupakan reaksi atas absennya ideologi partai politik di Indonesia dan berkaratnya sistem politik di Indonesia. Demi suara, apapun akan dilakukan.