Secercah harapan, itulah ucapan yang terungkap dari ekonom INDEF Faisal Basri kepada Budi Gunadi Sadikin yang terpilih sebagai Menteri Kesehatan Indonesia menggantikan dr Terawan pada 22 Desember 2020.

Optimisme Faisal Basri berbeda dari kebanyakan pandangan umum masyarakat yang skeptis memandang sepak terjang dan pengalaman Budi Sadikin. Dia bukan dari dunia kesehatan dan epidemiologi. Padahal, kriteria itu diperlukan dalam menangani pandemi Covid-19.

Budi Sadikin selama ini dikenal sebagai profesional di bidang keuangan. Kuliahnya mengambil bidang Fisika Nuklir ITB. Gelar lainnya adalah sertifikasi Chartered Financial Consultant (CHFC) dan Chartered Life Underwriter (CLU) dari Singapore Insurance Institute (2004).

Baca juga: Strategi Presiden Jokowi dan Airlangga Hartarto untuk Pulihkan Ekonomi di 2021

Kiprah Budi Sadikin sebagai manajerial menanjak di dunia perbankan, pernah menduduki posisi puncak sebagai Dirut PT Bank Mandiri Tbk pada 2013-2016. Sebelum terpilih, ia dipercaya sebagai Wakil Menteri BUMN mendampingi mendampingi Erick Thohir.

Budi ikut terjun dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19 yang secara bersamaan memukul sektor kesehatan publik dan perekonomian Indonesia yang tumbuh minus 5,32 persen (yoy) di triwulan II dan minus 3,49 persen (yoy) di triwulan III 2020.

Dalam urusan pandemi Covid-19, ia menjabat Ketua Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional (PEN), satuan yang dibentuk berdampingan dengan Satgas Penanganan Covid-19.

Latar belakang yang bertolak belakang dengan kesehatan bukan masalah besar selama dia mau mendengar dan menampung pendapat ahli yang mumpuni. Faisal Basri menangkap karakter pembelajar dan pemikir itu ada pada Budi Sadikin.

Untuk mendukung tugasnya di Kementerian Kesehatan, Budi Sadikin didampingi dr Dante Saksono Harbuwono sebagai Wakil Menteri Kesehatan.

“Dia sigap, orang pembelajar. Dengan dibantu ahli mumpuni, Insyaallah, kita memiliki map yang jelas untuk mengatasi virus ini,” kata Faisal Basri dalam konferensi pers virtual INDEF, 23 Desember 2020.

 

Ada apa dengan penanganan pandemi Covid-19 selama ini?

Selama di bawah Menteri Kesehatan lama, dr Terawan, kasus Covid-19 terus mengalami kenaikan. Kritik publik mengalir kepadanya karena jarang memberi keterangan ke hadapan publik, sampai pada momentum wawancara kursi kosong Najwa Shihab yang menyimbolkan ketidakhadiran dr Terawan dalam menanggapi isu pandemi Covid-19.

Seminggu sebelum Presiden Jokowi mengumumkan nama menteri baru, gonjang-ganjing soal penggantian dr Terawan santer berembus di media massa.

Presiden Jokowi memang tidak memberikan keterangan ihwal penggantian dr Terawan, namun buruknya penanganan pandemi Covid-19 menjadi isu yang mengitari proses penggantiannya.

Per 23 Desember 2020, jumlah kasus terpapar Covid-19 telah mencapai 685.639 konfirmasi dengan 20.408 meninggal, dan 558.703 sembuh, menurut data yang dikutip dari Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Grafik kasus aktif Covid-19
Grafik kenaikan kasus aktif Covid-19 di Indonesia. Infografis Worldometers.info

Keunggulan Budi Sadikin untuk menangani pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 yang melanda hampir semua Kabupaten/Kota di Indonesia adalah masalah serius bagi pemerintahan Jokowi. Vaksinasi ditunggu untuk memandang optimisme di 2021. Diam-diam, Budi Sadikin juga memikirkan hal tersebut.

Faisal Basri mengaku sempat bertemu Budi Sadikin beberapa hari sebelum pelantikannya. Perbincangan dua orang yang berkutat di perekonomian ini menyenggol pula tentang pelaksanaan vaksinasi.

“Saya bertemu Budi Sadikin hari Jumat, dia telah mengkoordinasikan Asosiasi Rumah Sakit dan Asosiasi Klinik dan hitung-hitungan dia, vaksinasi 6 bulan selesai. Itu menurut saya optimis,” kata Faisal Basri.

Baca juga: Bertahan di Masa Pandemi, Akankah Industri Sawit Bisa Tersenyum di 2021?

Menurut Faisal, pemulihan ekonomi bisa berjalan efektif selama pandemi Covid-19 tertangani baik dengan proyeksi ekonomi Indonesia dapat tumbuh positif di kuartal-II 2021.

Demikian juga para pejabat negeri ini mengutarakan pendapat serupa, pentingnya penurunan kasus Covid-19 sebagai prasyarat untuk pemulihan ekonomi nasional.

Namun, sulit memperkirakan kapan pandemi Covid-19 selesai di tengah ketidakpastian, termasuk menetapkan kapan program vaksinasi dilaksanakan.

Keyakinan itu terus dibangun. Presiden Joko Widodo saat berbicara dalam acara Outlook Perekonomian 2021, 22 Desember 2020, mengatakan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 diharapkan berlangsung pada awal tahun mendatang.

Budi Sadikin
Budi Gunadi Sadikin (Foto: Dok.KPCPEN)

Sebagian dosis vaksin Sinovac dari China sudah masuk ke Indonesia, tinggal menunggu izin dari BPOM untuk memulai pelaksanaannya.

Tetapi, perlu diketahui bahwa kemanjuran vaksin Sinovac masih harus diamati. Memang kabar terbaru menyebutkan klaim peneliti Brasil terhadap kemanjuran vaksin Covid-19 lebih dari 50 persen, namun pihak Sinovac belum memberikan tanggapan terkait itu, laporan Medcom.id.

Jangan pula terlena dengan menganggap vaksinasi adalah jalan utama. Itu penting, namun Faisal Basri menganggap hal utama yang tetap perlu dilakukan adalah peningakatan tracing dan testing, serta menjaga fasilitas kesehatan publik tetap baik.

“Pak Budi sebagai Ketua Satgas mengatakan sulit mendapatkan hasil baik sepanjang pandemi tidak dikendalikan baik. Bertolak dari sini, saya punya optimis, saya menulis di blog hari ini, dan saya tahu sekali Pak Budi orang yang berpikir dan berbicara dengan ahli epidemiologi,” katanya.

Ingat pula tenaga kesehatan merupakan garda terdepan, jika mereka kewalahan maka jalan pemulihan akan sangat panjang.

Kompas.com melaporkan, 23 Desember 2020, kapasitas rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta nyaris penuh seiring peningkatan kasus penularan. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DKI Jakarta Slamet Budiarto mengatakan, meski ketersediaan dokter mencukupi, penanganan pasien bisa sulit karena ketiadaan tempat perawatan.

Penanganan pandemi Covid-19 harus diutamakan. Budi Sadikin, kata Faisal, harus menjadi komandan dalam penanganan pandemi Covid-19, tidak boleh diintervensi kepentingan dari pejabat lainnya.

“Menteri lain jangan ngerecokin, kan ada menteri yang recokin dengan kasih diskon pariwisata, penghapusan airport tax, itu kan kacau.”

“Jadikan Budi Sadikin Komandan. Go to hell dengan Airlangga Hartarto [Menko Perekonomian] yang berbicara ekonomi melulu, tunjuk panglima perang [melawan Covid-19] Pak Budi.”

“Itu yang saya harapkan sehingga muncul confident [kepercayaan] pelaku usaha dan masyarakat. Map-nya jelas, berbelanja bisa lagi, rencana investasi terealisasi,” kata Faisal Basri seraya meminta Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk juga tidak mencampuri penanganan pandemi Covid-19 dari Budi Sadikin.

Budi Sadikin masih perlu adaptasi

Walau asa diarahkan kepada Budi Sadikin, sepak terjang dan pengalamannya tetap menjadi ukuran serius dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Ketua DPP PKS sekaligus dokter, Gamal Albinsaid mengungkapkan latar pengetahuan kesehatan merupakan modal penting. Meski Menteri Kesehatan di negara maju seperti Australia, Jepang dan Amerika Serikat, bukan berlatar dari bidang kesehatan, situasi itu berbeda dari Indonesia.

Background pengetahuan itu menjadi penting, tetapi perspektif berikutnya saya memahami secara logika karena di beberapa negara maju mereka mulai memisahkan.”

“Tetapi konteksnya pemerintah harus menjelaskan kenapa memilih beliau dan kenapa bukan memilih seorang tenaga kesehatan, yang itu memang memahami problem,” kata Gamal dikutip dari DetikNews.

Dalam masa-masa awal tahun 2021, Budi mungkin akan menghabiskan banyak waktu untuk beradaptasi dengan sistem dan budaya kerja di Kementerian Kesehatan, sekaligus menenteng tugas berat reformasi sistem pelayanan kesehatan selama pandemi Covid-19.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Zubairi Djoerban tidak mempersoalkan latar profesi Budi Sadikin untuk bisa memimpin Kementerian Kesehatan.

“Mau latar belakangnya itu fisika nuklir, kesmas, dokter, epidemiolog atau apa, asal kemampuan manajerialnya bagus dan tahu persis persoalan di lapangan, ya tidak masalah. Apakah saya kecewa menkes saat ini bukan dari kalangan dokter? Saya sama sekali tidak kecewa,” katanya melalui akun Twitter, 22 Desember 2020.