Platform Twitter memperbarui tampilan lini masa jaringannya dengan fitur terbaru bernama Fleets. Di Indonesia, pengguna mulai menggunakannya pada 19 November 2020.Β  Foto, teks, atau cuitan akan ditayangkan dalam satu tempat dan terhapus otomatis dalam kurun waktu 24 jam.

Singkatnya, Fleets sama seperti konsep story yang ditemukan di platform lain seperti Instagram, WhatsApp, TikTok, Snapchat, Facebook, LinkedIn, dan YouTube. Namun, kehadiran Fleets sebenarnya terlambat dari platform lain. Instagram misalnya menyajikan Instagram stories di jaringan mereka pada 2016 lalu.

Cuplikan demo Fleets Twitter. (Foto: Twitter/TwitterID)

 

Sebelum resmi diluncurkan, Twitter telah lebih dahulu melaksanakan uji cobanya secara terbatas pada Mei 2020 lalu. Uji coba berlangsung di Brazil, India, Korea Selatan dan Italia.

Namun, di hari pertama peluncuran Fleets di Indonesia, reaksi yang ditunjukkan netizen cukup beragam. Fleets pun sempat menduduki trending topic. Sebagian pengguna menyampaikan keberatan mereka dengan kehadiran Fleet karena konsepnya yang menyerupai fitur story di banyak platform media sosial lainnya.

Ada anggapan bahwa Twitter merupakan tempat khusus bagi pengguna untuk menceritakan keluh kesah mereka, hal yang tidak mungkin dilakukan di Instagram. Sementara pengguna dengan akun @iqbalfd mengaku sudah nyaman dengan tombol Retweet tanpa perlu fleet. “Kami nyaman karena kamu beda.”

“Fitur ini tdk terlalu dibutuhkan πŸ™‚ Mendingan kasih fitur edit post kek ato ngga unsend message πŸ™‚ jgn mlh kek gini, jgn sampe nanti ada filter juga, klo beneran ada gw gatau lagi deh mo main apa :)” tulis pengguna lainnya @pajaaarrrr.

Namun, managemen Twitter sendiri telah menegaskan bahwa kehadiran Fleets ditujukan untuk memberikan kenyamanan para penggunanya. Melalui Blog Twitter, Direktur Design Joshua Harris dan Product Manager Sam Haveson menuliskan bahwa ada orang yang merasa tidak nyaman untuk mengunggah cuitannya secara publik atau bersifat permanen.

“Hasil uji coba di Brazil, Italia, India, dan Korea Selatan menunjukkan bahwa Fleets membuat pengguna di Twitter merasa lebih nyaman untuk berpartisipasi dalam sebuah percakapan,” tulis Twitter di blognya.

Mereka juga mengklaim bahwa Fleets yang membuat konten hanya bertahan selama sehari telah membantu banyak pengguna merasa lebih nyaman untuk membagikan pemikiran santai dan pribadi, pendapat, serta perasaan mereka.

Fleets salinan dari fitur media sosial lain?

Namun, kritik yang terus mengalir tidak semata menyangkut tentang kenyamanan pengguna. Scott Nover, reporter media sosial di Adweek dalam tulisannya menganggap Fleet sebagai inovasi yang lebih tepat dikatakan sebagi salinan karena menyerupai cuplikan Snapchat.

Ia sendiri memandang Twitter masih menunggu dan melihat bagaimana pengguna melakukan adaptasi hingga nyaman dengan Fleets sebelum memonetisasinya.

Tetapi, jikapun pengguna Twitter merasa kecewa dengan kehadiran Fleet, tampaknya mereka perlu berpikir rasional bahwa korporasi membutuhkan keuntungan besar ketimbang mempertahankan kondisi yang ada.

Scott Nover mengutip data yang dipublis eMarketer menyebutkan bahwa format story di Instagram berhasil meraup audiens lebih dari 4 dari 10 pengguna AS di bulan Maret. Angka pengiklan juga mengalami peningkatan dalam memanfaatkan fitur story.

Fitur story menjadi begitu penting bagi influencer marketing. Sebuah firma pemasaran Linqia menyebut 83% pengiklan di AS yang disurvey mengungkapkan telah berencana menggunakan Instagram Stories untuk pemasaran influencer pada tahun 2020. Pada 2019, Interactive Advertising Bureau menemukan 51% pengiklan telah memanfaatkan fitur story, naik 42% dari tahun sebelumnya.

Twitter dan platform lainnya terus berinovasi meskipun fitur story bukan sesuatu yang baru di antara mereka.

Tetapi, melihat fenomena bahwa hampir semua media sosial memiliki fitur story, tepatkah mereka disebut hanya meniru atau menyalin?

Pendiri Instagram Kevin Systrom memberi penjelasan yang cukup gamblang mengenai urusan salin-menyalin fitur. Instagram mengadopsi fitur story yang menyerupai Snapchat pada 2016 lalu. Menanggapi tudingan meniru Snapchat, Systrom mengatakan bahwa menyalin bukan sesuatu yang baru atau unik dalam menjalankan jaringan.

Dia menyamakan fitur story sebagai sesuatu yang umum, umpamanya seperti industri otomotif di mana beberapa perusahaan mobil hidup berdampingan dengan beberapa perbedaan di antara mereka.

“Seseorang menemukan mobil, ini sangat keren, tetapi apakah kamu menyalahkan perusahaan lain yang juga membuat mobil dengan roda, kemudi, AC, dan jendela? Pertanyaannya adalah, hal unik apa yang kamu ciptakan di situ?” kata Systrom mengutip Vox.com.

Baginya, apa yang terjadi di media sosial bukan tentang siapa yang menemukan sesuatu, melainkan tentang sebuah format dan bagaimana penyedia membawa dan menjalankan di jaringannya.

“Gmail bukanlah email pertama. Google Maps bukan peta pertama. IPhone bukan ponsel pertama. Pertanyaannya adalah apa yang kamu lakukan dengan format itu? Apa yang kamu lakukan dengan ide itu? Apakah kamu membangunnya? Apakah kamu menambahkan hal-hal baru? Apakah kamu mencoba membawanya ke arah yang baru?” katanya.