Semenjak pandemi COVID-19 akhir tahun 2019 dimulai, tidak ada satupun negara yang mampu bisa menyelesaikan masalah ini. Bahkan negara sebesar China tetap mendapatkan bantuan dari negara-negara lain saat gelombang awal penyebaran COVID-19 terjadi. Pada pernyataan awal, hanya kerja sama yang dapat mengakhiri pandemi.

Akan tetapi, keyakinan ini tidak selamanya mampu berjalan dengan baik. Negara-negara merasa memiliki caranya masing-masing dalam menanggulangi pandemi. Lalu apa yang terjadi? kita bisa melihat bagaimana negara-negara seperti Jerman, Selandia Baru, Vietnam, hingga Korea Selatan berhasil meminimalisir dampak penyebaran dan korban jiwa. Akan tetapi, kita bisa melihat contoh buruk kurang berhasilnya negara dalam menanggulangi pandemi seperti apa yang terjadi di Amerika Serikat, Brazil, Indonesia, hingga Filipina.

Setiap negara memang memiliki karakteristik masing-masing. Perbedaan ini memang sulit digeneralisir saat kita menentukan indikator sebuah keberhasilan. Akan tetapi, negara-negara yang berhasil memiliki kerangka kerja yang jelas, yaitu meminimalisir pergerakan massa secara disiplin, mengutamakan kesehatan masyarakat luas dibandingkan faktor ekonomi, hingga kepemimpinan yang percaya terhadap dokter dan peneliti dibandingkan percaya terhadap politisi maupun influencer non-kesehatan

Namun masalah kegagalan dan keberhasilan sesungguhnya akan ditentukan dari sistem penyebaran vaksin yang berjalan nantinya. Upaya negara-negara di dunia dalam memproduksi vaksin seperti akan membuahkan hasil. Dilansir dari kompas.com, Rusia menjadi salah satu negara yang siap menerima pesanan satu miliar dosis vaksin COVID-19 untuk 20 negara. Selain Rusia, China melalui perusahaan farmasinya, China National Biotec Group (CNBG) Sinopharm telah melakukan uji klinis fase ketiga di beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Argentina.

Namun dalam peningkatan faktor-faktor state sentris beberapa tahun belakangan ini, visi kerjasama global nampaknya tidak akan semudah yang dibayangkan. Kemenangan kelompok sayap kanan di berbagai negara dapat menyimpulkan suatu kondisi, yaitu negara lebih memilih untuk berorientasi pada pemenuhan kebutuhan populasinya dibandingkan berkontribusi dalam penyebaran vaksin, terutama untuk negara-negara kecil yang rentan.

Menurut Thomas Bollku dan Chad Brown dari tulisannya di dalam foreign affairs, tanpa komitmen internasional yang mampu membangun sistem distribusi vaksin secara global dengan cara yang adil dan rasional, para pemimpin malah akan memprioritaskan perawatan populasi mereka sendiri. Tindakan ini dianggap rasional daripada memperlambat penyebaran COVID-19 di tempat lain atau membantu melindungi pekerja perawatan kesehatan penting dan populasi yang sangat rentan di negara lain.

Nasionalisme sempit dalam masa pandemi tidak lagi berbicara soal kedaulatan maupun utopia harga diri bangsa yang menyengsarakan masyarakatnya. Lebih dari itu, nasionalisme sempit akan berakhir pada upaya negara untuk menahan penyebaran vaksin COVID-19, atau menjualnya dengan harga mahal tanpa memperhatikan aspek kemanusiaan di dalamnya.

Negara kaya akan selalu diuntungkan dalam proses ini. Mereka akan menguasai sistem produksi, distribusi hingga konsumsi. Sedangkan negara menengah ke bawah, mereka hanya akan menjadi objek politik balas budi negara maju. Makan siang tidak pernah gratis, begitupun bagaimana upaya penerimaan vaksin selalu akan berakhir dengan harga yang yang harus dibayar atas kebaikan negara maju.

Padahal, dampak keterlambatan penyebaran vaksin sangatlah nyata. Negara akan semakin kesulitan karena virus yang semakin menyebar, peningkatan angka kematian, hingga sistem kesehatan yang diprediksi akan ambruk.

Lalu apa yang akan dilakukan negara menengah ke bawah untuk mendapatkan vaksin secara cepat? Mereka akan membuktikan pengaruhnya. Salah satu yang berpotensi dilakukan adalah memblokir ekspor bahan baku alat kesehatan dan vaksin. Selain itu, pemimpin yang memiliki pemikiran jangka pendek akan meneken keputusan yang berdampak buruk bagi kondisi ekonomi dan politik negaranya, kondisi ini tentu sangatlah berbahaya.

Dalam dunia yang serba ketergantungan, rantai ekonomi akan membutuhkan semua negara. Sederhananya, negara miskin tetaplah dibutuhkan karena ia memasok bahan baku. Akan tetapi apabila sistem ketergantungan ini rusak di salah satu bagiannya, maka rantai suplai ekonomi global akan berjalan pincang. Hal ini tentu akan memperparah kondisi ekonomi global di masa pandemi.

Akibatnya menurut Bollku dan Chad, bukan hanya kesulitan ekonomi dan kemanusiaan, tetapi juga kebencian terhadap negara-negara penimbun vaksin, yang akan membahayakan jenis kerja sama internasional yang akan diperlukan untuk mengatasi wabah di masa depan.

Oleh karena itu, upaya terpenting adalah menghadirkan negara dan pemimpin politik yang mampu mengubah kondisi. Negara dan kepemimpinan global diharapkan mampu menciptakan lingkungan perdagangan vaksin yang adil.

Sekali lagi, silahkan yakinkan dalam diri anda, bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan pandemi adalah kerjasama global, tidak ada hal lain. Kita tidak bisa menggantungkan kepercayaan terhadap upaya mandiri negara, apalagi di negara yang gagal dalam menyelamatkan masyarakatnya dari pandemi.